LENSABANTEN.CO.ID — Bagi generasi muda hari ini, usia dua puluh tahunan seringkali menjadi periode yang paling membingungkan dalam hidup. Istilah quarter-life crisis (QLC) akrab terdengar untuk menggambarkan fase disorientasi, kecemasan akan masa depan, patah hati yang meremukkan idealisme, hingga tekanan sosial untuk segera “mapan” dan menikah. Banyak yang mengira krisis psikologis ini adalah produk modernitas sebuah ekses negatif dari paparan media sosial dan gaya hidup abad ke-21.
Namun, jika kita memutar waktu kembali ke tahun 1935, kita akan menemukan bahwa kegalauan yang sama telah terekam dengan sangat apik dalam novel Kehilangan Mestika karya Hamidah.
Novel semi-otobiografi ini bukan sekadar cerita lama tentang kawin paksa. Jika dibaca dengan kacamata kontemporer, perjalanan tokoh utama, Hamidah, adalah visualisasi paling puitis sekaligus tragis dari seorang perempuan muda usia 20-an yang sedang dihantam badai krisis seperempat abad di zaman kolonial.
Inti dari quarter-life crisis sebenarnya adalah kesenjangan yang lebar antara apa yang kita impikan di masa remaja dengan apa yang disodorkan oleh realita dunia dewasa.
Di awal cerita, Hamidah digambarkan sebagai representasi anak muda ideal. Ia terpelajar, lulusan Meisjesnormaalschool (sekolah guru perempuan) di Padang Panjang, memiliki pemikiran modern, dan bertekad memajukan kaumnya. Ia memiliki cetak biru masa depan yang cerah. Namun, krisis identitasnya dimulai justru setelah ia lulus. Dunia nyata tidak menyambut idealismenya dengan karpet merah.
Masyarakat patriarki dan kungkungan adat saat itu menuntut hal yang bertolak belakang: pencapaian tertinggi seorang perempuan bukanlah menjadi pendidik yang merdeka, melainkan menjadi istri yang patuh di ranah domestik. Pertanyaan eksistensial yang kerap menghantui anak muda usia 20-an seperti, “Untuk apa aku belajar tinggi-tinggi jika akhirnya ruang gerakku ditentukan orang lain?” menjadi motor penggerak konflik batin Hamidah di sepanjang novel.
Kondisi ini diperparah oleh pemicu quarter-life crisis yang paling jamak kita temui hari ini, yaitu kegagalan hubungan asmara di usia dewasa awal akibat intervensi eksternal. Hamidah mengalami patah hati yang hebat ketika tunangan yang dicintainya dan dianggap sevisi, memilih berpaling dan menikah dengan perempuan lain demi tuntutan adat keluarga.
Respons Hamidah terhadap luka ini sangat mirip dengan anak muda zaman sekarang: ia melakukan pelarian atau escape. Ia memutuskan merantau ke Jakarta untuk mengajar. Merantau menjadi strategi Hamidah untuk mencari ruang aman (safe space) sekaligus upaya menyembuhkan diri (healing). Di Jakarta, ia mencoba menenggelamkan diri dalam karier dan pergerakan perempuan.
Fase ini menunjukkan bagaimana anak muda di usia seperempat abad mencoba mengalihkan rasa sakit emosional mereka dengan ambisi profesional, sebuah mekanisme pertahanan diri yang lazim kita jumpai hingga saat ini.
Namun, puncak dari krisis ini justru ditandai ketika seseorang merasa terjebak dalam keputusan yang salah akibat kelelahan mental menghadapi tekanan lingkungan (peer pressure). Karena lelah berenang melawan arus adat, Hamidah akhirnya menyerah pada takdir dan menerima pernikahan yang tidak didasari cinta.
Ia diboyong ke Palembang, tempat yang kemudian menjadi titik nadir dalam hidupnya. Di Palembang, Hamidah mengalami apa yang dalam psikologi disebut existential loneliness kesepian yang mendalam karena merasa tidak ada satu pun jiwa yang mampu memahami jalannya pikiran kita. Suaminya yang konservatif dan kasar merenggut kebebasan berpikirnya, memaksanya tunduk total di wilayah domestik.
Krisis ini mencapai puncaknya yang paling traumatis ketika anak yang dilahirkannya meninggal dunia, disusul dengan perceraian yang membuatnya menyandang status janda di usia yang masih sangat muda. Menjadi janda muda pada masa itu adalah stigma sosial yang amat berat. Hamidah berada di titik nol; ia kehilangan kompas hidup, kehilangan status, dan kehilangan pegangan.
Pada akhirnya, judul Kehilangan Mestika yang sering diartikan secara harfiah sebagai hilangnya permata atau kebahagiaan, sebenarnya bisa kita maknai sebagai simbol dari runtuhnya kepolosan masa remaja. Menjadi dewasa, bagi Hamidah dan bagi kita semua, artinya adalah bersiap kehilangan “mestika” tersebut.
Kita dipaksa menyaksikan dunia yang kita kira ramah berubah menjadi panggung kompromi yang pahit, pengkhianatan, dan duka yang tak terduga. Melalui novel ini, Hamidah menunjukkan bahwa quarter-life crisis bukanlah fenomena baru yang lahir karena generasi sekarang yang rapuh.
Krisis ini adalah ritus peralihan yang universal bagi setiap manusia yang menolak tunduk pada keadaan dan memilih untuk berdaulat atas hidupnya sendiri. Meskipun novel ini ditutup dengan nada melankolis, keberanian Hamidah untuk menuliskan kepedihannya adalah bukti bahwa cara terbaik untuk bertahan dari krisis usia 20-an adalah dengan terus berpikir, bersuara, dan menolak untuk menjadi tidak terlihat.
Bagi generasi muda hari ini, usia dua puluh tahunan seringkali menjadi periode yang paling membingungkan dalam hidup. Istilah quarter-life crisis (QLC) akrab terdengar untuk menggambarkan fase disorientasi, kecemasan akan masa depan, patah hati yang meremukkan idealisme, hingga tekanan sosial untuk segera “mapan” dan menikah.
Banyak yang mengira krisis psikologis ini adalah produk modernitas sebuah ekses negatif dari paparan media sosial dan gaya hidup abad ke-21. Namun, jika kita memutar waktu kembali ke tahun 1935, kita akan menemukan bahwa kegalauan yang sama telah terekam dengan sangat apik dalam novel Kehilangan Mestika karya Hamidah. Novel semi-otobiografi ini bukan sekadar cerita lama tentang kawin paksa.
Jika dibaca dengan kacamata kontemporer, perjalanan tokoh utama, Hamidah, adalah visualisasi paling puitis sekaligus tragis dari seorang perempuan muda usia 20-an yang sedang dihantam badai krisis seperempat abad di zaman kolonial.
Inti dari quarter-life crisis sebenarnya adalah kesenjangan yang lebar antara apa yang kita impikan di masa remaja dengan apa yang disodorkan oleh realita dunia dewasa.
Di awal cerita, Hamidah digambarkan sebagai representasi anak muda ideal. Ia terpelajar, lulusan Meisjesnormaalschool (sekolah guru perempuan) di Padang Panjang, memiliki pemikiran modern, dan bertekad memajukan kaumnya. Ia memiliki cetak biru masa depan yang cerah. Namun, krisis identitasnya dimulai justru setelah ia lulus. Dunia nyata tidak menyambut idealismenya dengan karpet merah.
Masyarakat patriarki dan kungkungan adat saat itu menuntut hal yang bertolak belakang: pencapaian tertinggi seorang perempuan bukanlah menjadi pendidik yang merdeka, melainkan menjadi istri yang patuh di ranah domestik. Pertanyaan eksistensial yang kerap menghantui anak muda usia 20-an seperti, “Untuk apa aku belajar tinggi-tinggi jika akhirnya ruang gerakku ditentukan orang lain?” menjadi motor penggerak konflik batin Hamidah di sepanjang novel.
Kondisi ini diperparah oleh pemicu quarter-life crisis yang paling jamak kita temui hari ini, yaitu kegagalan hubungan asmara di usia dewasa awal akibat intervensi eksternal. Hamidah mengalami patah hati yang hebat ketika tunangan yang dicintainya dan dianggap sevisi, memilih berpaling dan menikah dengan perempuan lain demi tuntutan adat keluarga.
Respons Hamidah terhadap luka ini sangat mirip dengan anak muda zaman sekarang: ia melakukan pelarian atau escape. Ia memutuskan merantau ke Jakarta untuk mengajar. Merantau menjadi strategi Hamidah untuk mencari ruang aman (safe space) sekaligus upaya menyembuhkan diri (healing). Di Jakarta, ia mencoba menenggelamkan diri dalam karier dan pergerakan perempuan.
Fase ini menunjukkan bagaimana anak muda di usia seperempat abad mencoba mengalihkan rasa sakit emosional mereka dengan ambisi profesional, sebuah mekanisme pertahanan diri yang lazim kita jumpai hingga saat ini.
Namun, puncak dari krisis ini justru ditandai ketika seseorang merasa terjebak dalam keputusan yang salah akibat kelelahan mental menghadapi tekanan lingkungan (peer pressure). Karena lelah berenang melawan arus adat, Hamidah akhirnya menyerah pada takdir dan menerima pernikahan yang tidak didasari cinta.
Ia diboyong ke Palembang, tempat yang kemudian menjadi titik nadir dalam hidupnya. Di Palembang, Hamidah mengalami apa yang dalam psikologi disebut existential loneliness kesepian yang mendalam karena merasa tidak ada satu pun jiwa yang mampu memahami jalannya pikiran kita. Suaminya yang konservatif dan kasar merenggut kebebasan berpikirnya, memaksanya tunduk total di wilayah domestik.
Krisis ini mencapai puncaknya yang paling traumatis ketika anak yang dilahirkannya meninggal dunia, disusul dengan perceraian yang membuatnya menyandang status janda di usia yang masih sangat muda. Menjadi janda muda pada masa itu adalah stigma sosial yang amat berat. Hamidah berada di titik nol; ia kehilangan kompas hidup, kehilangan status, dan kehilangan pegangan.
Pada akhirnya, judul Kehilangan Mestika yang sering diartikan secara harfiah sebagai hilangnya permata atau kebahagiaan, sebenarnya bisa kita maknai sebagai simbol dari runtuhnya kepolosan masa remaja.
Menjadi dewasa, bagi Hamidah dan bagi kita semua, artinya adalah bersiap kehilangan “mestika” tersebut. Kita dipaksa menyaksikan dunia yang kita kira ramah berubah menjadi panggung kompromi yang pahit, pengkhianatan, dan duka yang tak terduga.
Melalui novel ini, Hamidah menunjukkan bahwa quarter-life crisis bukanlah fenomena baru yang lahir karena generasi sekarang yang rapuh. Krisis ini adalah ritus peralihan yang universal bagi setiap manusia yang menolak tunduk pada keadaan dan memilih untuk berdaulat atas hidupnya sendiri.
Meskipun novel ini ditutup dengan nada melankolis, keberanian Hamidah untuk menuliskan kepedihannya adalah bukti bahwa cara terbaik untuk bertahan dari krisis usia 20-an adalah dengan terus berpikir, bersuara, dan menolak untuk menjadi tidak terlihat.
Ditulis oleh : Salsabila Andini Ilham, seorang mahasiswa/pemerhati sastra









