KABUPATEN TANGERANG, LENSABANTEN.CO.ID – Seorang pria berinisial AR menjadi korban pengeroyokan oleh sekelompok orang tak dikenal usai menyaksikan pertandingan sepak bola antara Persib Bandung dan Persita Tangerang.
Peristiwa tersebut terjadi di sebuah rumah makan di kawasan Curug Sangereng, Kecamatan Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang, pada Jumat malam, 16 Mei 2025 sekitar pukul 18.45 WIB.
Menurut keterangan resmi dari Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Ade Ary Syam Indradi, pengeroyokan diduga dipicu oleh kesalahpahaman. Korban dituduh sebagai pendukung Persib atau Viking oleh sekelompok pelaku yang tiba-tiba datang dengan sepeda motor.
“Pelapor sedang makan bersama rekannya, lalu datang tiga motor berisi enam orang yang langsung berkata, ‘Lu Viking, ya?’,” ujar Ade Ary dalam keterangannya, pada Senin, 19 Mei 2025.
AR sempat menjelaskan bahwa mereka hanya ingin makan dan bukan bagian dari kelompok suporter mana pun. Namun, tak lama kemudian, lima motor tambahan datang ke lokasi. Kelompok ini berjumlah sekitar 15 orang dan beberapa di antaranya membawa senjata tajam berupa golok.
“Pelapor dan teman-temannya melarikan diri ke rumah warga. Namun, pelapor sempat ditendang hingga terjatuh, kemudian dijambak dan disabet senjata tajam mengenai kepala belakang,” ungkap Ade Ary.
Akibat serangan brutal itu, korban mengalami luka robek di bagian kepala belakang, luka baret di leher dan punggung tengah, serta memar di tangan kanan dan kiri. Selain luka fisik, korban juga kehilangan barang berharga. Para pelaku merampas tas, dua unit ponsel, dan dua kunci motor milik korban dan rekannya.
Pihak korban kemudian melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Kelapa Dua. Saat ini, aparat kepolisian masih melakukan penyelidikan untuk mengungkap identitas dan mengejar para pelaku.
“Kami sedang melakukan pendalaman terhadap laporan dan akan segera menangkap para pelaku yang terlibat dalam kejadian ini,” tegas Kombes Ade Ary.
Peristiwa ini menambah catatan insiden kekerasan yang terjadi pasca-pertandingan sepak bola dan menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat terkait keamanan dan fanatisme suporter yang berlebihan.









