KOTA TANGERANG, LENSABANTEN.CO.ID — Tuntutan profesional yang tinggi serta kemudahan teknologi di era digital ternyata membawa ancaman kesehatan serius bagi kelompok usia produktif. Penyakit hipertensi atau tekanan darah tinggi, yang dahulu identik dengan usia lanjut, kini memicu epidemi baru dan mengintai secara diam-diam (silent killer) di kalangan pekerja usia 20-an hingga 30-an.
Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) telah mencatat tren peningkatan Penyakit Tidak Menular (PTM) pada kelompok produktif ini. Jutaan penduduk usia muda mulai terdeteksi memiliki tekanan darah di atas batas normal (120/80 mmHg), sering kali tanpa disertai gejala awal yang jelas.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam RS Sari Asih Ciledug, dr. Astri Handayani, Sp.PD, membenarkan adanya pergeseran demografi pasien tersebut.
Menurutnya, lonjakan kasus darah tinggi pada milenial dan Gen Z berakar pada tiga kebiasaan modern yang merusak sistem kardiovaskular secara perlahan.
“Banyak pasien usia produktif yang datang ke RS Sari Asih sudah dalam kondisi tekanan darah sangat tinggi, padahal mereka merasa sehat. Jika dibiarkan, risiko serangan jantung dini dan kerusakan ginjal tidak bisa dihindari,” ungkap dr. Astri.
Untuk memudahkan deteksi dan pencegahan, dr. Astri membedah tiga pemicu utama hipertensi di usia muda:
1. Hustle Culture dan Gaya Hidup Sedenter
Budaya gila kerja (hustle culture) memaksa pekerja urban duduk berjam-jam menatap layar tanpa aktivitas fisik yang memadai. Beban kerja yang tinggi ini menciptakan efek domino pada sistem peredaran darah.
“Duduk berjam-jam sambil menahan stres pekerjaan memicu lonjakan hormon kortisol dan adrenalin secara terus-menerus. Kondisi ini memaksa pembuluh darah menyempit dan jantung memompa lebih keras,” jelas dr.
Astri. Pekerja sering kali mengabaikan sinyal kelelahan tubuh dan membiarkan pembuluh darahnya kehilangan elastisitas.
2. Jebakan Natrium pada Makanan Pesan-Antar
Kemudahan layanan pesan-antar makanan sukses mengubah pola konsumsi anak muda. Namun, di balik kepraktisan tersebut, tersimpan asupan natrium (garam) yang melampaui batas aman 2.000 miligram (1 sendok teh) per hari sesuai pedoman Kemenkes.
“Banyak pasien terkejut saat terdiagnosis hipertensi karena merasa tidak banyak menambahkan garam. Padahal, natrium tersembunyi dalam jumlah masif pada saus, bumbu instan, dan makanan olahan yang sering mereka pesan secara daring,” papar dr. Astri.
Ia menjelaskan bahwa ginjal akan menahan kelebihan cairan akibat tingginya natrium, yang kemudian menekan dinding pembuluh darah secara ekstrem layaknya selang yang dialiri air bervolume besar secara terus-menerus.
3. Sindrom Begadang (Revenge Bedtime Procrastination)
Fenomena menunda tidur untuk mencari hiburan di malam hari sebagai “balas dendam” atas waktu luang yang tersita pekerjaan menjadi jalur cepat menuju darah tinggi. Kurang tidur kronis akibat paparan layar gadget merusak ritme sirkadian tubuh.
Secara alamiah, tekanan darah manusia akan turun 10 hingga 20 persen saat tidur pulas, yang dikenal sebagai fase nocturnal dipping.
“Ketika anak muda memaksakan diri tetap terjaga, fase istirahat bagi jantung ini hilang. Jantung terus dipaksa bekerja pada mode siaga, mengacaukan sistem saraf simpatik, dan memicu hipertensi permanen meski usia masih 25 hingga 30 tahun,” urai dr. Astri.
Langkah Mitigasi dan Pencegahan
Memutus rantai risiko kardiovaskular ini membutuhkan modifikasi gaya hidup yang disiplin.
Otoritas kesehatan menyarankan pekerja urban untuk menerapkan aturan 20-20-20 (istirahat dari layar secara berkala) dan merutinkan olahraga kardio minimal 30 menit sehari.
Selain itu, disiplin digital detox atau menjauhkan ponsel satu jam sebelum tidur sangat vital untuk mengembalikan rutinitas istirahat.
Mengurangi makanan kemasan dan memperbanyak masakan rumahan (home-cooked meals) yang kaya kalium dari sayuran hijau juga sangat dianjurkan untuk merelaksasi dinding pembuluh darah dan membuang kelebihan natrium.









