Oleh : Ahmad Syailendra, S.Sos (Pengamat Politik)
Pertaruhan kewibawaan Suatu Partai Politik terletak pada mampu atau tidak mereka mengusung Calon atau tidak, meskipun peluang untuk kalah itu ada dan bukan berarti kemenangan tidak bisa diraih. Hasil survei saat ini untuk bakal Calon Walikota Tangerang belum ada yang mendominasi sampai di atas 50%, melampaui 40% pun belum terlihat.
Kenapa harus di atas 50% meskipun dibatas 30% pun kemenangan sudah di depan mata. Hal ini menjadi pertaruhan bahwa pertempuran di pilkada jika masih dibatas 30% hasil survei, akan lebih berat untuk memenangkan pertempuran politik meraih kursi kepala daerah. Kenapa demikian, artinya jaringan-jaringan yang tersedia ataupun tim akan terjadi benturan di bawah yang sangat dahsyat dan sudah barang tentu akan ada “pembalakan liar” jaringan di bawah.
Hal inilah yang mesti di pikirkan oleh para tim pengusung bakal calon, biar bisa menang dengan tidak mengeluarkan “darah” dan keringat yang banyak. Meskipun anasir suara Pilpres akan berbeda jauh dengan pilkada, namun ada teori dan pembuktian yang bisa di akuisisi hasil Pilpres yang lalu untuk pilkada 2024.
Publikasi Bakal Calon
Jika kita melihat kebelakang dinamika publikasi diri calon Presiden, itu dilakukan sejak jauh hari tahapan kampanye yang sangat singkat di mulai, baik melalui pemasangan gambar dan iklan dan pemberitaan di media cetak dan online. Media partner sangat penting untuk bisa menggulirkan berita-berita positif tentang calon, karena informasi melalui media sosial mudah dan cepat di dapat oleh masyarakat.
Selain “Permodalan” untuk memanaskan mesin dan jaringan yang beragam, mungkin saja hasil Pilpres bisa di adopsi saat perhelatan Pilkada 2024. Mesti diingat adalah rasa jenuh masyarakat untuk pemilihan kepala daerah mesti menjadi bahan pertimbangan agar tingkat partisipasi pemilih tidak berbeda jauh dengan Pilpres yang lalu.
Hal ini tentu mempengaruhi prosentase hasil kemenangan dan kekalahan pilkada saat nya nanti. Karena, trend partisipasi Pilkada itu di bawah Pileg dan Pilpres, pilkada terakhir tahun 2020 ada di atas 75% peningkatan yang signifikan, karena periode pilkada sebelumnya di bawah 75% tingkat partisipasi.
Miniatur koalisi sudah terlihat di Kota Tangerang, sepertinya tidak berbeda jauh dengan Pilpres, meskipun ada beberapa partai politik mengusung calonnya menjadi wakil walikota. Suatu hal yang di luar nalar kebiasaan partai politik, memasang target jadi wakil walikota. Dinamika pemilu serentak 2024 ini punya pengaruh yang kuat khususnya di kota tangerang. Sepatutnya dan selayaknya Partai Politik memberikan dinamika demokrasi pemilihan yang sehat bagi masyarakat kota Tangerang, meskipun jika terjadi calon tunggal itu adalah bagian dari demokrasi.
Saya meyakini untuk kota Tangerang pilkada serentak 2024 tidak akan terjadi Calon Tunggal, karena masih ada partai politik petarung dan berwibawa akan menyuguhkan pilihan pilihan calon Walikota dan wakil walikota Tangerang 2024 kepada masyarakat. Pentingnya demikian adalah bahwa partai politik akan mengisyaratkan esksitensinya kepada publik hingga memberikan stigma yang positif.









