Quarter-Life Crisis Abad 20: Alasan ‘Student Hidjo’ Relate Banget sama Anak Muda Zaman Now

Quarter-Life Crisis Abad 20 Alasan 'Student Hidjo' Relate Banget sama Anak Muda Zaman Now
Quarter-Life Crisis Abad 20 Alasan 'Student Hidjo' Relate Banget sama Anak Muda Zaman Now

LENSABANTEN.CO.ID – Siapa bilang novel klasik terbitan tahun 1918 itu membosankan dan ketinggalan zaman? Kalau kamu membedah novel Student Hidjo karya Marco Kartodikromo, kamu bakal sadar kalau isu quarter-life crisis ternyata sudah eksis sejak seabad lalu.

Di balik latar awal masa kolonial Belanda, mahakarya perintis sastra perlawanan ini sebenarnya menyimpan potret nyata tentang anak muda yang mengalami guncangan identitas hebat akibat tuntutan pendidikan dan budaya modern.
Lewat karakter Hidjo, kita diperlihatkan realitas pemuda biasa yang mendadak bertransformasi jadi kaum elit atau kelas menengah atas karena mendapat kesempatan kuliah di luar negeri. Lingkungan barunya itu sangat kental dengan gaya hidup liberal Eropa.
Di sana, fasih berbahasa asing bukan cuma sarana komunikasi, melainkan penanda status sosial sekaligus simbol kalau kamu anak skena berpendidikan tinggi. Kondisi ini mirip banget dengan fenomena FOMO atau flexing akademis zaman sekarang, bukan?
Namun, di balik gemerlapnya Delft dan Den Haag, Hidjo justru merasa terasing akibat diskriminasi dan ketidakadilan sosial. Novel ini secara berani mengkritik kolonialisme dengan membongkar ketimpangan perlakuan antara kaum pribumi dan bangsa Belanda.
Hidjo bahkan mengalami guncangan identitas yang parah saat mulai bergaul intim dengan nona-nona Belanda, seperti Betje. Gaya hidup bebas Barat tersebut perlahan mengikis nilai-nilai budaya lokal yang ia bawa dari Solo.
Di tengah badai krisis identitas dan pengaruh budaya liberal tersebut, muncullah sosok Raden Ajeng Wungu. Secara psikologis, Wungu menjadi simbol tempat “pulang” bagi Hidjo.
Kehadiran serta bayangan Wungu dalam ingatan Hidjo berfungsi sebagai jangkar mental yang kuat. Dialah yang menarik dan mengembalikan jati diri Hidjo ke akar budaya asal, setelah sempat terombang-ambing oleh kebebasan gaya hidup Eropa. Wungu menjadi pengingat akan rumah, keluhuran budi pekerti, serta nilai-nilai pribumi yang sempat luntur di tanah Rantau.
Pada akhirnya, kisah Student Hidjo menjadi teguran keras bahwa pendidikan modern itu laksana pisau bermata dua. Di satu sisi, ia mampu meningkatkan kualitas intelektual, tetapi di sisi lain bisa membuat kita overthinking dan kehilangan arah jika tidak memiliki prinsip yang kuat.
Novel ini tetap relevan sebagai refleksi bagi Gen Z: sejauh apa pun kamu melangkah dan mengejar mimpi di era globalisasi, pastikan kamu tetap memiliki ‘jangkar’ kebudayaan agar tidak lupa jalan pulang.
Ditulis oleh : Mawadah Warohmah

Pos terkait

Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari lensabanten.co.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.