Ketika Pilihan Hidup Menjadi Tabu

Ketika Pilihan Hidup Menjadi Tabu
Ketika Pilihan Hidup Menjadi Tabu

LENSABANTEN.CO.ID — Bagi seorang perempuan di dekade 1930-an, memiliki isi kepala yang maju acap kali berujung menjadi sebuah kutukan. Premis pahit inilah yang diledakkan oleh Hamidah (nama pena dari Fatimah Hasan Delais) dalam novel klasiknya, Kehilangan Mestika.

Lewat karya ini, Hamidah tidak sedang menulis romansa picisan tentang dua sejoli yang gagal bersanding. Lebih dari itu, novel ini adalah sebuah otopsi sosial terhadap tatanan budaya yang menempatkan hak veto perempuan atas hidupnya sendiri sebagai sebuah tindakan tabu.

Bacaan Lainnya

Hak Istimewa yang Diamputasi Lingkungan

Ironi terbesar dalam novel ini terletak pada ruang domestik tokoh utama. Hamidah sebenarnya beruntung; ia lahir dari seorang ayah yang progresif dan mendukung pendidikannya. Namun, hak istimewa (privilege) itu macet ketika berhadapan dengan struktur keluarga besar dan tekanan komunal. Saat sang ayah wafat, benteng perlindungannya runtuh.

Di sinilah konflik mulai menguliti mental Hamidah. Kakak dan lingkungan sosialnya mengambil alih kendali nasibnya. Ketika Hamidah mencoba menyuarakan pendapat atau mempertahankan pilihan hatinya, ia membentur tembok tebal: stigma. Keinginan seorang perempuan untuk memilih pasangan hidup atau menentukan arah masa depannya dianggap sebagai bentuk pembangkangan terhadap adat dan moralitas.

Siasat Poligami dan Kamar Siksaan Mental

Bedah paling mengerikan dari novel ini adalah bagaimana Hamidah perlahan-lahan kehilangan “mestika” yang berarti permata, lambang dari jiwa, harga diri, dan kebahagiaannya. Ketika dipaksa menikah dengan Rusli, seorang pria yang tidak ia cintai, Hamidah mencoba menjadi “perempuan baik-baik” menurut standar sosial. Ia berkompromi, bahkan ketika rahimnya yang kosong dijadikan alasan oleh suaminya untuk berpoligami.

Hamidah menyetujui poligami bukan karena ia ikhlas, melainkan karena ia telah mengalami learned helplessness, kondisi psikologis di mana seseorang merasa tidak punya kekuatan lagi untuk melawan. Namun, alih-alih membawa kedamaian, poligami justru menjadi kamar siksaan mental. Kehadiran istri kedua mengasingkan posisinya, meremukkan rohaninya, hingga ia sampai pada titik kesadaran paling radikal: bertahan di pernikahan ini adalah bentuk bunuh diri perlahan.

Pemberontakan yang Terlambat dan Penebusan yang Mahal

Keputusan Hamidah untuk menggugat cerai Rusli adalah sebuah gebrakan yang luar biasa berani untuk ukuran zamannya. Itu adalah momen di mana ia merebut kembali kemudinya yang sempat dirampas.

Namun, Hamidah tidak diberi akhir yang bahagia. Kebebasan yang ia dapatkan harus dibayar dengan harga yang teramat mahal.

Ketika ia pulang ke kampung halaman untuk menjemput sisa-sisa harapan bersama Idrus, cinta sejatinya, justru dihadapkan pada kenyataan bahwa Idrus telah digerogoti penyakit parah.

Novel ini ditutup dengan adegan yang sangat meremukkan hati: Idrus mengembuskan napas terakhir tepat di pangkuan Hamidah. Ini adalah simbolisasi yang sinis dari sang penulis.

Kebebasan Hamidah datang terlambat. Lingkungan sosialnya telah berhasil menjegal kebahagiaannya sampai ke akar-akarnya. Ia bebas, tetapi ia pulang ke tanah yang gersang dan hampa.

Alarm untuk Perempuan Modern

Membaca Kehilangan Mestika hari ini membuktikan bahwa meski kalender telah melompat jauh, hantu-hantu masa lalu itu belum sepenuhnya lenyap. Di era modern, “tabu” itu hanya berganti baju.

Kita masih sering melihat perempuan yang dicap “egois” saat memilih karier dibanding menikah cepat, atau dicap “pembangkang” ketika menolak perjodohan terselubung demi mempertahankan prinsipnya.

Kisah tragis Hamidah adalah alarm keras yang menolak usang. Novel ini mengingatkan kita bahwa ketika pilihan hidup seorang manusia terus-menerus dianggap tabu oleh lingkungannya, maka masyarakat tersebut sedang memproduksi barisan manusia yang berjalan tanpa jiwa—yang hidup secara fisik, namun mati di dalam.

Ditulis oleh : Kharisma Suci Wulandari_Mahasiswa Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
Jakarta_Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Pos terkait

Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari lensabanten.co.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.