Ketika Satu Kata Bisa Punya Banyak Arti

Nisyyah Aulia Zen : Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Nisyyah Aulia Zen : Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Oleh: Nisyyah Aulia Zen

“Jangan pedas kalau ngomong.”

Bacaan Lainnya

Kalimat itu mungkin sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. Padahal, kata pedas biasanya digunakan untuk menggambarkan rasa makanan. Namun, ketika ditujukan kepada seseorang, maknanya berubah menjadi ucapan yang menyakitkan atau menyinggung perasaan.

Hal sederhana seperti ini menunjukkan bahwa bahasa tidak selalu dimaknai apa adanya. Di balik setiap kata, ada makna yang dipengaruhi oleh konteks, situasi, bahkan budaya. Hal inilah yang dipelajari dalam semantik.

Semantik merupakan cabang ilmu linguistik yang mengkaji makna bahasa. Meskipun terdengar teoritis, sebenarnya semantik sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Setiap kali seseorang berbicara, menulis pesan, membaca berita, atau menikmati sebuah puisi, ia sedang berhadapan dengan makna. Karena itu, pembelajaran semantik di sekolah tidak hanya bertujuan mengenalkan teori bahasa, tetapi juga melatih siswa agar mampu memahami dan menggunakan bahasa secara tepat.

Langkah pertama yang perlu dikuasai siswa adalah memperkaya kosakata. Semakin banyak kosakata yang dimiliki, semakin mudah pula seseorang memahami informasi dan menyampaikan pendapat. Namun, belajar kosakata tidak cukup hanya dengan menghafalkan arti kata di kamus. Kata-kata akan lebih mudah dipahami jika dikenalkan melalui cerita, diskusi, bacaan, atau pengalaman sehari-hari. Dengan begitu, siswa dapat mengetahui bagaimana sebuah kata digunakan dalam berbagai situasi.

Selain memiliki banyak kosakata, siswa juga perlu belajar memilih kata yang paling sesuai. Dalam pembelajaran bahasa, kemampuan ini dikenal sebagai diksi. Pemilihan kata yang tepat dapat membuat pesan tersampaikan dengan baik sekaligus menghindari kesalahpahaman. Misalnya, ketika berbicara dalam situasi resmi, kata meninggal tentu lebih tepat digunakan daripada mati. Perbedaan tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi mampu memengaruhi kesan yang diterima oleh lawan bicara.

Pembelajaran semantik juga menjadi lebih menarik ketika siswa mulai mengenal majas. Melalui majas, bahasa tidak hanya berfungsi menyampaikan informasi, tetapi juga menghadirkan keindahan dan imajinasi.

Ungkapan seperti buah hati, kambing hitam, atau tulang punggung keluarga adalah contoh yang sering ditemui dalam percakapan sehari-hari. Jika dimaknai secara harfiah, ungkapan tersebut tentu terasa aneh. Namun, dengan memahami majas, siswa dapat menangkap maksud yang sebenarnya.

Hal serupa juga berlaku pada pembelajaran makna denotasi dan konotasi. Denotasi mengacu pada makna yang sebenarnya, sedangkan konotasi mengandung makna tambahan yang dipengaruhi oleh nilai rasa atau pengalaman masyarakat. Sebagai contoh, kata bunga dalam kalimat “Bunga itu sedang mekar” memiliki makna denotatif.

Sementara dalam kalimat “Ia menjadi bunga desa”, kata yang sama memiliki makna konotatif karena merujuk pada perempuan yang cantik dan dikagumi banyak orang.

Kemampuan memahami makna seperti ini semakin dibutuhkan di era digital. Tidak sedikit perdebatan di media sosial terjadi karena seseorang gagal menangkap maksud sebuah tulisan atau hanya memahami kata-kata secara harfiah.

Padahal, dalam komunikasi, konteks sering kali lebih menentukan daripada kata itu sendiri. Oleh sebab itu, pembelajaran semantik menjadi bekal penting agar siswa mampu berpikir lebih kritis sebelum menafsirkan maupun menyampaikan sebuah pesan.

Pada akhirnya, belajar semantik bukan sekadar mempelajari teori tentang makna. Lebih dari itu, semantik mengajarkan bahwa setiap kata memiliki fungsi, tujuan, dan dampaknya masing-masing.

Ketika seseorang mampu memahami makna dengan baik, ia tidak hanya menjadi penutur yang cakap, tetapi juga pendengar dan pembaca yang lebih bijaksana.

Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Pos terkait

Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari lensabanten.co.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.