Kemenko PMK : Instrumen Pengentasan Kemiskinan Ekstrem Tidak Bisa Diterapkan di Semua Daerah

Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Seskemenko PMK) Andie Megantara menyampaikan pidato kunci pada Kuliah Umum Menuju Penghapusan Kemiskinan Ekstrem Tahun 2024, di Bale Sawala Gedung Rektorat Universitas Padjajaran, di Jatinangor, Bandung, pada Selasa, (24102023).

BANDUNG, LENSABANTEN.CO.ID – Pemerintah terus berupaya untuk mencapai target penghapusan kemiskinan ekstrem di 2024. Dalam mewujudkan target tersebut, dibutuhkan kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk perguruan tinggi, guna mendapatkan perspektif baru.

Hal ini disampaikan Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Seskemenko PMK) Andie Megantara saat menyampaikan pidato kunci pada Kuliah Umum Menuju Penghapusan Kemiskinan Ekstrem Tahun 2024, di Bale Sawala Gedung Rektorat Universitas Padjajaran, di Jatinangor, Bandung, pada Selasa, 24 Oktober 2023.

Bacaan Lainnya

Andie menjelaskan, permasalahan kemiskinan bersifat multidimensional dan tiap daerah memiliki karakteristik yang berbeda. Sementara itu, kebijakan pemerintah yang diterapkan dalam menanggulangi kemiskinan dan menghapuskan kemiskinan ekstrem dilakukan melalui pendekatan yang sama untuk seluruh daerah di Indonesia.

Dalam buku ”Poor Economic: A Radical Rethinking of the Way to Fight Global Poverty” yang ditulis oleh dua pemenang Penghargaan Nobel di Bidang Ekonomi dari MIT (Massachusetts Institute of Technology), disebutkan bahwa banyak kebijakan penanggulangan kemiskinan pemerintah menghadapi permasalahan karena tidak didasari oleh pemahaman yang realistis terhadap logika yang digunakan masyarakat miskin dalam menetapkan pilihan-pilihan hidup mereka.

“Masalah kemiskinan itu sangat luas, sangat kompleks, dan bersifat kedaerahan, tidak mungkin bisa disamakan antara kondisi di pulau Jawa dengan luar Jawa,” ujar Andie.

“Sementara kelemahan kita adalah menggunakan instrumen yang sama, padahal dengan jumlah bantuan yang sama memiliki nilai yang berbeda antara di pulau Jawa dengan di Papua,” tambahnya.

Sehingga menurut Andie, pemerintah menyadari tidak bisa bekerja sendirian mengatasi kemiskinan. Untuk itu, perguruan tinggi merupakan salah satu pihak yang perlu dilibatkan untuk berkolaborasi dengan pemerintah dalam menanggulangi kemiskinan dan menghapuskan kemiskinan ekstrem.

Andie menegaskan perguruan tinggi memiliki kemampuan dalam memahami karakteristik daerah serta memiliki para ahli dari berbagai disiplin ilmu. Sehingga, pemerintah berharap perguruan tinggi mampu memberikan perspektif baru dalam menanggulangi kemiskinan.

Selain itu, Andie juga mendorong perguruan tinggi melibatkan mahasiswa untuk terjun langsung mengatasi masalah kemiskinan, baik dalam program penelitian maupun pengabdian masyarakat.

“Program Merdeka Belajar dan KKN diarahkan ke desa-desa miskin jadi mampu mendorong Masyarakat bisa lebih Sejahtera,” ujar Andie.

Angka Kemiskinan Ekstrem di Bandung

Berdasarkan data BPS pada tahun 2022 Provinsi Jawa Barat memiliki tingkat kemiskinan ekstrem 1,86%, sedangkan merujuk data bulan Maret 2023 tingkat kemiskinan Provinsi Jawa Barat menunjukan angka 7,62%.

Kondisi data tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Barat berkomitmen dalam menurunkan kemiskinan maupun kemiskinan ekstrem melalui 3 strategi penghapusan kemiskinan ekstrem yaitu program pengurangan beban pengeluaran masyarakat, program peningkatan pendapatan dan program pengurangan jumlah kantong kemiskinan.

Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjajaran Nunuy Nur Afifah menjelaskan, kolaborasi dan sinergi perguruan tinggi dan pemerintah merupakan hal yang tepat. Karena perguruan tinggi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat, telah membantu individu keluar dari kemiskinan, menciptakan inovasi dalam menanggulangi kemiskinan, dan mendukung masyarakat yang memerlukan bantuan.

Pos terkait

Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari lensabanten.co.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.