IzinKOTA TANGERANG, LENSABANTEN. CO. ID– Dinas Ketenagakerjaan Kota Tangerang terus berupaya meningkatkan kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas (difabel) melalui serangkaian program sosialisasi, pelatihan, dan kolaborasi strategis. Meski masih menghadapi tantangan, dua perusahaan—PT One Brothers dan Alfamart—telah menjadi pionir dalam merekrut difabel, dengan total 25 pekerja terserap sejauh ini.
Kepala Dinas Ketenagakerjaan Kota Tangerang, Ujang Hendra, mengungkapkan optimisme bahwa target penyerapan tenaga kerja difabel bisa meningkat 2-3 kali lipat pada tahun ini.
Ujang Hendra menekankan bahwa sosialisasi kepada dunia industri membutuhkan energi besar, terutama dalam membangun kesadaran empati terhadap difabel.
“Alhamdulillah, selama tiga tahun saya menangani ini, sudah ada dua perusahaan yang membuka pintu. Tapi ini belum cukup. Kami terus mendorong industri lain untuk melihat potensi saudara-saudara kita yang memiliki keterbatasan fisik,”ujarnya.
Menurutnya, tantangan utama terletak pada minimnya fasilitas penunjang di perusahaan dan keterbatasan spesifikasi skill difabel.
“Fasilitas seperti aksesibilitas dan utilitas untuk difabel masih belum memadai. Selain itu, pelatihan hard skill dan soft skill perlu ditingkatkan,” tambahnya.
Kemudian juga ada lembaga pendukung lainnya, kemitraan Australia – Indonesia dan Pusat Rehabilitas YAKKUM.
Kolaborasi dengan Yayasan dan Pelatihan Digital
Untuk menjawab tantangan ini, Pemkot Tangerang menggandeng Yayasan Difabel Mandiri Indonesia guna menyelenggarakan pelatihan berbasis kebutuhan industri.
“Kami fokus pada pelatihan digital, seperti konten kreator dan digital marketing, agar difabel bisa bersaing di era modern,” jelas Ujang.
Alfamart, salah satu perusahaan perintis, memberikan contoh konkret dengan melatih difabel tunarungu untuk layanan pelanggan. Sementara di sektor garmen, difabel dengan keterbatasan fisik tertentu diberdayakan sesuai kemampuan.
Job Fair Khusus Difabel
Sepanjang 2024, Dinas Ketenagakerjaan telah menggelar job fair khusus difabel untuk memperluas lapangan kerja.
“Target kami, jumlah 25 pekerja difabel yang sudah terserap bisa naik 2-3 kali lipat. Butuh komitmen semua pihak, termasuk pengawasan dari provinsi untuk memastikan perusahaan memenuhi kuota 1%,” tegas Ujang.
Mohamad Syakur, Program Manajer Yayasan Difabel Mandiri Indonesia, menyebut masih banyak perusahaan yang belum siap secara lingkungan maupun kebijakan dalam merekrut tenaga kerja difabel.
“Masih ada teman-teman kita yang kesulitan mendapatkan pekerjaan karena perusahaan memiliki persyaratan tertentu yang tidak ramah disabilitas,” ujarnya.
Menurut Syakur, kehadiran Unit Layanan Disabilitas dapat menjadi jembatan komunikasi antara penyandang disabilitas, pemerintah, dan perusahaan.
“Kami berharap melalui ULD ini, gap yang selama ini ada bisa diatasi. Kami bisa berkolaborasi untuk menyelaraskan kebutuhan perusahaan dengan keahlian yang dimiliki para difabel,” tambahnya.








