Oleh: [Nasywa Siti Barjah
]NIM: [221011200170]
Prodi: S1 Akuntansi Universitas Pamulang
LENSABANTEN.CO.ID — Dunia akuntansi modern telah mengalami pergeseran paradigma yang signifikan. Pandangan konvensional yang menganggap akuntan hanyalah “tukang hitung” dibelakang meja kini sudah usang.
Di era globalisasi, khususnya di kawasan industri dan bisnis seperti Tangerang, mahasiswa akuntansi dituntut untuk memiliki kompetensi lebih dari sekedar menguasai debit dan kredit, mereka harus mampu berkomunikasi dalam bahasa inggris.
Tangerang, sebagai salah satu penyangga utama ekonomi nasional, menampung ribuan perusahaan multinasional. Perusahaan-perusahaan ini mencari tenaga profesional yang tidak hanya mahir mengola data, tetapi juga mampu mepresentasikannya kepada manajemen global atau klien asing.
Kemampuan berbicara (speaking) menjadi krusial saat harus menjelaskan fluktuasi biaya atau kepatuhan pajak kepada pemangku kepentingan yang tidak berbahasa Indonesia.
Akuntansi sering disebut sebagai “bahasa bisnis”. Namun dalam konteks internasional, bahasa inggris adalah medium utama yang menyatukan berbagai standar dan praktik bisnis.
Standar Pelaporan Keuangan Internasional (IFRS), yang menjadi rujukan utama akuntansi di Indonesia, disusun dan diperbarui dalam bahasa Inggris.
Memahami terminologi ini secara langsung dari sumbernya memberikan akurasi yang lebih tinggi dalam interpretasi laporan keuangan.
Bagi Mahasiswa yang membidik karier cemerlang, sertifikasi internasional seperti ACCA, CFA, atau CPA Australia menjadi dambaan. Seluruh ujian dan materi literatur sertifikasi tersebut menggunakan bahasa Inggris.
Tanpa penguasaan bahasa yang mumpuni, mahasiswa akan kesulitan menembus kualifikasi global ini, yang sebenarnya merupakan tiket emas menuju jajaran manajemen puncak atau karier diluar negeri.
Sistem informasi akuntansi mutakhir seperti SAP, Oracle, dan berbagai aplikasi berbasis Cloud mayoritas menggunakan antarmuka bahasa Inggris. Akuntan masa depan harus lincah beradaptasi dengan teknologi ini. Kemampuan bahasa Inggris yang baik memudahkan proses belajar dan pemecahan masalah teknis dalam sistem yang kompleks.
Kesimpulan:
Menguasai bahasa Inggris bagi mahasiswa akuntansi bukan lagi sekadar gaya hidup, melainkan investasi strategis. Angka memberikan data, tetapi bahasa Inggris memberikan suara pada data tersebut. Di pasar kerja yang semakin kompetitif, kemampuan inilah yang akan membedakan seorang akuntan biasa dengan seorang profesional keuangan yang visioner.









