LENSABANTEN.CO.ID – Amerika Serikat melancarkan serangan udara ke tiga fasilitas nuklir Iran yang terletak di Fordo, Natanz, dan Esfahan, pada Minggu, 22 Juni 2025. Serangan ini dilakukan sebagai bagian dari operasi militer besar-besaran yang diklaim untuk menghentikan pengembangan nuklir Iran. Presiden AS Donald Trump langsung mengonfirmasi aksi ini.
“Terima kasih, beberapa saat lalu militer AS melakukan serangan presisi besar-besaran ke tiga titik utama fasilitas nuklir Iran: Fordo, Natanz, dan Esfahan. Tujuan kami adalah menghancurkan pengembangan nuklir Iran,” ujar Trump, dikutip dari The New York Times.
Trump juga menyampaikan apresiasinya kepada Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, atas kerja sama yang terjalin erat.
“Saya ingin mengucapkan terima kasih dan memberi selamat kepada Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Kami bekerja sebagai tim yang mungkin belum pernah dilakukan tim mana pun sebelumnya, dan kami telah berupaya keras untuk menghapus ancaman mengerikan ini terhadap Israel,” kata Trump.
Israel Sambut Serangan AS
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyambut baik langkah AS, menyebutnya sebagai keputusan berani yang akan membawa perubahan besar. Ia juga menekankan bahwa dalam serangan ini, kekuatan militer AS menunjukkan keunggulan luar biasa.
“Selamat, Presiden Trump. Keputusan berani Anda untuk menyerang fasilitas nuklir Iran dengan kekuatan Amerika Serikat yang dahsyat dan benar akan mengubah sejarah,” ucap Netanyahu.
“Amerika benar-benar tak tertandingi. Itu (Amerika) telah melakukan hal yang tidak bisa dilakukan oleh negara lain di Dunia,” tegasnya, dikutip dari Reuters.
Iran Kecam, Siap Balas
Iran mengutuk keras serangan tersebut. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut bahwa negaranya memiliki hak penuh untuk membela diri sesuai dengan Piagam PBB. Ia juga menuduh AS menghianati diplomasi dan bertindak melanggar hukum internasional.
“Iran berhak untuk mempertahankan kedaulatan mereka. Iran memiliki semua pilihan untuk mempertahankan kedaulatan, kepentingan, dan rakyatnya,” ujarnya.
“Pemerintah Paman Sam memikul tanggung jawab penuh atas konsekuensi serius dan dampak buruk dari kejahatan keji ini,” tambah Abbas.
Kecaman Internasional Muncul
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyuarakan keprihatinan atas meningkatnya eskalasi dan meminta seluruh pihak menahan diri. Ia menegaskan bahwa diplomasi harus diutamakan.
“Tidak ada solusi militer. Satu-satunya jalan ke depan adalah diplomasi.”
“Saya sangat khawatir dengan penggunaan kekuatan oleh Amerika Serikat terhadap Iran hari ini. Ini adalah eskalasi yang berbahaya di kawasan yang sudah berada di ujung tanduk dan ancaman langsung terhadap perdamaian dan keamanan internasional,” kata Guterres.
Negara-negara Amerika Latin seperti Kuba, Venezuela, dan Kolombia juga mengecam keras serangan tersebut. Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel menilai aksi AS dapat memperluas konflik Timur Tengah.
“Kami mengutuk keras pemboman AS terhadap fasilitas nuklir Iran, yang merupakan eskalasi berbahaya dari konflik di Timur Tengah,” tulisnya di X.
Kelompok Hamas juga mengecam serangan itu sebagai pelanggaran hukum internasional dan berjanji akan menuntut pertanggungjawaban AS dan Israel.
Situasi kini memanas. Dunia internasional berharap agar ketegangan ini tidak berkembang menjadi konflik regional yang lebih luas. Seruan untuk kembali ke jalur diplomasi terus digaungkan demi menjaga perdamaian global.










