KOTA TANGERANG, LENSABANTEN. CO. ID – Tak ada orang tua yang ingin anaknya sakit atau menderita karena sebuah penyakit. Namun terkadang, takdir berkata lain, sehingga dibutuhkan ketabahan dan kebesaran hati orang tua untuk bisa merawat dan menyembuhkan penyakit yang diderita anak tercinta.
Ini pula yang dialami Istaryati (52) warga Kampung Rawa Rotan, Kota Tangerang. Yati mengetahui anaknya menderita hemofilia saat sang buah hati berusia 1 tahun.
Kala itu sang anak, Andika Miftah (14) sedang aktif-aktifnya karena sedang belajar merangkak. Setiap kali merangkak, pada kaki dan tangannya selalu muncul warna kebiruan dan bengkak.
Melihat kondisi Andika, Yati langsung membawa sang anak untuk memeriksakan kondisi kesehatannya ke rumah sakit terdekat. Firasatnya sebagai seorang ibu mengatakan bahwa bengkak yang dialami sang anak bukanlah bengkak biasa. Apalagi, salah satu adik Yati juga mengidap Hemofilia.
“Kami mengetahui Andika mengidap penyakit Hemofilia saat bayi, sekitar umur satu setengah tahunan. Dulu itu bingung kenapa dibadannya sering bengkak dan lebam berwarna kebiruan.
Kalau orang-orang sekitar mengatakan Andika dijilat setan. Dulu, adik saya juga ada yang sama seperti ini, namun karena ketidaktahuan kami, beliau meninggal karena terlambat penanganan. Khawatir Andika akan bernasib sama, kami langsung membawa Andika ke rumah sakit,” kenang ibu anak tiga itu.
Sejak dinyatakan menyandang Hemofilia, Yati selalu merawat sang anak dengan hati-hati. Sewajarnya anak-anak, Andika kerap ingin bermain dengan bebas tanpa memikirkan penyakit yang dialaminya.
Tak jarang Andika berkeluh kesah kepada sang ibu karena tak bisa melakukan aktivitas seperti anak lainnya.
Yaty bercerita bahwa terkadang dirinya harus memberikan pengertian yang lebih saat Andika berkeluh kesah kepadanya. Hal ini menjadi salah satu yang terberat baginya sebagai orang tua.
BACA JUGA: Cakupan JKN Capai 98,15% Penduduk Indonesia, Wapres Ma’ruf Amin Dorong hingga 100 Persen
“Kadang Andika juga suka mengeluh ke saya, kenapa tidak bisa seperti anak-anak lainnya. Andika sangat ingin bermain bola dengan teman-temannya. Sebagai orang tua tentunya kami berusaha memberikan pengertian untuk Andika. Kalau sudah begini, berat juga untuk kami orang tuanya. Tapi kami selalu berfikir, jika diberi ujian oleh Allah, itu artinya kami adalah manusia terpilih. Berkat dukungan semua keluarga, kami bisa melewati ujian ini bersama-sama,” kata Yati, Jumat (26/06).
Tak hanya berkat dukungan keluarga, Yati semakin tegar berkat adanya program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Pada tahun 2014, Yati dan keluarga telah terdaftar menjadi peserta JKN segmen Penerima Bantuan Iuran.
Sejak saat itu pula Andika menjalani pengobatan bersama program JKN. Sudah tak terhitung berapa kali Andika menggunakan kartu JKN untuk menjalani pengobatan hemofilia yang telah dilakukannya selama ini.
Program JKN menjadi harapan baginya, Andika, dan juga keluarga. Ia tak membayangkan berapa banyak biaya yang akan dikeluarkannya apabila tidak ada program JKN.
“Dalam sebulan, Andika bisa berobat 3 sampai 4 kali. Kalau dihitung-hitung, biaya pengobatannya bisa mencapai puluhan juta tiap bulannya. Belum lagi kalau terjadi pendarahan, anak kami harus disuntik setiap 12 jam. Ini pasti memakan biaya yang besar, karena obatnya bukan obat yang murah. Saya tidak bisa membayangkan kalau tidak ada program JKN, apalagi pengobatan hemofilia seperti ini akan dilakukan seumur hidup. Bersyukur sekali program JKN hadir untuk masyarakat Indonesia. Kami sekeluarga merasakan benar manfaatnya,” ucap Yati.
Menurut Yati, pelayanan bagi peserta JKN sangatlah baik. Ia beranggapan kabar negatif yang pernah didengarnya hanya kabar burung. Nyatanya, dari awal Andika menjalani pengobatan, tidak pernah ia merasakan kejadian diskriminatif di fasilitas kesehatan. Ia justru merasa petugas rumah sakit sangatlah ramah dan telaten dalam melayani.
Tak hanya itu, para petugas pun memberikan penjelasan dengan sangat informatif. Dirinya berulangkali memuji pelayanan kesehatan yang diberikan kepada anaknya selama ini.
Di akhir perbincangan, Yati menyampaikan pesan kepada masyarakat Indonesia bahwa penyakit maupun musibah tak mengenal waktu.
Oleh sebab itu, bagi masyarakat yang belum mendaftarkan dirinya sebagai peserta JKN untuk segera mendaftarkannya karena sejatinya lebih baik mencegah daripada mengobati.
Yati berharap BPJS Kesehatan dapat terus mempertahankan kualitas pelayanan yang telah dicapai selama ini, agar seluruh masyarakat Indonesia dapat merasakan manfaat program JKN. (*)









