SERANG, LENSABANTEN. CO. ID-Aktivitas fisik secara rutin direkomendasikan bagi setiap orang, termasuk atlet profesional. Meski demikian, bagi atlet yang hidup dengan asma, latihan fisik dapat menjadi tantangan tersendiri karena berisiko memicu gangguan pernapasan.
Dokter spesialis paru Bethsaida Hospital Serang, dr. Rifian Arnanda, Sp.P, menekankan pentingnya diagnosis asma sejak dini. Pasalnya, kondisi ini tidak hanya berdampak pada kesehatan secara umum, tetapi juga dapat memengaruhi performa atlet saat bertanding maupun menjalani sesi latihan.
“Asma merupakan penyakit inflamasi kronis pada saluran pernapasan yang memengaruhi banyak orang di seluruh dunia. Meskipun asma tidak dapat disembuhkan sepenuhnya, gejalanya dapat dikendalikan dengan pengobatan yang tepat,” ungkap dr. Rifian.
Sejumlah organisasi kesehatan pernapasan dunia seperti European Respiratory Society dan European Academy of Allergy and Clinical Immunology bersama Global Allergy and Asthma European Network menjelaskan bahwa asma yang dipicu olahraga atau exercise-induced asthma (EIA) adalah kondisi ketika gejala asma muncul setelah seseorang melakukan aktivitas fisik.
Kondisi ini disebabkan oleh latihan fisik yang intens, yang mengeringkan saluran napas dan meningkatkan laju aliran udara.
Penurunan fungsi paru (FEV1) yang terjadi setelah olahraga standar disebut bronkokonstriksi yang diinduksi oleh olahraga (EIB/exercise-induced bronchoconstriction).
Pentingnya screening untuk atlet muda yang ingin meningkatkan performa menjadi hal yang tidak bisa diabaikan.
BACA JUGA : Bethsaida Healthcare Fokus Tingkatkan Mutu Layanan dan Inovasi Kesehatan di 2026
Banyak atlet yang cenderung merahasiakan kondisi asmanya, yang membuat pengelolaan kondisi tersebut menjadi lebih sulit.
Oleh karena itu, kerjasama yang erat antara atlet, pelatih, dan dokter sangat diperlukan untuk menetapkan tujuan pengobatan yang tepat dan langkah pencegahan yang efisien.
dr. Rifian menambahkan, dengan pengelolaan asma yang tepat, atlet dapat tetap berprestasi di level tertinggi, seperti yang telah dibuktikan oleh sejumlah atlet ternama yang juga mengidap asma, seperti David Beckham, Dennis Rodman, dan Paula Radcliffe.
Berdasarkan rekomendasi Global Initiative for Asthma (GINA), terapi Inhalasi Corticosteroid (ICS) sangat dianjurkan untuk remaja dan dewasa muda sebagai pengontrol agar terhindar dari kekambuhan.
Selain itu, konsultasi dengan dokter paru juga disarankan untuk mendapatkan pengobatan yang tepat, serta penyusunan rencana aksi asma sehingga dapat menjadi langkah penting dalam memastikan atlet dapat tetap tampil maksimal.
“Mengelola asma dengan tepat adalah kunci bagi atlet untuk tetap berprestasi tanpa batasan. Di Bethsaida Hospital Serang, kami selalu berkomitmen untuk memberikan layanan terbaik dan penanganan yang holistik bagi para pasien, termasuk atlet yang ingin mengoptimalkan performa mereka,” ujar dr. Tirta Mulya, Direktur Bethsaida Hospital Serang.
BACA JUGA : Dokter RS Bethsaida Tegaskan Super Flu Bukan Penyakit Baru, Ini Ciri dan Gejalanya
Menurutnya, Bethsaida Hospital Serang, yang berada di bawah naungan Bethsaida Healthcare, tidak hanya memberikan perhatian penuh kepada pengelolaan asma, tetapi juga memiliki layanan komprehensif untuk berbagai kondisi medis lainnya.
Salah satunya adalah Klinik Paru yang komprehensif untuk penanganan gangguan pernapasan, termasuk asma, bronkitis, dan penyakit paru lainnya.
Dilengkapi dengan fasilitas diagnostik modern seperti X-ray, Bronchoscopy, CT Scan, dan Spirometri, serta didukung oleh tim dokter spesialis paru yang berpengalaman, Bethsaida Hospital Serang memastikan perawatan yang cepat, tepat, aman, dan terintegrasi demi pemulihan optimal pasien.









