JAKARTA, LENSABANTEN.CO.ID – Teguh Santosa, Ketua Umum Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI), menggarisbawahi pentingnya peran media digital dalam proses demokrasi, terutama menjelang Pemilu dan Pilpres 2024. Media digital, sebagai platform utama di tengah masyarakat, menjadi wadah di mana publik mendapatkan informasi, berdiskusi, dan bertukar gagasan tentang kontestasi politik dan figur-figur yang akan bertarung di pemilihan legislatif dan presiden.
Teguh juga menyoroti pentingnya menjaga profesionalisme dalam karya pers, terutama di platform digital. Media massa berbasis internet yang tunduk pada hukum dan aturan pers harus menjalankan tugasnya dengan berpegang pada prinsip-prinsip jurnalisme yang baik.
“Sekarang kita melihat bahwa platform digital ini adalah platform arus utama di mana publik mendapatkan informasi, juga bertukar pikiran dan gagasan mengenai hampir semua hal. Khususnya mengenai figur-figur baik yang mengikuti pemilihan di lembaga legislatif maupun yang ikut pemilihan presiden,” ujar Teguh, dalam siaran tertulisnya, Sabtu 28 Oktober 2023.
Selain itu, Teguh membedakan antara media massa berbasis internet dan media sosial. Media massa berbasis internet adalah entitas yang beroperasi berdasarkan hukum pers dan tunduk pada UU Pers 40/1999. Sementara media sosial digunakan oleh individu untuk menyampaikan informasi dan pandangan pribadi. Namun, akun media sosial yang dikelola oleh perusahaan media massa dianggap sebagai bagian dari produk pers.
“Adapun akun media sosial yang dikelola oleh perusahaan media massa oleh Dewan Pers dinyatakan sebagai bagian dari produk pers,” ujarnya lagi.
Teguh optimistis bahwa masyarakat Indonesia telah lebih dewasa dalam menyikapi perbedaan politik dan menghindari isu-isu yang dapat memecah belah seperti SARA. Kontestasi politik yang berlangsung sejak beberapa tahun terakhir telah mengalami perubahan, dan masyarakat dinilai lebih mampu menghindari isu-isu primordial yang dapat memicu ketegangan.
Sebagai gantinya, Teguh menyarankan agar masyarakat lebih fokus pada melihat track record dan rekam karya para kandidat, serta memahami tantangan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia, baik di tingkat domestik, regional, maupun global. Dengan cara ini, publik dapat lebih bijak dalam menilai model kepemimpinan yang dibutuhkan untuk menghadapi tantangan-tantangan tersebut.










