Saling Lapor Kasus Dugaan Penganiayaan Damkar Pinang, Terduga Pelaku Buka Suara

tangkapan layar video. Dalam rekaman video amatir yang beredar, pelaku terlihat mengenakan kaos kuning dan mengamuk. Ia melontarkan kata-kata kasar, melempar botol air mineral, hingga akhirnya memukul korban tanpa ampun.

TANGERANG, LENSABANTEN.CO.ID – Kasus dugaan penganiayaan terhadap petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) UPT Pinang kini memasuki babak baru. Terduga pelaku berinisial SL alias A memberikan klarifikasi sekaligus melaporkan balik petugas BPBD Kota Tangerang ke Polsek Pinang.

Peristiwa yang terjadi pada Jumat sore, 10 April 2026 itu disebut dipicu oleh kesalahpahaman di lokasi kejadian. SL mengaku tersinggung atas ucapan yang dianggap kasar di hadapan keluarganya.

Bacaan Lainnya

SL menjelaskan, saat itu dirinya datang ke kawasan Kecamatan Pinang untuk mengantar cucunya latihan drumband di TK Negeri Pembina. Lokasi tersebut diketahui bersebelahan dengan Kantor Damkar UPT Pinang.

Karena datang lebih awal dan kondisi cuaca cukup panas, SL bersama istrinya memutuskan untuk beristirahat sejenak di pos Damkar. Ia menilai hal tersebut merupakan hal yang biasa dilakukan.

“Gue izin sama petugas yang ada di situ, “Bang, izin numpang duduk ya,” ujar SL saat dihubungi Minggu. 12 April 2026.

Situasi mulai berubah ketika salah satu petugas merespons dengan nada yang dinilai kurang bersahabat. SL menilai sikap tersebut terkesan arogan dan memancing emosinya.

“Petugas yang satu responnya baik, tapi yang satu ini (korban pemukulan) dengan arogannya bilang, “Duduk-duduk aja asal jangan macem-macem’,” sambung SL sambil menirukan petugas Damkar tersebut.

Ketegangan semakin meningkat saat SL mengaku dituding dalam kondisi mabuk dan dikaitkan dengan lembaga swadaya masyarakat (LSM). Tuduhan tersebut membuatnya merasa dipermalukan di depan keluarga.

“Dia bilang biar LSM nggak macem-macem dan rese di sini. Padahal gue bukan LSM, gue ke sini nganter cucu. Gue dibilang mabuk lagi. Gue panas karena digituin di samping istri dan cucu gue,” tegasnya.

SL mengakui sempat terpancing emosi hingga melempar gelas kopi ke arah petugas. Ia juga menyebut adanya upaya pemukulan lebih dulu dari pihak petugas meski tidak mengenai dirinya.

“Dia sempat nonjok gue tapi nggak kena, makanya gue pukul dia langsung jatuh. Pas dia jatuh, dia sempat nendang gue juga. Kejadian itu banyak saksi, ada videonya juga gue punya,” ungkap SL.

Usai kejadian tersebut, SL mengetahui dirinya telah dilaporkan ke pihak kepolisian oleh petugas Damkar. Tidak terima dengan situasi itu, ia kemudian mengambil langkah hukum serupa.

“Gue lapor balik atas perbuatan tidak menyenangkan. Laporan gue diterima, gue bawa dua saksi yaitu istri dan rekan gue,” jelasnya.

SL juga menyampaikan kritik terhadap sikap pelaporan yang dilakukan oleh lawannya. Ia menilai persoalan tersebut seharusnya tidak perlu berujung ke ranah hukum.

“Menurut saya, kalau memang ini perkelahian laki-laki sama laki-laki, kalau salah satu ada yang kalah, kenapa harus lapor polisi? Kenapa harus cengeng?” cetusnya.

Meski demikian, SL mengaku siap menghadapi konsekuensi hukum atas kejadian tersebut. Ia juga berharap kejadian serupa tidak terulang di kemudian hari.

“Gue minta para petugas pelayanan publik atau siapapun dapat menjaga lisan dan etika dalam berkomunikasi, jaga lidah dah,” tutupnya.

Kasus ini kini tengah ditangani pihak Polsek Pinang untuk mengungkap fakta yang sebenarnya. Proses hukum diharapkan dapat memberikan kejelasan atas peristiwa yang melibatkan kedua belah pihak tersebut.

Pos terkait

Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari lensabanten.co.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.