LEBAK, LENSABANTEN.CO.ID — Gugus Mitigasi Lebak Selatan (GMLS) dan mahasiswa Universitas Multimedia Nusantara (UMN) berhasil memasang sistem peringatan dini bencana di Lebak Selatan pada 27 Mei 2025, untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat terhadap ancaman tsunami.
Sebagai bagian dari program Humanity Project, mahasiswa Teknik Elektro UMN—Dylan, Evan, Jethro, dan Oktaf—telah merancang dan mengimplementasikan Early Warning System (EWS) berbasis LoRa dan ESP32. Proyek ini, yang berlangsung dari Februari hingga Mei 2025, menjadi bagian dari kerja sama strategis GMLS dalam memperkuat sistem mitigasi bencana dengan pendekatan teknologi.
EWS berperan sebagai sirine peringatan dini yang dirancang untuk memberikan peringatan awal terhadap potensi bahaya atau bencana, terutama tsunami, sehingga tindakan pencegahan atau mitigasi dapat diambil sebelum dampaknya menjadi parah.
Dengan tujuan utama memberikan waktu evakuasi kepada masyarakat pesisir sebelum terjadinya tsunami, sistem ini menjadi krusial dalam manajemen risiko bencana dan keselamatan masyarakat. Alat yang terpasang terdiri dari modul master di Command Center GMLS di Villa Hejo Kiarapayung, dan modul slave di dua lokasi rawan bencana: SMAN 1 Bayah dan Masjid Al-Ittihad Cisiih, yang akan memberikan respons dini kepada warga sekitar saat terjadi gempa atau potensi tsunami.
Meskipun proses pemasangan tidak berjalan mulus karena tantangan sinyal akibat topografi, seperti bukit dan vegetasi lebat, tim berhasil mengatasi hambatan tersebut dan melihatnya sebagai pembelajaran teknis yang bernilai untuk pengembangan sistem di masa depan.
Diharapkan, melalui proyek ini, masyarakat akan menerima peringatan lebih awal saat bencana mengancam, memungkinkan langkah mitigasi segera dilakukan. Kehadiran teknologi peringatan dini menjadi kebutuhan mendesak bagi masyarakat Lebak Selatan yang rawan tsunami, dan GMLS berkomitmen untuk terus mendukung inisiatif serupa guna melindungi nyawa dan mengurangi kerugian di masa mendatang.









