LENSABANTEN.CO.ID — Tragedi dalam ajang Turnamen Tidar Drag Race Championship 2026 di Kota Kotamobagu, Sulawesi Utara, menyisakan pertanyaan besar terkait aspek keselamatan di lintasan. Sebuah mobil peserta yang melaju dengan kecepatan tinggi tiba-tiba kehilangan kendali hingga keluar jalur dan menghantam penonton di sekitar garis finis, Minggu 9 Agustus 2026.
Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 15.50 WITA di Jalan AP Mokoginta, Kota Kotamobagu. Mobil yang dikendarai pembalap Tian Ngantung dari Tim Mc Joe saat itu mengikuti perlombaan kategori Free For All (FFA).
Menurut keterangan kepolisian, kendaraan mengalami masalah ketika memasuki titik finis. Mobil kemudian oleng ke sisi kiri lintasan dan menabrak warga yang berada di belakang area pembatas. Insiden tersebut menyebabkan belasan orang menjadi korban, dengan jumlah korban meninggal dunia yang terus diperbarui seiring proses pendataan dan penanganan medis.
Namun, persoalan yang kini menjadi perhatian bukan hanya bagaimana kendaraan kehilangan kendali, melainkan mengapa mobil balap tersebut dapat mencapai area yang dipenuhi penonton.
Polisi masih melakukan penyelidikan untuk memastikan penyebab kecelakaan. Pemeriksaan diarahkan pada sejumlah aspek, mulai dari kondisi kendaraan, kondisi lintasan, sistem pengamanan di sekitar arena, hingga prosedur keselamatan yang diterapkan selama perlombaan.
Kondisi pengamanan menjadi salah satu hal yang patut didalami karena drag race merupakan olahraga dengan risiko tinggi akibat kecepatan kendaraan yang sangat besar. Jarak dan posisi penonton terhadap lintasan menjadi faktor penting untuk mencegah kendaraan yang kehilangan kendali mencapai kerumunan.
Sejumlah laporan menyebut mobil tersebut menerobos pembatas sebelum menghantam penonton. Karena itu, efektivitas pembatas serta pengaturan zona aman di sekitar garis finis menjadi bagian penting dalam mengungkap rangkaian kejadian tersebut.
Meski demikian, belum dapat disimpulkan bahwa lemahnya sistem pengamanan menjadi penyebab langsung kecelakaan. Hal tersebut masih harus dibuktikan melalui penyelidikan kepolisian dan pemeriksaan teknis di lokasi.
Pihak kepolisian juga perlu memastikan apakah kecelakaan dipicu persoalan teknis kendaraan, kesalahan pengemudi, kondisi lintasan, atau kombinasi sejumlah faktor lainnya.
Tragedi ini sekaligus menjadi pengingat bahwa penyelenggaraan balap dengan kendaraan berkecepatan tinggi membutuhkan sistem keselamatan yang mampu mengantisipasi skenario terburuk, termasuk ketika kendaraan keluar dari jalur balap dan kehilangan kendali.
Hasil penyelidikan nantinya diharapkan dapat menjawab pertanyaan utama di balik tragedi tersebut: mengapa kendaraan yang kehilangan kendali bisa sampai menerobos area penonton, dan apakah seluruh standar keselamatan di lintasan telah dipenuhi?








