Peristiwa ini tak hanya mencatat jejak perjuangan, tetapi juga diabadikan sebagai Hari Bakti Taruna Akademi Militer.
Misi Darurat di Tepi Cisadane
Lima bulan pascaproklamasi 17 Agustus 1945, kondisi Republik Indonesia masih diliputi ketidakpastian. Pasukan Sekutu dan tentara Belanda (NICA) mulai bergerak menduduki berbagai wilayah. Pada 24 Januari 1946, markas Resimen IV Tentara Republik Indonesia (TRI) di Tangerang menerima laporan intelijen bahwa pasukan Belanda dari Bogor bersiap bergerak ke utara menuju wilayah Lengkong.
Di Desa Lengkong Wetan, persis di tepi Sungai Cisadane, terdapat markas satu kompi tentara Jepang yang menyimpan persenjataan lengkap—mulai dari senapan, mitraliur (senapan mesin), hingga mortir. Jika markas tersebut jatuh ke tangan Belanda, pertahanan Tangerang dan ibu kota Jakarta berada dalam bahaya besar.
Komandan Akademi Militer Tangerang, Mayor Daan Mogot (berusia 27 tahun), bersama para perwira muda seperti Letnan Soebianto Djojohadikoesoemo dan Letnan Soetopo, memutuskan untuk bertindak cepat. Rencana disusun: mendahului Sekutu dengan mendatangi markas tersebut untuk melucuti senjata Jepang secara damai.
Perundingan di Tengah Ketegangan
Jumat petang, 25 Januari 1946, rombongan TRI berangkat menggunakan tiga truk dan satu jip. Rombongan tersebut terdiri dari puluhan taruna Akademi Militer Tangerang—pemuda-pemuda belia yang sebagian besar masih berusia belasan tahun.
Setibanya di markas Jepang, Mayor Daan Mogot, Mayor Wibowo, dan seorang taruna diizinkan masuk ke dalam markas untuk berunding dengan komandan Jepang, Kapten Abe. Sementara itu, Letnan Soebianto dan Letnan Soetopo bertugas memimpin para taruna yang menanti di luar area markas.
Awalnya, suasana perundingan berjalan kondusif. Kapten Abe mulai memahami maksud kedatangan pasukan Indonesia. Di luar, sebagian prajurit Jepang bahkan mulai mengumpulkan senjata mereka untuk diserahkan.
Letusan Senjata dan Senja yang Berdarah
Keheningan senja mendadak pecah. Rentetan tembakan senapan dan letusan mitraliur mengejutkan kedua belah pihak. Diduga timbul kepanikan dan salah paham akibat letusan senjata yang tak disengaja di area luar.
Prajurit Jepang yang terlatih dalam Perang Pasifik langsung merespons secara brutal. Mereka merebut kembali senjata yang sempat diserahkan dan menyerbu para taruna.
Pertempuran tak seimbang meletus. Para taruna yang minim pengalaman tempur dan hanya berbekal senjata seadanya terkepung di area terbuka. Mayor Daan Mogot keluar dari ruang perundingan dan berusaha keras menghentikan tembak-menembak. Namun, dalam usahanya melindungi para anak didiknya, Daan Mogot tertembak peluru musuh dan gugur di tempat.
Pengorbanan Kusuma Bangsa
Pertempuran sengit tersebut merenggut nyawa 37 pejuang Indonesia, yang terdiri dari:
-
3 Perwira: Mayor Daan Mogot, Letnan Soebianto Djojohadikoesoemo, dan Letnan Soetopo.
-
34 Taruna Akademi Militer.
Sementara itu, Mayor Wibowo beserta puluhan taruna lainnya yang tersisa ditawan oleh tentara Jepang sebelum akhirnya dibebaskan melalui negosiasi tingkat lanjut.
Warisan Semangat: Abadi di Monumen Lengkong
Jenazah para korban Pertempuran Lengkong kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Taruna, Kota Tangerang.
Untuk mengenang keberanian dan pengorbanan para taruna belia tersebut, pemerintah mendirikan Monumen Palagan Lengkong di lokasi pertempuran. Di dinding monumen tersebut terpatri nama-nama kusuma bangsa yang gugur, mengingatkan generasi penerus bahwa kemerdekaan Indonesia dibayar dengan harga yang sangat mahal: keberanian dan darah anak-anak muda.
Pertempuran Lengkong bukan sekadar catatan kelam, melainkan bukti nyata dari integritas, keberanian, dan rasa cinta tanah air yang tak tergoyahkan.