KOTA TANGERANG, LENSABANTEN. CO.ID — Wisata belanja di Kota Tangerang masih menjadi salah satu magnet aktivitas ekonomi, meski sejumlah pusat perbelanjaan kini tampak sepi pengunjung.
Kondisi ini dinilai tidak terlepas dari perubahan pola konsumsi masyarakat, melemahnya daya beli, serta masifnya pertumbuhan marketplace digital yang perlahan menggeser transaksi dari pasar offline ke online, sehingga menuntut pusat perbelanjaan untuk beradaptasi di tengah dinamika ekonomi kota.
Anggota Komisi II DPRD Kota Tangerang, Yeni Kusumaningrum S.E., menilai kondisi tersebut tidak lepas dari perubahan struktur ekonomi dan pola konsumsi masyarakat yang terus bergerak dinamis.
Menurut Yeni, Kota Tangerang memiliki sejarah panjang sebagai kawasan industri yang sempat dikenal dengan julukan Kota Sejuta Pabrik. Namun seiring berjalannya waktu, wajah ekonomi kota mengalami pergeseran signifikan menuju sektor jasa, salah satunya ditandai dengan pesatnya pembangunan pusat perbelanjaan di berbagai wilayah.
“Dulu Kota Tangerang dikenal sebagai kota industri, kemudian berkembang menjadi kota jasa. Bahkan sempat muncul julukan Kota Sejuta Mal karena pembangunan mal yang cukup merata di berbagai titik,” ujar Yeni, Rabu, 11 Februari 2026.
Namun dalam perkembangannya, tidak semua pusat perbelanjaan mampu bertahan dengan tingkat kunjungan yang stabil. Yeni menilai, sepinya sejumlah mal disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah menurunnya daya beli masyarakat akibat keterbatasan lapangan pekerjaan yang semakin sulit diakses.
“Ketika daya beli masyarakat menurun, otomatis aktivitas belanja juga ikut terdampak. Ini menjadi tantangan serius bagi sektor ritel dan pusat perbelanjaan,” katanya.
Selain itu, kehadiran digital marketplace juga dinilai memberi pengaruh besar terhadap menurunnya kunjungan ke mal. Perdagangan daring dengan harga yang sangat kompetitif perlahan menggeser pasar offline, sehingga mengubah kebiasaan belanja masyarakat.
“Marketplace digital menawarkan kemudahan dan harga yang bersaing. Ini membuat pasar offline harus beradaptasi lebih cepat agar tetap relevan,” ujar Yeni.
Ke depan, Yeni berharap pemerintah pusat dapat menghadirkan regulasi yang lebih berimbang untuk menjaga ekosistem perdagangan, baik online maupun offline. Menurutnya, pengaturan yang adil diperlukan agar para pelaku usaha konvensional tetap terlindungi dan mampu bertahan di tengah arus digitalisasi.
“Harapannya ada regulasi yang bisa menjaga keseimbangan antara pemasaran online dan offline, sehingga pelaku usaha tetap bisa survive dan ekonomi daerah tetap bergerak,” pungkasnya.










