Kue Bulan Oey Kim Un Jaga Tradisi Cina Benteng Sejak 2011

Kue Bulan Oey Kim Un Jaga Tradisi Cina Benteng Sejak 2011
Kue Bulan Oey Kim Un Jaga Tradisi Cina Benteng Sejak 2011

KOTA TANGERANG, LENSABANTEN.CO.ID — Di tengah menjamurnya produk makanan modern, usaha Kue Bulan Oey Kim Un di Kecamatan Benda, Kota Tangerang tetap mempertahankan resep dan tradisi kuliner khas masyarakat Cina Benteng di Tangerang. Bisnis keluarga yang berdiri sejak 2011 itu masih memproduksi kue bulan secara musiman untuk memenuhi kebutuhan perayaan Festival Kue Bulan atau sembahyang kue bulan.

Generasi kedua Kue Bulan Oey Kim Un, Angelina Laurentcia, mengatakan usaha tersebut dirintis oleh almarhum ayahnya dan hingga kini tetap dijalankan sebagai bagian dari pelestarian budaya sekaligus usaha keluarga.

Bacaan Lainnya

“Usaha ini memang musiman dan mulai berjalan sejak tahun 2011. Produksi biasanya dimulai tiga bulan sebelum sembahyang kue bulan. Kalau dalam penanggalan Imlek ada penambahan bulan, produksinya bisa dimulai sampai empat bulan sebelumnya,” ujar Angelina.

Bagi masyarakat Cina Benteng, kue bulan bukan sekadar makanan, melainkan bagian dari tradisi mengungkapkan rasa syukur. Dalam ritual tersebut, kue bulan biasanya disusun lima hingga tujuh tingkat dan dilengkapi kue koah yang dihiasi ukiran bunga lotus maupun Dewi Kwan Im.

Menurut Angelina, tradisi serupa memang dikenal di sejumlah negara, namun cita rasa dan karakter kue bulan khas Tangerang memiliki keunikan tersendiri.

“Katanya yang paling otentik justru dari Indonesia, khususnya dari tradisi orang Tangerang sebagai masyarakat Cina Benteng,” katanya.

Berbeda dengan bakpia yang kerap dianggap serupa, kue bulan Cina Benteng memiliki ukuran lebih besar dengan bentuk bulat menyerupai bulan purnama. Tekstur kulitnya juga lebih padat, tetapi tetap lembut ketika disantap.

Untuk isiannya tersedia beragam pilihan, mulai dari cokelat, keju, cokelat keju hingga varian buah seperti durian, cempedak, dan nanas. Seluruh varian tetap mempertahankan cita rasa manis yang menjadi ciri khas kue bulan.

Salah satu tahapan paling penting dalam produksi adalah pembuatan biang atau ceng, yang dikerjakan sekitar dua bulan sebelum proses produksi utama dimulai.

“Kalau bikin roti, raginya harus aktif. Tapi di kue bulan justru berbeda. Saat membuat ceng, raginya dijaga supaya tidak bangun atau terlalu aktif. Kalau sampai aktif, adonan akan mengembang berlebihan ketika dipanggang,” jelas Angelina ditemui di tempat produksinya baru-baru ini.

Biang tersebut kemudian dicampur tepung untuk membentuk kulit bagian dalam yang membungkus isian. Setelah itu, adonan kembali dilapisi kulit luar, dibentuk bulat, diberi cap merek, lalu dipanggang secara tradisional.

Menariknya, proses pemanggangan masih menggunakan tungku manual berbahan bakar arang. Meski waktu memanggang hanya sekitar 15–20 menit, persiapannya dilakukan sejak dini hari.

“Karyawan bagian pemanggangan biasanya sudah mulai sekitar pukul lima pagi untuk menyalakan api karena kualitas panas sangat menentukan hasil akhir kue bulan,” ujarnya.

Angelina juga mengungkapkan bahwa sebelum produksi dimulai, keluarga terlebih dahulu menggelar doa sebagai bentuk rasa syukur sekaligus memohon kelancaran usaha. Ritual tersebut ditujukan kepada Dewa Dapur dan Dewa Bumi sesuai tradisi yang diwariskan turun-temurun.

“Kami berdoa agar proses produksi berjalan lancar, hasil kuenya bagus, dan tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan selama bekerja di dapur. Kami juga menghargai setiap karyawan untuk berdoa sesuai keyakinannya masing-masing,” katanya.

Keunggulan lain dari kue bulan Oey Kim Un adalah daya simpannya yang relatif panjang tanpa menggunakan bahan pengawet. Hal itu diperoleh dari karakter kulit kue yang lebih padat dibandingkan roti serta proses pengemasan kedap udara setelah kue benar-benar dingin.

“Setelah dingin, kue langsung disegel rapat dan tidak dibuka lagi. Proses pengemasan harus benar-benar rapat supaya tidak ada udara yang masuk sehingga kue bisa bertahan lebih lama tanpa pengawet,” tutur Angelina.

Di tengah perubahan zaman, Kue Bulan Oey Kim Un membuktikan bahwa pelestarian tradisi dapat berjalan beriringan dengan keberlangsungan bisnis. Bagi keluarga ini, setiap musim produksi bukan hanya menjadi momen mencari keuntungan, tetapi juga menjaga identitas budaya Cina Benteng agar tetap hidup di Tangerang.

Pos terkait

Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari lensabanten.co.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.