LENSABANTEN.CO.ID — Pernah gak sih kamu lagi nongkrong santai di kantin kampus sambil menikmati es kopi di sela-sela jadwal kuliah yang padat, lalu tiba-tiba mendengar candaan dari meja sebelah, “Eh, jangan main-main sama dia, tuh anak teknik kenceng banget kalau argumen!” Atau di momen lain, saat kamu sedang iseng membaca novel senja yang puitis di perpustakaan, kamu menemukan kalimat seperti, “Langkah kakinya terhenti tepat di depan mulut gua yang gelap itu.”
Pas mendengar atau membaca ekspresi-ekspresi tersebut, otak kita ajaibnya langsung otomatis paham maksudnya tanpa perlu memeras keringat untuk berpikir keras. Kita semua tahu kalau gua tidak punya bibir apalagi gigi untuk membentuk sebuah mulut, dan kita juga paham kalau yang dimaksud “anak teknik” sebenarnya merujuk pada mahasiswanya, bukan bangunan gedung fakultas, deretan laboratorium, atau mesin-mesin yang ada di dalamnya.
Bagi sebagian besar orang, corak komunikasi unik seperti ini mungkin hanya dianggap sebagai variasi obrolan tongkrongan biasa, bumbu pemanis cerita, atau bahkan modal modus gombalan biar terdengar estetis di depan gebetan. Namun, sebagai mahasiswa yang dituntut untuk selalu berpikir kritis, analitis, dan peka terhadap fenomena di sekitar kita, pernah gak kamu penasaran kenapa sistem komunikasi kita bisa sekreatif itu? Usut punya usut, fenomena bahasa yang super dinamis ini ternyata memiliki landasan ilmiah yang sangat kuat dalam ranah Semantik, khususnya pada pembahasan mengenai Perubahan Arti Leksikal.
Mengapa Arti Sebuah Kata Bisa Berubah-ubah?
Sebelum kita membedah lebih jauh contoh-contoh unik di atas, kita perlu tahu dulu apa yang membuat sebuah kata bisa bergeser maknanya. Stephen Ullmann, seorang pakar bahasa, menyatakan bahwa perubahan arti terjadi karena bahasa itu pada hakikatnya bersifat dinamis. Bahasa akan selalu bergerak, bermutasi, dan berkembang mengikuti arah kebutuhan penuturnya dalam masyarakat.
Perubahan ini tidak terjadi secara acak, melainkan dipicu oleh dua faktor besar: sebab kebahasaan dan sebab non-kebahasaan. Sebab kebahasaan biasanya terjadi karena sebuah kata terlalu sering disandingkan dengan kata lain dalam frekuensi tinggi, sehingga maknanya ikut tertular (disebut contagion). Sementara itu, sebab non-kebahasaan jauh lebih luas lagi karena melibatkan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, perubahan budaya, interaksi sosial, hingga hal-hal yang dianggap tabu oleh masyarakat. Dari sinilah, struktur bahasa yang tadinya kaku di dalam kamus mulai melentur dan menyesuaikan diri dengan cara manusia berkomunikasi sehari-hari.
Menguak Rahasia ‘Mulut Gua’ (Seni Metafora dalam Keseharian)
Dunia akademis lewat pemikiran Makyun Subuki (2011) menjelaskan bahwa salah satu jalan utama perubahan makna beroperasi melalui pilar keserupaan atau hubungan kemiripan (similarity), yang biasa kita kenal dengan istilah Metafora. Metafora ini bertugas memberikan gambaran baru yang didasarkan pada kemiripan sifat, bentuk, atau fungsi, menjembatani sesuatu yang bersifat konkret menuju ke arah yang lebih abstrak.
Secara sadar atau tidak, kita sebagai mahasiswa sering sekali menggunakan jenis metafora antropomorfis, yaitu sebuah gejala bahasa yang meminjam nama atau bagian anggota tubuh manusia untuk menggambarkan karakteristik benda mati atau bentang alam sekitar. Itulah mengapa di sekeliling kita tercipta istilah-istilah unik seperti mulut gua, kaki gunung, hingga punggung bukit. Otak kita secara otomatis menyamakan bentuk bagian bawah gunung dengan kaki manusia, atau celah masuk gua dengan mulut manusia.
Tidak berhenti di situ, kreativitas penutur bahasa juga melahirkan metafora binatang yang meminjam sifat fauna, seperti istilah membabi buta (bertindak tanpa berpikir), lidah buaya (tanaman yang bentuknya mirip lidah), atau kuping gajah. Bahkan ada juga pergeseran indra atau metafora sinaestetik, yang terjadi ketika kita mencampuradukkan dua indra yang berbeda, misalnya saat kita menyebut ucapan manis seseorang (indra pengecap untuk suara) atau tatapan mata yang terasa dingin (indra peraba untuk penglihatan). Ternyata, cara kita memandang, merasakan, dan mengindra dunia luar sangat memengaruhi bagaimana sebuah kata mendapatkan “nyawa” dan arti barunya.
Kenapa Harus Sebut ‘Anak Teknik’? (Logika Praktis Metonimi)
Jika metafora bermain di wilayah kemiripan fisik atau sifat, ada satu konsep lagi yang tidak kalah sering kita gunakan dalam obrolan sehari-hari, yaitu Metonimi. Berbeda dengan saudaranya yang menggunakan logika perbandingan, metonimi bekerja berdasarkan prinsip kedekatan (contiguity) atau hubungan pertalian yang sangat erat antara dua buah hal.
Contoh paling gampang dan sangat dekat dengan kehidupan sosiokultural kita sebagai akademisi adalah istilah anak teknik yang sempat kita bahas di awal tadi. Secara ilmiah, penggunaan kata ini masuk dalam klasifikasi metonimi yang melambangkan hubungan erat antara tempat atau bidang keilmuan dengan orang yang berada di dalamnya. Kita tidak perlu menyebutkan secara panjang lebar “mahasiswa yang sedang menempuh studi di Fakultas Teknik”, melainkan cukup menyingkatnya dengan sebutan “anak teknik”. Melalui kedekatan asosiasi tersebut, lawan bicara kita sudah langsung paham.
Model kedekatan metonimi ini juga sering banget kita pakai dalam aspek lain, seperti menyebut tempat untuk menggantikan aktivitas di dalamnya (contohnya kata sekolah), menggunakan nama penemu untuk satuan ukuran (seperti volt atau ohm), hingga menggunakan penanda waktu ibadah untuk menyebut kegiatan budayanya yang lebih luas, seperti istilah jumatan dan syawalan. Kehadiran metonimi ini membuat komunikasi kita menjadi jauh lebih praktis, cepat, dan efisien tanpa perlu penjelasan yang bertele-tele.
Pergeseran Cakupan Makna dan Nilai Rasa Bahasa
Perubahan makna leksikal ini pada akhirnya membawa dampak yang sangat besar pada bagaimana sebuah kata dievaluasi di tengah masyarakat. Ada kalanya wilayah cakupan makna suatu kata mengalami perluasan atau penyempitan. Gejala generalisasi (perluasan makna) terjadi ketika kata yang awalnya bermakna khusus berubah menjadi bermakna umum, seperti kata saudara yang dulu hanya dipakai untuk hubungan darah tapi kini meluas menjadi sapaan hormat kepada siapa saja.
Sebaliknya, gejala spesifikasi (penyempitan makna) membuat kata menjadi lebih sempit cakupannya, contohnya kata sarjana yang dahulu bermakna orang pandai atau cendekiawan secara umum, namun kini menyempit menjadi sebutan khusus bagi lulusan strata satu (S1) di perguruan tinggi.
Bahkan, nilai rasa atau muatan emosi (emotif) dari sebuah kata bisa mengalami pergeseran naik-turun seiring berjalannya waktu akibat penilaian sosial masyarakat penuturnya. Ada kata yang beruntung mengalami ameliorasi, yaitu proses perubahan makna ke tingkat yang dirasa lebih sopan, lebih tinggi, dan lebih baik nilainya daripada makna sebelumnya. Contoh nyatanya adalah peralihan penggunaan kata menikah untuk menggantikan kata kawin, atau penggunaan istilah tunarungu dan gangguan jiwa yang dianggap jauh lebih manusiawi dan sopan untuk menggantikan kata tuli atau gila.
Namun, ada juga kata yang sayangnya harus mengalami peyorasi, alias penurunan nilai rasa menjadi lebih negatif, kurang bermutu, atau kurang menyenangkan di telinga masyarakat modern. Contoh klasiknya bisa kita lihat pada pergeseran nilai rasa pada kata oknum, babu, atau gundik. Kata-kata tersebut awalnya memiliki makna referensial yang biasa saja, namun seiring perkembangan sosial, kini memberikan impresi atau sentimen yang cenderung buruk dan kasar jika diucapkan.
Jadi, Apa Benang Merahnya buat Kita?
Melalui fenomena-fenomena unik yang sudah kita bedah bersama di atas, kita bisa belajar sebuah poin penting bahwa bahasa yang kita gunakan setiap hari di area kampus, ruang kelas, maupun media sosial sebenarnya adalah sebuah produk evolusi sosiokultural yang sangat luar biasa. Proses perubahan arti leksikal baik yang bergerak lewat jalur metafora yang puitis, jalur metonimi yang taktis, meluas-menyempitnya wilayah makna, hingga naik-turunnya nilai emotif sebuah kata adalah bukti otentik bahwa bahasa akan selalu adaptif agar komunikasi antarmanusia tetap relevan dan berjalan lancar.
Jadi, lain kali kalau kamu mendengar istilah “anak teknik” atau ekspresi-ekspresi unik lainnya dalam obrolan tongkrongan kuliah, jangan cuma dianggap sebagai angin lalu atau sekadar bahasa gaul biasa ya. Ingat, di balik struktur kalimat yang santai itu, ada kerja sistem semantik yang luar biasa, yang sedang sibuk menjaga jembatan pemahaman di antara kita!
Oleh : Nazwa Adhira Reswara, mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.









