KOTA TANGERANG, LENSABANTEN.CO.ID – PT. Garuda Indonesia (Persero) Tbk mencatat pertumbuhan kinerja solid sepanjang 2024. Pada Semester 1-2024, pendapatan usaha Garuda meningkat 18,27%, dari US$1,37 miliar menjadi US$1,62 miliar, berkat pertumbuhan jumlah penumpang yang mencapai 11,53 juta, naik 27,40% dibandingkan tahun sebelumnya.
Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra, menyatakan bahwa peningkatan ini didukung langkah strategis optimalisasi layanan dan operasional. Pendapatan penerbangan berjadwal mencapai US$1,27 miliar, naik 15,72% YoY, sementara penerbangan tidak berjadwal tumbuh 24,93% menjadi US$177,97 juta. Pendapatan lainnya juga meningkat 33,01%.
Perusahaan juga mencatat pertumbuhan EBITDA sebesar 14,91% menjadi US$416,48 juta pada Semester 1-2024. Selain itu, Garuda berhasil melunasi sebagian Surat Utang dan Sukuk untuk memperbaiki struktur permodalan.
“Tidak dapat dipungkiri ditengah fase industri penerbangan global yang masih terus bergerak dinamis pasca pandemi, penguatan profitabilitas Perusahaan masih menjadi tantangan utama yang terus kami akselerasikan. Dengan konsistensi pertumbuhan kinerja yang tumbuh positif dari segi pendapatan usaha, kami meyakini Garuda Indonesia secara bertahap dapat terus mempertahankan kinerja positif hingga akhir tahun 2024. Hal ini yang terus kami maksimalkan melalui fokus peningkatan alat produksi, optimalisasi jaringan penerbangan melalui kolaborasi strategis, hingga memperluas portfolio bisnis pada lini ancillary revenue”.
Garuda juga menyelesaikan operasional haji 2024 dengan peningkatan jumlah penumpang, serta memperkuat kerjasama dengan Singapore Airlines, memperluas jangkauan pasar domestik dan internasional.
Dalam inisiatif strategis lain, Garuda melakukan pengalihan kepemilikan hanggar ke PT GMF Aero Asia Tbk sebagai penyertaan modal non-tunai (inbreng) untuk memperbaiki posisi ekuitas Perusahaan.
“Adanya aksi korporasi dalam skema inbreng tersebut, kiranya dapat membawa manfaat berkelanjutan terutama mendukung langkah langkah optimalisasi kinerja keuangan, utamanya melalui improvement posisi ekuitas Perusahaan secara konsolidasi, serta optimalisasi aset yang dapat memaksimalkan berbagai pengembangan kegiatan usaha,” jelas Irfan.
Irfan optimis bahwa dengan sinergi bisnis dan peningkatan mobilitas pariwisata, Garuda Indonesia akan terus memperbaiki kinerja hingga akhir 2024.









