Banjir di Kompleks Basecamp Jadi Perhatian DPRD

Andri S Permana wakil ketua DPRD Kota Tangerang saat meninjai lokasi banjir. foto: Dony-Lensabanten

TANGERANG, LENSABANTEN.CO.ID – Wakil Ketua I DPRD Kota Tangerang, Andri S. Permana, meninjau lokasi banjir di Kompleks Basecamp Perhubungan Udara, Kelurahan Jurumudi, Kecamatan Benda, Selasa, 3 Februari 2026. Kawasan tersebut menjadi titik terakhir banjir di Kota Tangerang dengan waktu surut yang relatif lebih lama.

Andri menyebut lambatnya surut banjir dipengaruhi kontur wilayah yang rendah. Meski demikian, ia menilai penurunan debit air merupakan hasil kerja Dinas PUPR dan Satgas Kecamatan Benda.

Bacaan Lainnya

“Hari ini saya hadir di Kompleks Biskem yang menjadi titik terakhir banjir di Kota Tangerang. Penurunan volume air juga berkat kerja teman-teman PUPR dan Satgas Kecamatan,” ujar Andri.

Sebagai langkah lanjutan, DPRD mendorong normalisasi saluran air dan revitalisasi embung di dalam kawasan. Dua embung besar di Kompleks Basecamp dinilai dapat menjadi penopang utama pengendalian banjir.

“Kita akan lakukan normalisasi saluran air dan revitalisasi dua embung besar yang ada di kawasan ini. Ini menjadi bagian penting penanganan banjir ke depan,” katanya.

Andri juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas instansi karena Kompleks Basecamp merupakan aset Kementerian Perhubungan. Ia menegaskan warga yang tinggal di kawasan tersebut tetap merupakan masyarakat Kota Tangerang.

BACA JUGA  : FOTO : Pengrajin Lampion Kebanjiran Order Jelang Imlek 2026

“Asetnya milik kementerian, tapi masyarakatnya warga Kota Tangerang. Kolaborasi dan komunikasi lintas lembaga harus berjalan,” ucapnya.

Sekretaris Camat Benda, Agung Pujarama, mengatakan peninjauan lokasi dihadiri DPRD, RT dan RW setempat, Dinas PUPR, serta unsur kelurahan. Kehadiran lintas pihak tersebut bertujuan merumuskan solusi konkret penanganan banjir di RT 05 RW 06.

“Semua unsur hadir untuk bersama-sama mencari solusi terbaik penanganan banjir di Basecamp. Ada beberapa opsi yang sedang kami kaji,” ujar Agung.

Agung menyebut opsi tersebut meliputi normalisasi kanal banjir dan normalisasi saluran air secara menyeluruh. Selain itu, dibutuhkan dukungan administrasi masyarakat untuk koordinasi dengan Kementerian Perhubungan.

“Normalisasi kanal dan saluran harus dilakukan secara komprehensif. Dukungan administrasi dari RT dan masyarakat ke kementerian juga sangat dibutuhkan,” katanya.

BACA JUGA  : Stok Pangan Kota Tangerang Aman Meski Cuaca Tak Menentu

Ketua RW 06 Jurumudi, Erhansyah, menyampaikan banjir berdampak pada sekitar 15 kepala keluarga. Jumlah warga terdampak diperkirakan mencapai hampir 70 orang.

“Hampir ada 15 KK yang terdampak dengan jumlah sekitar 70 orang. Data itu kami terima dari catatan RT,” ujar Erhansyah.

Ia mengatakan keluhan warga masih sama, yakni banjir yang terus berulang setiap tahun. Menurutnya, kondisi tersebut sudah berlangsung sejak Desember 2025.

“Masalah banjir ini bukan baru tahun ini, tapi sudah terjadi dari tahun sebelumnya. Sejak Desember sampai sekarang air masih menggenang,” ucapnya.

Erhansyah menambahkan, genangan akan meluas jika hujan turun dengan durasi cukup lama. Air dapat meluap ke jalan hingga masuk ke rumah warga.

“Kalau hujan sebentar hanya menggenang di drainase. Tapi kalau hujan sampai satu jam, air bisa naik ke jalan dan rumah,” katanya.

Terkait solusi, ia mendorong normalisasi drainase dan pembukaan saluran yang saat ini tertutup. Menurutnya, hanya satu jalur drainase yang aktif sehingga aliran air tidak maksimal.

“Normalisasi drainase harus dipercepat dan saluran yang tertutup perlu dibuka. Kalau dua drainase bisa berjalan bersamaan, air akan lebih cepat surut,” ujarnya.

Pos terkait

Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari lensabanten.co.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.