KOTA TANGERANG, LENSABANTEN.CO.ID — Konsistensi, rekam jejak yang apik, serta mental pantang menyerah menjadi kunci bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk naik kelas. Hal ini dibuktikan oleh Sari, seorang mantan atlet badminton yang kini sukses mengembangkan usaha kulinernya, Kedai Habi, di Lantai 1 Kantor Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) Kota Tangerang.
Sari, yang juga pernah meniti karier sebagai karyawan di perusahaan jalan tol PT Jasa Marga (Persero), membuktikan bahwa kedisiplinan sebagai seorang mantan atlet dan pengalaman profesionalnya di korporasi mampu diterapkan dalam mengelola usaha. Sejak Januari 2026, Kedai Habi miliknya resmi terpilih mengisi fasilitas ruang publik milik pemerintah daerah tersebut.
Perjalanannya di dunia kuliner tidaklah instan. Sebelum berhasil menembus fasilitas pemerintah, Sari telah merintis usahanya selama 12 tahun, dimulai dari sebuah gerobak kaki lima di kawasan Alun-Alun Kota Tangerang.
“Mulainya dari gerobak di Alun-Alun saat anak saya masih SD. Sekarang anak yang satu sudah mau skripsi, dan satunya lagi sudah mau kuliah. Dari gerobak, sempat pindah buka kafe memanfaatkan garasi rumah,” ujar Sari saat ditemui di Kedai Habi, Tangerang, Senin 8 Juni 2026.
Melihat rekam jejak usaha Sari yang dinilai konsisten dan memiliki manajemen yang jelas, pihak DPAD Kota Tangerang kemudian mengundangnya secara khusus untuk mengisi ruang usaha di area perpustakaan daerah tersebut.
Langkah ini menjadi bagian dari program pemerintah daerah dalam memfasilitasi pelaku UMKM lokal agar mendapatkan ruang usaha yang lebih representatif dan legal. Sari menegaskan, keberadaan kedainya di kantor pemerintahan ini berjalan resmi dengan surat izin sewa sesuai regulasi yang berlaku.
“Pihak DPAD melihat track record usaha kami. Kami diundang untuk mengisi UMKM Corner ini. Jadi bukan sekadar UMKM yang biasa, tapi memang dikonsep menjadi warung yang resmi bersurat izin sewanya,” tuturnya.
Kedai Habi menyasar pasar para pengunjung perpustakaan, pegawai kantor, hingga pelajar sekolah yang berada di sekitar kawasan tersebut. Produk kuliner yang ditawarkan pun beragam dan ramah di kantong, mulai dari menu warkop seperti es teh manis seharga Rp5.000, hingga menu andalan (best seller) berupa aneka pasta yang dibanderol berkisar Rp23.000 hingga Rp25.000 per porsi.
Mengenai operasional, saat ini Kedai Habi masih menyesuaikan dengan jam buka perpustakaan daerah, yakni mulai pukul 08.00 hingga 16.00 WIB. Namun ke depan, kedai ini direncanakan tetap dapat melayani pelanggan di luar jam operasional perpustakaan.
Terkait pendapatan, Sari mengaku omzet yang didapat saat ini terbilang stabil untuk ukuran usaha yang baru berjalan sekitar enam bulan dan sempat terpotong momentum libur Ramadan serta Lebaran.
“Karena ini masih baru, omzetnya terbilang rata-rata (so-so). Namun yang pasti, untuk operasional dan membayar gaji karyawan harian sebesar Rp100.000 per hari, kami masih sangat sanggup,” kata Sari.
Ia menambahkan, perputaran omzet tertinggi biasanya terjadi pada hari-hari efektif sekolah, memanfaatkan waktu kunjungan pagi hari serta jam pulang sekolah para siswa SMP dan SMA di sekitar lokasi. Jika kunjungan sedang ramai, Kedai Habi bahkan kerap memperpanjang jam operasionalnya hingga waktu Magrib.









