LENSABANTEN.CO.ID — Dalam kehidupan sehari-hari, kita pasti sering kali menemukan kesalahpahaman, baik ketika berbicara secara langsung maupun melalui pesan singkat dan komentar di media sosial. Kondisi tersebut sering sekali akan membuat seseorang merasa tersinggung atau salah mengartikan maksud lawan bicaranya hanya karena pemilihan kata kurang tepat.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kata bukan sekedar rangkaian bunyi dan tulisan, melainkan mengandung makna yang dapat mempengaruhi cara seseorang memahami suatu pesan. Berbicara mengenai makna kata lalu, bagaimana cara kita mengkajinya?
Untuk mengkaji makna suatu kata kita perlu menggunakan cabang ilmu linguistik yang mempelajari tentang makna yaitu semantik. Semantik merupakan cabang ilmu linguistik yang mempelajari makna dalam bahasa, sehingga membantu kita memahami bagaimana suatu kata, frasa, atau kalimat dapat dimaknai secara berbeda.
Melalui semantik, seseorang akan memahami untuk tidak hanya menggunakan bahasa yang baik, tetapi juga mampu menyampaikan pesan secara tepat.
Setiap kata memang memiliki makna yang menjadi objek utama kajian semantik. Makna sebuah kata tidak selalu berdiri sendiri, melainkan dipengaruhi oleh konteks penggunaannya, konsep yang dimiliki penutur, dan objek yang dirujuk oleh kata tersebut. Oleh karena itu, pemilihan kata menjadi sangat penting dengan tujuan agar informasi yang disampaikan sesuai yang dimaksud pembicara dan dapat dimengerti oleh pendengar.
Dalam semantik, makna tidak hanya dipahami melalui satu sudut pandang. Tetapi sebuah kata dapat terbagi menjadi berbagai jenis makna, seperti makna leksikal, makna gramatikal, makna denotatif, dan makna konotatif.
Makna leksikal merupakan makna asli sebuah kata yang terdapat dalam kampus, sedangkan makna gramatikal muncul karena adanya proses pembentukan kata atau susunan kalimat.
Selain itu, terdapat pula makna denotatif yang bersifat lugas atau sesuai dengan kenyataan, serta makna konotatif yang mengandung nilai rasa dan makna tambahan.
Sebagai contoh, kata “mawar” secara denotatif merujuk pada tanaman bunga. Tetapi secara konotatif sering dikaitkan dengan cinta, kasih sayang, atau keindahan.
Perbedaan makna tersebut menunjukkan bahwa pemahaman suatu kata tidak cukup hanya melihat bentuk katanya, tetapi juga harus memperhatikan konteks penggunaannya.
Selain jenis-jenis makna, semantik juga membahas hubungan makna antar kata yang dikenal sebagai relasi makna. Relasi makna tersebut meliputi sinonim, antonimi, dan polisemi.
Sinonim merupakan hubungan antar dua kata atau lebih yang memiliki kemiripan makna seperti kata “cantik” dan “indah”.
Meskipun demikian, kedua kata tersebut tidak selalu dapat digunakan dalam setiap kondisi karena memiliki nuansa makna yang berbeda.
Sementara itu, polisemi menunjukkan bahwa satu kata dapat memiliki lebih dari satu makna, contohnya kata “kepala” dapat berarti bagian anggota tubuh manusia, tetapi juga bisa merujuk pada pemimpin, seperti kepala sekolah dan kepala desa. Oleh karena itu, memahami relasi makna menjadi suatu hal yang penting agar seseorang dapat memilih kata yang tepat sesuai dengan konteks komunikasi sehingga pesan yang disampaikan tidak menimbulkan salah tafsir.
Penerapan semantik dapat dijumpai dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari. Seperti di lingkungan keluarga, pemilihan kata yang santun dapat menciptakan suasana yang harmonis.
Ketika di sekolah maupun di tempat kerja atau tempat formal lainnya dengan adanya penggunaan kata yang tepat dan santun dapat membantu mengurangi kesalahpahaman yang sering terjadi saat menyampaikan informasi.
Begitu pula dalam berkomunikasi melalui media sosial, pemilihan kata yang kurang tepat dapat memicu kesalahpahaman atau perdebatan karena setiap orang dapat menafsirkan suatu pesan secara berbeda-beda.
Oleh sebab itu, memahami semantik tidak hanya membantu seseorang menggunakan bahasa yang baik dan benar, tetapi juga mendorong terciptanya komunikasi yang lebih efektif, mampu menghargai lawan bicara, serta membangun hubungan yang lebih positif dalam kehidupan sehari-hari.
Oleh : Indana Lu’luisy Syafa’ah, Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia









