Membaca Kesadaran Pribumi dan Kritik Koloniasme dalam Student Hidjo

Membaca Kesadaran Pribumi dan Kritik Koloniasme dalam Student Hidjo
Membaca Kesadaran Pribumi dan Kritik Koloniasme dalam Student Hidjo

LENSABANTEN.CO.ID — Novel Student Hidjo karya Mas Marco Kartodikromo merupakan salah satu karya sastra penting dalam sejarah kesusastraan Indonesia yang terbit pada masa kolonial Hindia Belanda.

Novel ini mengisahkan perjalanan Hidjo, seorang pemuda pribumi dari keluarga pedagang kaya yang memperoleh kesempatan menempuh pendidikan di Belanda.

Bacaan Lainnya

Melalui pengalaman Hidjo di negeri penjajah, Mas Marco tidak hanya menghadirkan kisah percintaan dan kehidupan pelajar, tetapi juga menyampaikan kritik sosial terhadap ketimpangan yang dialami masyarakat pribumi di bawah sistem kolonial.

Sebagai salah satu novel awal Indonesia, Student Hidjo memiliki nilai historis yang tinggi karena menggambarkan kondisi sosial masyarakat pada awal abad ke-20.

Karya ini menunjukkan bagaimana pendidikan menjadi sarana bagi kaum pribumi untuk membangun kesadaran diri sekaligus mempertanyakan dominasi kolonial yang selama ini dianggap wajar.

Keberanian Mas Marco Kartodikromo untuk mengkritik kolonialisme adalah kekuatan utama novel ini. Pembaca dapat melihat melalui tokoh Hidjo bahwa perbedaan status antara orang pribumi dan orang Eropa sebenarnya adalah konstruksi sosial yang dijaga oleh sistem penjajahan.

Hidjo mendapat perlakuan yang lebih setara di Belanda daripada di tanah airnya sendiri. Kontras tersebut menjadi sindiran tajam terhadap diskriminasi rasial yang terus menerus yang terjadi di Hindia Belanda.

Penokohan menampilkan Hidjo sebagai orang yang cerdas, memiliki kesadaran sosial yang kuat, dan terbuka terhadap perubahan. Karakter ini cocok untuk mewakili generasi muda pribumi yang mulai menyadari betapa pentingnya belajar dan berpikir kritis untuk menangani ketidakadilan. Tokoh pendukung juga berfungsi untuk menunjukkan perbedaan pendapat antara kelompok peranakan, Eropa, dan masyarakat pribumi.

Karena cerita ditulis secara kronologis, pembaca mudah mengikutinya. Bahasa yang digunakan relatif mudah digunakan dan mudah dikomunikasikan, sesuai dengan niat pengarang untuk menjangkau sebagian besar orang.

Gagasan ini disampaikan lebih dari seratus tahun yang lalu, tetapi mereka masih membahas masalah seperti identitas, kesetaraan, pendidikan, dan hubungan kekuasaan.

Dengan menggunakan pendekatan sosiologi sastra, Student Hidjo dapat dianggap sebagai refleksi kondisi masyarakat kolonial yang mengalami transformasi sosial.

Novel ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga berfungsi sebagai media kritik, mendorong pembaca untuk mempertanyakan struktur sosial yang menindas. Karena itu, karya ini memainkan peran penting dalam menumbuhkan kesadaran nasional pada masa awal pergerakan Indonesia.

Novel Student Hidjo memiliki beberapa kelemahan meskipun memiliki banyak keuntungan. Gambaran beberapa karakter pendukung masih kurang mendalam, sehingga perkembangan karakternya tidak tergali sepenuhnya.

Selain itu, alur naratif terkadang terasa stagnan bagi pembaca zaman sekarang karena sebagian besar cerita didominasi oleh penyampaian ide dan kritik sosial.

Terlepas dari kekurangan tersebut, novel ini tetap berharga sebagai karya sastra yang berani dan progresif pada eranya. Selain menunjukkan pentingnya pendidikan sebagai sarana pembebasan, siswa Hidjo berhasil menyampaikan kritik terhadap kolonialisme.

Pos terkait

Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari lensabanten.co.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.