RUSIA, LENSABANTEN.CO.ID – Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden RI Prabowo Subianto secara resmi mengumumkan kerja sama pengembangan teknologi nuklir, Kamis, 19 Juni 2025 usai pertemuan bilateral di Istana Konstantinovsky.
“Kami ingin merealisasikan proyek nuklir untuk tujuan damai dan berkolaborasi di bidang teknologi canggih,” kata Putin.
Salah satu poin utama kesepakatan adalah kolaborasi riset dan pengembangan Reaktor Modular Kecil (Small Modular Reactor/SMR), melalui kerja sama Indonesia dengan Modena Global Ltd dan Rosatom Mechanical Engineering.
SMR merupakan teknologi reaktor nuklir terbaru dengan kapasitas hingga 300 MW(e) per unit—sekitar sepertiga dari kapasitas reaktor konvensional. Desainnya yang kecil dan modular memungkinkan pemasangan di lokasi terpencil, termasuk wilayah yang minim infrastruktur listrik. Selain itu, SMR dapat dirakit di pabrik, dikirim ke lokasi, dan dibangun lebih cepat dan murah dibandingkan reaktor besar.
Menurut Badan Energi Atom Internasional (IAEA), SMR sangat cocok untuk elektrifikasi pedesaan karena fleksibel terhadap jaringan listrik yang terbatas. Reaktor ini juga hemat bahan bakar, dengan beberapa desain yang hanya memerlukan pengisian ulang setiap 3–7 tahun, bahkan hingga 30 tahun tanpa isi ulang.
Presiden Prabowo didampingi sejumlah menteri penting dalam lawatan ini, termasuk Menlu Sugiono, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Menhan Sjafrie Sjamsoeddin, dan Menteri Investasi Rosan Roeslani. Jajaran lainnya termasuk Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Menkominfo Meutya Hafid, dan Dirut PT Pertamina Simon Mantiri.
Di tengah ketegangan geopolitik global, Prabowo dan Putin menegaskan semakin eratnya hubungan Indonesia–Rusia. Keduanya sepakat memperluas kerja sama strategis, termasuk di bidang militer dan eksplorasi antariksa.
“Banyak peluang untuk kerja sama, dan kapasitas kerja sama kita masih bisa terus berkembang,” ujar Putin.
Presiden Putin juga menyambut baik keanggotaan penuh Indonesia dalam BRICS sebagai simbol penguatan peran global Indonesia.










