“Kami Hanya Ingin Makan Hari Ini”, Jeritan Pedagang Situ Bulakan Hadapi Penggusuran

Kami Hanya Ingin Makan Hari Ini, Jeritan Pedagang Situ Bulakan Hadapi Penggusuran
Kami Hanya Ingin Makan Hari Ini, Jeritan Pedagang Situ Bulakan Hadapi Penggusuran

KOTA TANGERANG, LENSABANTEN.CO.ID – Ketidakpastian mendalam kini menghantui ratusan pedagang mikro di kawasan wisata Situ Bulakan, Kota Tangerang. Suasana ekonomi yang biasanya hidup mendadak berubah menjadi penuh kecemasan setelah pemerintah daerah melayangkan Surat Peringatan Kedua (SP 2) pada Rabu, 3 Juni 2026.

Kecemasan Menyelimuti Kawasan Wisata Situ Bulakan

Bacaan Lainnya

Kawasan tersebut kini tampak berbeda dengan banyaknya pedagang yang mulai membongkar lapak secara mandiri untuk menyelamatkan material bangunan. Mereka merasa terpaksa melakukan langkah darurat ini karena takut akan kedatangan alat berat yang bisa merusak barang modal usaha mereka secara tiba-tiba.

Perjuangan Bertahan Hidup di Tengah Ancaman Penggusuran

Bagi para pedagang, Situ Bulakan bukan sekadar ruang publik, melainkan tempat mereka menggantungkan nasib selama belasan tahun. Salah seorang pedagang kopi berusia 57 tahun bahkan kini terpaksa berjualan menggunakan motor roda tiga agar bisa segera berpindah jika sewaktu-waktu petugas datang.

“Sekarang saya siasati jualan pakai motor roda tiga begini. Supaya kalau sewaktu-waktu ada petugas yang mau menggusur, saya tinggal pergi saja, tidak perlu bongkar-bongkar lagi,” tuturnya dengan suara bergetar saat ditemui Lensa Banten pada Senin, 8 Juni 2026 sore.

Meskipun mendukung penuh program penataan kota, ia sangat menyayangkan ketiadaan solusi konkret maupun tempat relokasi resmi dari pemerintah. Beban hidupnya kian berat karena omzet harian yang dulu cukup tinggi kini turun drastis, sehingga hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.

“Ekonomi sekarang berat sekali, Ya Allah Gusti. Kami bertahan hidup di sini murni cuma urusan perut, bagaimana caranya bisa makan hari ini,” ungkapnya lirih.

Nasib Pekerja dan Dampak Sosial di Lapangan

Dilema sosial ini tidak hanya memukul pemilik modal, tetapi juga para pekerja harian yang menggantungkan hidup dari warung-warung tersebut. Iwan (42), seorang penjaga warung, kini harus mengemas barang dagangan majikannya sekaligus menghadapi realita hilangnya pekerjaan utama.

Di usia yang tidak lagi muda, Iwan merasa kesulitan untuk mencari pekerjaan baru karena terbentur aturan batasan umur di banyak perusahaan. Ia pun mengungkapkan bahwa banyak rekan seprofesinya telah memutuskan untuk pulang kampung karena kehilangan mata pencaharian di kawasan tersebut.

“Saya cuma pekerja, kalau bos memutuskan menyudahi usaha ini karena digusur, ya mau tidak mau saya harus cari pekerjaan lain. Tapi di usia saya yang sudah 42 tahun ini, mencari kerja baru seperti di pabrik sudah sangat susah,” kata Iwan.

Kontribusi Pedagang Terhadap Keamanan Kawasan

Kehadiran para pedagang sebenarnya memiliki peran penting dalam mengubah wajah Situ Bulakan yang dulunya gelap dan rawan kriminalitas menjadi lebih aman. Aktivitas ekonomi yang hidup di malam hari terbukti mampu memotong rantai tindak kejahatan seperti pembegalan dan penodongan di area tersebut.

Sayangnya, kini suasana kawasan kembali menjadi sepi dan pengunjung enggan datang seiring dengan dimulainya proses pembongkaran lapak. Saat ditanya mengenai kemungkinan adanya dana kompensasi dari pemerintah, para pekerja kecil ini hanya bisa tersenyum getir karena merasa harapan tersebut terasa sangat jauh.

“Pastinya senang kalau memang dapat (kompensasi). Tapi rasa-rasanya tidak mungkin,” cetus Iwan singkat.

Pos terkait

Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari lensabanten.co.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.