Oleh: Prof. Dr. Ir. Untung Rahardja, MTI., MM. (Peneliti Utama Pengembang Orange Technology di Indonesia)
Gengs, lo pernah ngerasa tech yang katanya “canggih” malah bikin lo makin capek? Scroll IG sampe jam 3 pagi, mata merah, otak pusing, tapi hati tetep kosong.
Deadline tugas numpuk, notif kerjaan nggak berhenti, dan tiap buka sosmed malah tambah insecure. Lo bukan sendiri. Jutaan anak muda 17–25 tahun di Indonesia lagi ngerasain hal yang sama.
Tapi gimana kalau ada teknologi yang nggak cuma bikin lo lebih pintar, lebih cepet, atau lebih kaya… tapi bikin lo lebih bahagia?
Itu namanya Orange Technology.
Bukan warna orange yang lo liat di lampu lalu lintas atau jersey bola. Ini warna yang melambangkan energi positif, semangat, dan kehangatan manusiawi.
Aku, Prof. Untung Rahardja, sebagai peneliti yang lagi gaspol bangun konsep ini di Indonesia, mau cerita dari awal biar lo paham kenapa ini bakal jadi game changer buat hidup lo.
Bayangin lo lagi kuliah semester 7, FYP numpuk, magang online, plus lagi LDR sama gebetan. Tiap hari ketemu AI yang cuma kasih jawaban dingin, algoritma yang bikin lo ketagihan scroll, dan app yang cuma ngitung produktivitas tanpa peduli lo lagi burnout atau nggak.
Itu tech biasa. Orange Technology beda. Ini humanistic innovation – gabungan Engineering (teknologi canggih), Psychology (ngerti perasaan manusia), dan Ethics (peduli kebaikan).
Singkatnya, aku sebut H2O: Health (kesehatan mental & fisik), Happiness (kebahagiaan), dan Humanistic Care (peduli sesama secara manusiawi).
Konsep ini lagi booming di dunia. Tahun 2026 nanti, dua konferensi besar bakal bahas ini habis-habisan: IICRO 2026 di Bunda Mulia University Jakarta dengan tema “Advancing Orange Technology through Engineering, Psychology, and Ethics for Human-Centered Well-Being”, dan ICCIT 2026 yang tema utamanya “Orange Technology: Advancing Positive Computing Fostering Empathy and Well-Being for Societal Harmony”.
Plus ada Journal of Orange Technology (JOT) yang khusus nerbitin riset-riset keren soal ini – dari emotion-aware digital health platform sampai ethical AI yang beneran empati.
Contoh nyata? Bayangin aplikasi kuliah yang nggak cuma kasih materi, tapi deteksi lo lagi stres lewat nada suara atau pola ketik lo, lalu kasih jeda istirahat atau rekomendasi breathing exercise yang pas.
Atau chatbot konselor kampus yang nggak jawab robotik, tapi ngerti lo lagi sedih dan kasih saran yang bikin lo ngerasa didenger. Itu positive computing dan emotion-aware tech yang lagi aku kembangkan bareng tim.
Kenapa ini penting buat lo yang umur 17–25? Karena generasi kita lagi di persimpangan: tech bikin hidup lebih mudah, tapi juga bikin lebih kesepian, lebih cemas, dan lebih toxic. Orange Tech bilang: “Canggih boleh, tapi manusiawi harus lebih dulu.” Hasilnya? Lo bisa kuliah tanpa pusing berat, kerja tanpa burnout, dan tetep punya energi buat mimpi-mimpi lo.
Gengs, ini baru Episode 1. Masih panjang ceritanya. Di episode selanjutnya, aku bakal cerita soal AI yang bisa baca mood lo – bayangin asisten pintar yang tahu lo lagi down dan langsung kasih playlist atau saran yang bikin lo chill lagi. Keren abis kan?
Mau mulai ngerasain Orange Tech di hidup lo? Mulai dari sekarang: tiap kali lo pakai gadget, tanya diri sendiri, “Apakah tech ini bikin aku lebih happy atau malah bikin aku tambah lelah?” Share di komentar atau story lo, tag temen-temen lo.
Siapa tahu ide lo bisa jadi bagian dari riset Orange Technology selanjutnya.
Stay tuned, gengs. Tech masa depan nggak harus dingin dan kejam. Bisa hangat, berwarna orange, dan bikin lo senyum setiap hari.









