Monash University Ungkap Media Online Masih Jadi Sumber Berita Paling Dipercaya

Monash University Ungkap Media Online Masih Jadi Sumber Berita Paling Dipercaya
Akademisi Monash University sekaligus Co-Director Monash Data and Democracy Research Hub, Ika Idris saat memaparkan materinya. foto : Dok Panitia

SERANG, LENSABANTEN.CO.ID – Akademisi Monash University sekaligus Co-Director Monash Data and Democracy Research Hub, Ika Idris, mengatakan perkembangan teknologi kecerdasan buatan (generative AI) mulai memberikan dampak signifikan terhadap industri media di Indonesia. Salah satu dampaknya adalah penurunan trafik pembaca media daring, termasuk media yang telah memiliki reputasi dan merek kuat.

Dalam paparannya pada kegiatan Banten Media Hub di salah satu hotel di Kota Serang, Selasa 30 Juni 2026, Ika menyebut penurunan trafik media akibat konsumsi konten berbasis AI generatif berada pada kisaran 20 hingga 70 persen, dengan besaran yang berbeda pada setiap perusahaan media.

Bacaan Lainnya

“Media besar justru banyak yang terdampak. Namun mereka juga relatif lebih cepat beradaptasi karena memiliki sumber daya yang memadai. Sementara media kecil umumnya menghadapi keterbatasan, baik dari sisi tim teknologi informasi maupun kemampuan mengelola data sehingga responsnya cenderung lebih lambat,” katanya.

Ia menambahkan, media yang berfokus pada pemberitaan umum menjadi segmen yang paling terdampak oleh kehadiran AI generatif.

Meski demikian, Ika menilai media daring berbasis berita tetap menjadi rujukan utama masyarakat dalam memperoleh informasi mengenai suatu peristiwa. Tingkat kepercayaan publik terhadap media berita juga masih lebih tinggi dibandingkan media sosial.

Menurut dia, temuan tersebut diperoleh dari survei Monash Data and Democracy Research Hub yang melibatkan 2.000 responden di 44 kota di Indonesia. Hasil survei menunjukkan bahwa media yang telah mapan (well established media) masih menjadi sumber informasi yang paling dipercaya masyarakat.

Sementara itu, influencer berada pada posisi terbawah dalam tingkat kepercayaan publik. Namun, sekitar 50 persen responden memberikan jawaban netral terhadap influencer, yang menunjukkan masih adanya keraguan atau belum terbentuknya sikap yang jelas.

“Yang paling dipercaya adalah well established media, kemudian media institusi pemerintah, dan selanjutnya penyiaran publik,” ujarnya.

Ika juga mengungkapkan hasil pengukuran tingkat kepercayaan publik saat berlangsung gelombang protes politik pada Agustus 2025. Pada periode tersebut, media yang telah mapan tetap menjadi rujukan utama masyarakat untuk memperoleh informasi.

Adapun media yang berafiliasi dengan pemerintah memperoleh tingkat kepercayaan sekitar 15 persen, terutama sebagai sumber informasi mengenai layanan publik, seperti lalu lintas, pendidikan, dan kesehatan.

“Semakin media bersikap kritis terhadap kebijakan pemerintah, semakin tinggi pula tingkat kepercayaan publik kepada media tersebut,” katanya.

Meski tingkat kepercayaan terhadap media mapan tergolong tinggi, Ika mengatakan kondisi tersebut belum mampu mendorong masyarakat untuk berlangganan layanan media digital. Fenomena itu berbeda dengan di Amerika Serikat maupun negara-negara Eropa Barat, di mana kepercayaan publik lebih mudah dikonversi menjadi pelanggan berbayar.

“Di Indonesia, masyarakat memang percaya kepada media yang sudah mapan, tetapi kepercayaan itu belum otomatis membuat mereka bersedia berlangganan,” ujarnya.

Karena itu, Ika menilai perlu adanya edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya mendukung keberlangsungan media berita yang kredibel, salah satunya melalui langganan berbayar.

“Publik perlu diberi pemahaman bahwa jika mereka mempercayai media yang kredibel, maka dukungan terhadap keberlangsungan media tersebut juga penting,” katanya.

Pos terkait

Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari lensabanten.co.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.