KOTA TANGERANG, LENSABANTEN.CO.ID– Kue dongkal yang selama ini dikenal sebagai jajanan tradisional khas Betawi tampil dengan wajah baru. Tak lagi sekadar berbentuk kerucut sederhana, dongkal disulap menjadi kreasi cantik layaknya kue ulang tahun dalam Lomba Menghias Kue Dongkal yang digelar Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Tangerang, Jumat, 24 Juli 2026.
Lomba yang menjadi rangkaian HUT ke-51 MUI Kota Tangerang itu diikuti 11 peserta dari perwakilan MUI kecamatan. Hanya Kecamatan Tangerang dan Pinang yang tidak mengirimkan wakil.
Beragam kreasi dongkal tampil memikat di meja penjurian. Ada yang dihias dengan aneka garnish, bunga-bunga, hingga mengusung tema Islami. Penilaian dilakukan oleh tiga juri, yakni Hari Hidayati, Sinta Mulyati, dan Haryati, dengan aspek kesesuaian tema, cita rasa, serta kerapihan penyajian.
Ketua Komisi Perempuan, Remaja, dan Keluarga (KPRK) MUI Kota Tangerang, Yusra Aisyah, mengatakan lomba tersebut digelar untuk menunjukkan bahwa kue tradisional juga bisa tampil menarik dan memiliki nilai estetika.
“Selama ini orang mengira yang bisa dihias hanya kue ulang tahun. Padahal dongkal pun bisa dikreasikan menjadi berbagai bentuk yang menarik,” ujarnya.
Menurut Yusra, melalui lomba ini masyarakat diharapkan semakin mengenal dongkal sebagai salah satu kuliner khas Kota Tangerang yang patut dilestarikan.
“Harapan kami, kue dongkal semakin terangkat dan masyarakat tahu bahwa dongkal merupakan salah satu kuliner asli Kota Tangerang,” katanya.
Salah satu juri, Hari Hidayati, menjelaskan peserta terbaik dinilai bukan hanya dari tampilannya, tetapi juga kemampuan memadukan hiasan (garnish), rasa, dan kesesuaian dengan tema yang telah ditentukan.
“Juara satu tampil paling lengkap. Garnish-nya rapi, cita rasanya berbeda, dan mampu menghadirkan tema Islami sesuai yang ditetapkan panitia,” ujarnya.
Ia berharap kegiatan serupa dapat terus digelar agar generasi muda semakin mengenal sekaligus mencintai jajanan tradisional yang mulai jarang ditemui.
Sementara itu, Rosyada, peserta dari Kecamatan Benda yang meraih juara kedua, mengungkapkan timnya sengaja mempertahankan cara pembuatan dongkal secara tradisional agar menghasilkan tekstur dan cita rasa yang autentik.
Ia mengatakan beras yang digunakan tidak berasal dari tepung instan, melainkan direndam, dibersihkan, lalu digiling sendiri. Seluruh warna pada dongkal juga berasal dari bahan alami, seperti daun suji untuk hijau dan ubi ungu untuk warna ungu.
“Kalau digiling sendiri hasilnya lebih pulen dan rasanya berbeda. Kami juga memakai pewarna alami agar tetap sehat,” ujarnya.
Rosyada berharap dongkal tetap menjadi bagian dari warisan kuliner Betawi yang terus dikenal masyarakat, meski kini banyak makanan modern bermunculan.
“Ini kue tradisional yang harus dipertahankan. Jangan sampai kalah dengan makanan dari luar, karena dongkal punya cita rasa khas sekaligus lebih alami,” katanya.









