TANGERANG, LENSABANTEN.CO.ID – Harga sejumlah komoditas seperti cabai dan bawang di Pasar Anyar mengalami kenaikan tajam sejak 29 November. Pedagang menyebut lonjakan ini terjadi serentak di banyak jenis sayuran.
Kholifa, pedagang sayuran, mengatakan kenaikan terjadi pada hampir semua komoditas utama. Ia menegaskan beberapa sayuran daun juga ikut terdampak.
“Cabai rawit merah, cabai ini, cabai apa, cabai rawit hijau, bawang merah, sayur-sayur, wortel, kaya kangkung, kaya bayam. Pokoknya hijau-hijau naik semua,” ujarnya saat ditemui pada Selasa, 2 Desember 2025.
Ia menjelaskan bahwa kenaikan harga kali ini jauh lebih tinggi dari hari biasa. Beberapa komoditas bahkan melonjak hingga dua kali lipat.
“Bawang merah biasanya kan Rp35.000, hari ini Rp50.000. Kalau rawit hijau biasanya cuma Rp30.000, hari ini Rp70.000,” tuturnya.
Ia juga menyebut harga cabai rawit merah meningkat paling tajam. Harga tersebut memaksa pedagang menaikkan harga jual demi menutup modal.
“Cabai rawit merah biasanya penjualan saya paling Rp50.000, hari ini harus dijual Rp90.000,” ungkapnya.
Untuk cabai keriting, ia memastikan harga masih stabil. Komoditas ini menjadi satu-satunya cabai yang tidak ikut melonjak.
Ia menambahkan bahwa harga cabai keriting masih berada di kisaran yang sama seperti bulan sebelumnya. Kondisi ini membuat cabai keriting menjadi pilihan pembeli yang ingin lebih hemat.
“Hari ini dia Rp60.000. Kalau keriting yang bulan lalu mah Rp30.000, cuma kalau bulan kemarin, bulan sebelas tetap Rp60.000,” katanya.
BACA JUGA : Harga Buah di Pasar Anyar Naik, Pedagang Keluhkan Minimnya PasokanMenurutnya, kenaikan harga menjelang Natal dan Tahun Baru memang rutin terjadi. Namun, lonjakan tahun ini membuat daya beli masyarakat menurun.
“Biasanya sih memang kalau Natal sama tahun baru, tiap tahun itu emang kaya gitu naik, udah biasa,” jelas dia.
Ia mengatakan omzet penjualannya ikut turun karena pembeli mengurangi jumlah pembelian. Mereka kini lebih berhati-hati dalam mengatur belanja.
“Ya kalau omset, Alhamdulillah ya menurun. Yang biasa beli cabai 2 kg, jadi belinya 1 kg,” pungkasnya.
Penurunannya mencapai sekitar 20 persen dalam beberapa hari terakhir. Ia berharap harga dapat kembali stabil setelah libur panjang.
“20%. Karena yang biasa beli 3 kg, jadinya kan dia dikurangin belinya 1 kg,” imbuhnya.
Pembeli Keluhkan Dampaknya
Ida, seorang ibu rumah tangga, mengaku terkejut dengan kenaikan harga cabai di Pasar Anyar. Ia mengatakan harga sekarang jauh di atas batas normal.
“Naik ya, naiknya banyak. Biasa kan ini tadi Rp90.000 yang sekilo ya? Biasa cuma Rp40.000–Rp50.000,” tandas dia.
Ia memperkirakan cuaca buruk dan banjir turut memengaruhi kenaikan harga. Kondisi ini membuatnya harus menyesuaikan pengeluaran dapur.
BACA JUGA : PT. Rumahku Surgaku Indonesia Tetap Berproses dan Menuntaskan Amanah
“Rp90.000. Rp90.000 ya. Mungkin efek dari hujan ya, banjir atau apa, nggak tahu deh. Naik,” tuturnya.
Ida mengaku kenaikan harga ini sangat memberatkan kebutuhan rumah tangga. Ia terpaksa mengurangi penggunaan cabai dalam masakan.
Ia menjelaskan bahwa kenaikan harga bahan dapur membuat pengelolaan kebutuhan memasak semakin sulit. Penggunaan cabai kini harus dibatasi agar pengeluaran tetap terkendali.
“Mengganggu stabilitas bumbu dapur, harus ngakalinya ya ngurangi makan cabai paling,” katanya.
Ida berharap pemerintah mampu menekan kenaikan harga menjelang akhir tahun. Menurutnya kenaikan masih bisa diterima bila tidak terlalu besar.
“Harapannya naik-naik boleh, tapi jangan terlalu tinggi lah naiknya. Kan apa-apa semua sekarang naik-naik gitu,” harapnya.
Ia menilai lonjakan kali ini terlalu ekstrem bagi masyarakat. Pemerintah diminta mencari solusi agar harga kembali stabil.
“Kalau naiknya wajar sih nggak apa-apa. Ini kan dari Rp40.000–Rp50.000 jadi Rp90.000 kan hampir 100% naik,” jelasnya.
“Ya harus, kalau bisa pemerintah bisa menekan. Gimana caranya mereka lah yang mikir, kita nggak usah mikir lagi,” tutup dia.
Kenaikan harga bahan pokok menjelang akhir tahun kembali menjadi persoalan yang dirasakan pedagang maupun pembeli. Kondisi ini diharapkan dapat segera ditangani agar perputaran ekonomi di pasar tradisional tetap berjalan stabil dan masyarakat tidak semakin terbebani.









