Warga Poris Indah Tolak Mesin Pembakaran Sampah, Soroti Risiko Kesehatan dan Lingkungan

Warga Poris Indah Tolak Mesin Pembakaran Sampah, Soroti Risiko Kesehatan dan Lingkungan
Warga Poris Indah Tolak Mesin Pembakaran Sampah, Soroti Risiko Kesehatan dan Lingkungan

KOTA TANGERANG, LENSABANTEN.CO.ID – Sejumlah warga Kelurahan Poris Indah, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang, Banten, menggelar aksi unjuk rasa menolak keberadaan mesin pembakaran sampah yang dioperasikan oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangerang.

Aksi ini merupakan bentuk protes terhadap uji coba mesin yang dinilai membahayakan kesehatan dan mencemari lingkungan sekitar.

Bacaan Lainnya

Dalam aksi yang berlangsung pada Senin, 9 Juni 2025 warga menyuarakan kekhawatiran mereka atas asap yang ditimbulkan dari mesin tersebut. Salah satu warga, Sobari, menyatakan bahwa mesin pembakaran sampah tersebut merupakan bagian dari uji coba DLH Kota Tangerang yang telah menimbulkan dampak langsung terhadap warga sekitar.

“Kami yang terdampak langsung sepakat menolak mesin ini karena asapnya berpotensi menyebabkan infeksi saluran pernapasan. Kalau berlangsung lama, bisa memicu penyakit serius seperti kanker,” tegas Sobari.

Kesepakatan Tahun 2022 Disebut Dilanggar

Sobari mengungkapkan bahwa permasalahan ini seharusnya sudah tuntas sejak tahun 2022, ketika Komisi IV DPRD Kota Tangerang menggelar rapat bersama dengan warga dan DLH. Dalam pertemuan tersebut, disepakati bahwa Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Mutiara Bangsa hanya akan difungsikan sebagai lokasi transit, bukan untuk proses pembakaran atau pengolahan sampah.

“Kesepakatan awal jelas, TPS hanya sebagai tempat transit. Sampah dari gerobak dikumpulkan, lalu diangkut ke truk tanpa melalui proses pembakaran atau pengomposan. Tapi sekarang mesin pembakaran malah dipasang,” ujarnya.

Tidak Ada Sosialisasi

Senada dengan warga, Ketua RT setempat, Oki, juga menyayangkan langkah DLH yang dinilai tidak transparan dan tidak melibatkan warga dalam proses pengambilan keputusan. Ia menambahkan bahwa keberadaan mesin tersebut memicu keresahan di kalangan warga, terutama yang rumahnya berdekatan dengan lokasi TPS.

“Tidak pernah ada sosialisasi atau pemberitahuan resmi kepada warga, termasuk saya sebagai Ketua RT. Tiba-tiba mesin pembakaran dipasang begitu saja. Saya khawatir kapasitas mesinnya kecil dan justru memperparah penumpukan sampah,” tutur Oki.

Warga Desak DLH Evaluasi Program

Dalam aksi tersebut, warga mendesak DLH Kota Tangerang untuk menghentikan uji coba mesin pembakaran dan mengembalikan fungsi TPS seperti semula, yakni sebagai tempat transit tanpa pengolahan.

“Kami minta DLH mengevaluasi program ini. Jangan jadikan lingkungan kami sebagai tempat percobaan yang membahayakan kesehatan,” pungkas Sobari.

Pantauan dari Lensa Banten di lokasi menunjukkan, aksi berlangsung damai dengan pengamanan dari beberapa aparat. Warga juga membawa spanduk bertuliskan penolakan terhadap mesin pembakaran dan meminta Pemkot Tangerang turun tangan menangani persoalan ini secara serius.

Pos terkait

Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari lensabanten.co.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.