LENSABANTEN.CO.ID — Pernahkah kalian merasa gengsi setengah mati hanya karena salah kostum saat lagi nongkrong sama teman-teman? Hanya salah warna atau model saja rasanya sudah ingin cepat-cepat pulang karena malu, kan?
Sekarang, coba yuk kita putar mesin waktu dan bayangkan situasi yang jauh lebih horor. Bayangkan besok pagi kamu ada jadwal interview kerja yang super penting untuk masa depanmu, tapi satu-satunya celana yang kamu punya di lemari adalah celana pendek yang bagian belakangnya sudah bolong dan dipenuhi oleh belasan tambalan yang warnanya berbeda-beda.
Mau pinjam ke tetangga tapi tidak ada yang punya, mau beli barupun jangankan buat bayar ke kasir, buat makan siang hari ini saja uangmu tidak cukup. Horornya berkali-kali lipat, kan?
Bagi kita yang hidup di era modern, pakaian mungkin hanya sebatas soal OOTD, trend fashion, atau modal untuk bikin konten di media sosial. Tapi buat Kusno, seorang remaja berusia 14 tahun yang hidup di zaman penjajahan Jepang, selembar celana pendek usang adalah taruhan harga diri paling maksimal demi bisa mendapatkan pekerjaan dan menyambung hidup.
Kondisi nyesek dan realistis ini ditulis dengan sangat luar biasa oleh sastrawan legendaris Idrus dalam cerpen yang berjudul “Kisah Sebuah Celana Pendek”. Cerpen ini bisa kamu temukan dalam buku kumpulan cerpen “Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma” karya Idrus.
Di sini, Idrus sama sekali tidak menjual cerita pahlawan yang memegang senjata atau memimpin perang. Dia justru ingin menunjukan realitas yang jauh lebih menampar dan dekat dengan masyarakat, yaitu bagaimana ambisi politik orang-orang besar di panggung perang bisa membuat dompet, pakaian, dan perut rakyat kecil hancur lebur.
Begini cara perang pelan-pelan mencekik kehidupan Kusno dan orang-orang kecil lainnya pada masa itu.
Harga Diri yang Dipertaruhkan di Selangkangan
Semua cerita ini bermula saat Kusno kecil senang sekali karena mendapatkan hadiah sebuah celana pendek baru dari ayahnya. Celana itu bermerk Kelana kepar 1001 buatan Italia.
Menariknya, momen saat Kusno mendapatkan celana baru ini bertepatan dengan hari dimana pangkalan Pearl Harbour dibom oleh tentara Jepang.
Bagi keluarga Kusno yang merupakan rakyat jelata serba miskin, memiliki celana baru buatan luar negeri seperti itu sudah merasa layak punya barang branded paling mewah yang pernah ada. Celana itu disimpan baik-baik sebagai harta paling berharga.
Tapi yang namanya waktu dan keadaan seringkali berjalan sangat kejam. Saat Kusno tumbuh remaja dan menginjak usia 14 tahun, ia harus mulai keluar rumah untuk mencari lowongan kerja demi menghidupi keluarga. Sayangnya, celana legendaris Italia pemberian ayahnya itu posisinya sudah hancur-hancuran, robek sana-sini dan warnanya sudah kusam.
Di sinilah letak menariknya karakter Kusno yang dibangun oleh Idrus. Alih-alih memilih yang mudah seperti mengemis di jalanan atau mencuri, Kusno tetap memilih keliling kota memakai celana penuh tambalannya demi menjaga kehormatan dirinya.
Celana kusam dan bolong itu dipakai sebagai modal melamar kerja dari satu tempat ke tempat lain. Lewat bagian ini, Idrus seolah mau menyindir kita semua yang hidup di zaman sekarang yang di mana kadang hal yang kita anggap remeh (seperti sebuah celana pendek) bisa jadi adalah benteng pertahanan terakhir untuk menjaga harga diri bagi orang lain.
Gaji yang Mendadak Jadi Sampah akibat Inflasi
Saat tentara Jepang pertama kali datang ke Indonesia, sebagian besar masyarakat bersorak gembira. Banyak orang yang berpikir bahwa kemerdekaan serta kesejahteraan sudah di depan mata.
Kusno pun sempat merasakan angin segar itu ketika dia berhasil diterima bekerja dan mendapatkan gaji sebesar sepuluh rupiah sebulan. Kalau kita bayangkan hidup di zaman normal sebelum perang, uang sepuluh rupiah itu jelas nominal yang besar dan cukup banget untuk membeli pakaian baru sekaligus makan enak sebulan penuh.
Tapi kenyataannya di lapangan malah membuat kepala menggeleng. Janji kesejahteraan dari penjajah baru itu hanya zonk belaka. Perang dunia yang berkecamuk membawa efek domino berupa inflasi yang gila-gilaan di dalam negeri.
Harga-harga barang kebutuhan pokok meroket tajam di luar nalar, membuat nilai mata uang sepuluh rupiah milik Kusno jatuh dan tidak ada harganya sama sekali di pasar.
Yang Main Politik Siapa, yang Jadi Korban Siapa
Bagian paling pahit sekaligus menjadi tamparan keras dari cerpen ini ada pada bagian akhir cerita. Kusno digambarkan sebagai representasi nyata dari jutaan rakyat kecil yang lahir di dalam kesengsaraan, menghabiskan umur bersama kesengsaraan, dan kemungkinan besar juga akan mati dalam kondisi sengsara.
Meskipun hidupnya dijepit oleh kemiskinan yang ekstrim akibat perang, Kusno tetap teguh pada pendiriannya untuk menjadi orang jujur dan tidak mau mencuri karena dia punya rasa takut yang besar kepada Tuhan.
Lewat kisah akhir Kusno yang begitu pahit, Idrus seolah melempar sebuah pertanyaan besar yang sangat menusuk diri kita: kenapa sih di dunia ini harus selalu ada peperangan? Ketika para penguasa dan orang-orang besar di atas sana sibuk berpidato tentang strategi militer, ideologi negara, dan perebutan wilayah kekuasaan, jutaan orang kecil seperti Kusno justru hidup luntang-lantung dan bingung apakah besok pagi mereka masih bisa makan atau tidak.
Pada akhirnya, sejarah dari zaman dulu sampai era modern sekarang selalu punya pola yang sama dan terus berulang: siapa pun orang besar yang membuat masalah dan menyulut konflik, tetap rakyat kecil dan orang-orang sederhanalah yang selalu dipaksa mengalah untuk jadi korban dan dikorbankan.
Ditulis Oleh : Ananda Mawada Soedrajat










