KOTA TANGERANG, LENSABANTEN.CO.ID — Pernah nggak sih kalian bertemu dengan orang yang kelihatannya hidupnya itu bahagia banget, dipuji banyak orang, tapi ternyata sebenarnya dia merasa capek dan kesepian? Atau dia sangat spesial dimata orang-orang, akan tetapi dia tidak bebas atas dirinya sendiri? Hal seperti itu bisa kita rasakan saat kita membaca buku novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari.
Awalnya mungkin novel ini hanya menceritakan tentang kisah seorang ronggeng dari desa kecil.
Ternyata ceritanya jauh lebih dalam dari itu, Ahmad Tohari seperti ingin menunjukan kalau tradisi, lingkungan, bahkan keadaan hidup itu bisa pelan-pelan bikin seseorang kehilangan dirinya sendiri.
Dukuh paruh sendiri digambarkan sebagai desa yang sangat terpencil yang miskin. Warganya banyak yang tidak berpendidikan, dan hidup sederhana. Disana banyak menganut kepercayaan roh-roh nenek moyang.
Di Desa tersebut ronggeng tidak dianggap sebagai penari biasa, tetapi juga menjadi kebanggan desa, symbol kehidupan, bahkan dianggap bisa membawa semangat buat masyarakat dukuh paruk.
Sejak kecil Srintil sudah ditinggal oleh kedua orang tuanya karena meninggal setelah keracunan tempe bongkrek, dan membuat banyak warga desa yang keracunan juga.
Srintil pun diasuh oleh kakek dan neneknya. Dan hidupnya berubah Ketika warga Dukuh Paruk Percaya bahwa Srintil kemasukan roh indang, artinya itu merupakan bakat alami dirinya agar bisa menjadi ronggeng.
Awalnya semua itu terlihat menyenangkan, Srintil dipuji banyak orang, dihormati, dan ia menjadi harapan baru untuk Dukuh Paruk.
Akan tetapi, semakin lama semua itu membuat Srintil tidak memiliki kebebasan atas dirinya sendiri, hidupnya diatur oleh orang lain dan dia harus menerimanya.
Menjadi ronggeng harus menjalani ritual-ritual yang banyak, salah satunya ialah ritual bukak klambu, dimana ritual ini menjadi puncaknya disaat seseorang akan dijadikan sebagai ronggeng.
Srintil tidak ingin menjalani ritual tersebut dimana ia harus mengorbankan keperawanannya untuk di sayembara oleh laki-laki yang memenangkannya.
Sebenarnya srintil hanya ingin hidup normal dan dicintai dengan tulus. Ia merasa hal tersebut Ketika ia jatuh cinta kepada Rasus, sahabatnya.
Namun, keadaan yang membuat hubungan mereka tidak berjalan dengan baik. Rasus akhirnya meninggalkan Dukuh Paruk dan Srintil tetap terjebak dalam kehidupannya yang membuat batinnya merasa capek.
Masalah Srintil bertambah ketika keadaan politik mulai masuk ke Dukuh Paruk. Warga desa yang terbelakang dan tidak berpendidikan itu tidak mengerti banyak hal dan akhirnya terseret dalam situasi berbahaya pada tahun 1965.
Srintil pun menjadi korban, ia dipenjara dan semakin terluka batinnya.
Setelah dibebaskan, Srintil mencoba bangkit dan mengembalikan jati dirinya, walaupun sebelumnya ia sempat menjadi tidak waras.
Ia dibantu oleh Rasus yang kembali ke desa Dukuh Paruk tersebut, dengan harapan dapat menyelamatkan Srintil dan membantunya keluar dari masa lalu kelam tersebut.
Pada akhirnya, Ronggeng Dukuh Paruk bukan hanya menceritakan tentang ronggeng desa, tetapi ia juga bercerita tentang kehilangan kebebasan, cinta yang tidak berjalan mulus, dan seseorang yang kehilangan dirinya sendiri demi memenuhi harapan banyak orang.
Walau ia dipuja-puja oleh masyarakat Srintil tetaplah perempuan yang kesepian.
Ditulis oleh : Nazwa Aulia (Mahasiswa aktif prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)










