KOTA TANGERANG, LENSABANTEN.CO.ID–Bahasa daerah di Indonesia terus menjadi sorotan di tengah perkembangan globalisasi yang cepat. Sehubungan dengan ini, sebuah penelitian sosiolinguistik dilakukan oleh mahasiswa MPBI 5 Universitas Muhammadiyah Tangerang yang terdiri dari dua kelompok. Kelompok tersebut terbagi menjadi dua tim, yaitu tim lapangan dan tim penulis.
Tim lapangan terdiri atas M. Soibanissibti, Nur Ajijah, Hasti Prastyaningsih, Ma’rifatul Aeni, Indah Meiga, dan Fifik Indarti yang bertugas untuk mengumpulkan data secara langsung dari narasumber. Adapun tim penulis terdiri atas Putri Ayu Marshinta Wulandari, Asyatunnisa Adhitama Eka Putri, Masroh, Aminah, dan St. Rahmah yang bertanggung jawab dalam penyusunan laporan hasil kegiatan.
Penelitian ini dilakukan untuk memahami dinamika pemakaian bahasa daerah di Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten. Hasil wawancara dengan salah satu tokoh masyarakat, Ahmad Muzzafi, memberikan gambaran mendalam mengenai bagaimana bahasa daerah masih bertahan—dan di beberapa tempat mengalami pergeseran—di wilayah tersebut.
Ahmad Muzzafi, warga asli Desa Tegal Kunir Kidul yang berusia 44 tahun, menjelaskan bahwa bahasa yang digunakan di wilayahnya terdiri dari bahasa Jawa, Sunda, dan sedikit bahasa Betawi. “Di desa kami, dari lima RW, empat RW itu menggunakan bahasa Jawa, dan satu RW menggunakan bahasa Sunda. Namun, secara keseluruhan, bahasa Jawa tetap yang paling dominan,” ungkap Ahmad.
Ia menambahkan bahwa bahasa Jawa yang digunakan masyarakat di Kecamatan Mauk memiliki logat yang khas dan tidak sama dengan bahasa Jawa dari daerah lain. “Logatnya beda, cengkoknya beda. Bahkan kalau kita naik angkot, meskipun orang-orang ngobrol pakai bahasa Indonesia, kita bisa tahu mana yang dari Tegal Kunir hanya dari logatnya,” jelasnya sambil tersenyum.
Ahmad juga menekankan dalam wawancara tersebut, bahwa bahasa merupakan bagian dari identitas lokal Masyarakat. “Bahasa itu bukan cuma alat komunikasi, tapi juga identitas. Kita bisa tahu asal seseorang hanya dari logat bicaranya. Bahasa itu menunjukkan siapa kita dan dari mana kita berasal,” ujarnya.
Ia mencontohkan bagaimana masyarakat dari RW yang menggunakan bahasa Sunda tetap bisa memahami dan berbicara dalam bahasa Jawa, walaupun terdengar beda dalam intonasi. “Walaupun satu desa, logatnya bisa beda. Yang dari RW Sunda kalau ngomong Jawa, ya masih bisa, tapi terasa bedanya. Karena sejak kecil dibiasakan ngomong bahasa itu. Kebiasaan itu yang membentuk kefasihan,” tambahnya.
Sejarah perkembangan bahasa di Kecamatan Mauk turut dipaparkan oleh Ahmad. Ia menyebutkan bahwa wilayah tersebut dulunya merupakan bagian dari wilayah kekuasaan Kesultanan Banten yang memiliki hubungan erat dengan budaya Jawa dan Sunda. “Aslinya wilayah ini itu Sunda. Tapi sejak zaman Kesultanan Banten dan pengaruh dari Cirebon, bahasa Jawa mulai masuk dan menyatu dengan masyarakat setempat,” katanya.
Ia mengungkap bahwa penyebaran bahasa Jawa juga terjadi saat penaklukan Sunda Kelapa oleh Fatahillah dari Cirebon, serta saat Kesultanan Banten berdiri. Proses-proses sejarah ini membawa serta penyebaran budaya dan bahasa. “Ada campuran antara bahasa Sunda dan Jawa di sini. Masyarakatnya sudah terbiasa menggunakan keduanya, meskipun bahasa Jawa lebih dominan sekarang.”
Penggunaan bahasa Indonesia, terutama di kalangan anak muda, mulai menggantikan bahasa daerah dalam situasi tertentu, sebagaimana diakui oleh Ahmad. “Anak-anak sekarang lebih sering pakai bahasa Indonesia, apalagi kalau di sekolah atau di media sosial. Tapi kalau di rumah masih banyak yang pakai bahasa Jawa, apalagi kalau ngomong sama orang tua,” katanya.
Ia melihat bahwa pemertahanan bahasa daerah masih berlangsung secara kuat karena peran keluarga, meskipun terjadi pergeseran di beberapa konteks.
“Kalau orang tuanya tetap pakai bahasa Jawa atau Sunda, anaknya biasanya ikut. Tapi kalau di rumah sudah campur, anak juga jadi tidak terlalu fasih,” katanya.
Menurut Ahmad, tantangan utama dalam mempertahankan bahasa daerah adalah pengaruh dari luar dan kurangnya kesadaran akan pentingnya bahasa ibu. “Kita nggak bisa larang anak-anak pakai bahasa Indonesia, itu bahasa resmi negara. Tapi jangan sampai bahasa daerah hilang. Bahasa itu bagian dari warisan kita,” tegasnya.
Ia juga berharap pemerintah daerah dan institusi pendidikan dapat mengambil peran lebih besar dalam melestarikan bahasa daerah, misalnya dengan memasukkan pelajaran muatan lokal atau program komunitas yang mendorong penggunaan bahasa ibu.
Studi ini menunjukkan bahwa masyarakat Kecamatan Mauk masih mempertahankan bahasa daerah sebagai bagian dari identitas budaya mereka. Walaupun ada pengaruh bahasa Indonesia yang semakin kuat, terutama di kalangan generasi muda, penggunaan bahasa Jawa dan Sunda masih sangat terasa, terutama di lingkungan rumah dan komunitas. Logat atau cengkok khas dari daerah ini bahkan menjadi pembeda yang jelas dalam percakapan sehari-hari.
Upaya pelestarian bahasa daerah harus terus dilakukan secara konsisten, baik melalui peran keluarga, sekolah, maupun masyarakat luas. Bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga simbol sejarah, budaya, dan jati diri suatu komunitas.
Reporter : Tim Mahasiswa MPBI 5 Universitas Muhammadiyah Tangerang
Editor : Lensabanten
Sumber : Hasil wawancara langsung di Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang










