Film Ghost in the Cell Jadi Laboratorium Genre dan Talenta Baru Sinema Indonesia

Mengusung genre horor-komedi, “Ghost in the Cell”menjadi eksperimen film yang langka di perfilman Indonesia. Namun bukan hanya soal genre,
Mengusung genre horor-komedi, “Ghost in the Cell”menjadi eksperimen film yang langka di perfilman Indonesia. Namun bukan hanya soal genre,

JAKARTA, LENSABANTEN.CO.ID – Mengusung genre horor-komedi, “Ghost in the Cell”menjadi eksperimen film yang langka di perfilman Indonesia. Namun bukan hanya soal genre, film ini juga menjadi platform bagi berbagai jenis kolaborasi artistik: dari reuni aktor kawakan, debut aktor baru, hingga keterlibatan talenta lintas bidang.

“Komedi dan horor, dua-duanya adalah genre yang butuh craftsmanship dan timing yang presisi. Menggabungkan keduanya adalah tantangan terbesar kami, dan saya bangga seluruh kru dan pemain berhasil mencapainya,” ujar produser Tia Hasibuan.

Bacaan Lainnya

Yang paling mengejutkan, film ini membuka jalur baru bagi Magistus Miftah, seorang penari dan pembaca tarot yang terpilih lewat open casting via media sosial. Ini menjadi bukti bahwa Come and See Pictures serius dalam memberi ruang bagi aktor pendatang baru.

Tak hanya itu, Jaisal Tanjung—yang selama ini bekerja di balik layar sebagai asisten sutradara yang akhirnya tampil perdana sebagai aktor di layar lebar.

Kreativitas visual Joko Anwar dipadukan dengan kekuatan cerita dan dinamika karakter menjadikan “Ghost in the Cell” lebih dari sekadar film genre. Ia adalah perayaan inovasi, ruang belajar, dan jembatan generasi dalam dunia sinema Indonesia.

(san/*) #artwork dok. ig@jokoanwar

Pos terkait

Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari lensabanten.co.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.