KABUPATEN TANGERANG, LENSABANTEN.CO.ID– Seorang ibu bernama Maharani, warga Sepatan, Kabupaten Tangerang, membagikan kisah pilu yang dialaminya saat proses persalinan hingga perawatan anak kembarnya di Rumah Sakit Uni Medika Sepatan. Salah satu dari bayi kembarnya meninggal dunia sebelum sempat melihat dunia lebih lama.
Kisah ini dibagikan Maharani melalui akun Instagram pribadinya, @maharaniiranimaha, yang kini ramai diperbincangkan warganet. Ia menceritakan secara rinci kronologi kejadian yang menurutnya penuh dengan kelalaian dan ketidaksesuaian prosedur dari pihak rumah sakit.
Peristiwa bermula pada 17 Januari 2025, saat Maharani mengalami pecah ketuban sekitar pukul 05.00 WIB. Menggunakan layanan BPJS, ia dirujuk dari fasilitas kesehatan tingkat pertama (faskes 1) ke RS Uni Medika Sepatan.
Sesampainya di rumah sakit, Maharani sudah berada pada pembukaan 10 sejak pukul 11.00 WIB dan dijadwalkan menjalani operasi sesar. Namun, tindakan operasi baru dilakukan pukul 13.00 WIB.
“Bayi lahir pukul 14.14 WIB, tapi suami saya baru mendapatkan ari-ari bayi pukul 23.00 WIB setelah berkali-kali meminta karena ingin segera menguburkannya sore itu. Karena baru diberikan malam hari, penguburan pun batal dilakukan sesuai rencana,” tulis Maharani dalam unggahannya pada Rabu, 7 Mei 2025.
Maharani diperbolehkan pulang setelah dua hari menjalani perawatan pasca operasi. Namun, bayi kembarnya harus menjalani perawatan intensif di ruang NICU selama sembilan hari karena lahir prematur.
Pada 23 Januari 2025, pihak rumah sakit menghubungi Maharani dan memintanya datang dengan alasan salah satu bayi perlu dirujuk ke rumah sakit lain yang memiliki fasilitas lebih lengkap. Namun alih-alih diberikan rujukan resmi dari dokter spesialis anak, pihak rumah sakit justru memulangkan kedua bayi kembar tersebut dan menyatakan kondisi mereka sehat.
Empat hari kemudian, tepatnya pada pagi hari tanggal 27 Januari, Maharani mendapati bayinya mengeluarkan cairan berwarna agak pink dari hidung. Ia segera membawa anaknya kembali ke RS Uni Medika karena lokasinya yang dekat dengan rumah.
Namun setibanya di rumah sakit, ia justru diminta melakukan pendaftaran ulang meskipun hanya dua hari sebelumnya bayinya baru saja dipulangkan dan seluruh berkas medis masih tersimpan di rumah sakit.
“Nunggu hampir dua jam karena mereka cek kamar kosong dulu. Padahal saya minta anak saya ditangani dulu, urusan kamar belakangan. Tapi kami masih harus menunggu di IGD bersama pasien dewasa lain yang sedang batuk-batuk,” ungkapnya.
Kondisi bayi yang semula tampak normal berubah drastis. Warna kulitnya menjadi kuning, dan akhirnya bayi tersebut dinyatakan meninggal dunia di ruang IGD.
Hingga kini belum ada tanggapan resmi dari pihak RS Uni Medika Sepatan terkait kejadian ini. Keluarga berharap ada pertanggungjawaban serta evaluasi dari pihak terkait atas pelayanan yang diterima.










