LEBAK, LENSABANTEN.CO.ID — Di tengah derasnya perubahan zaman, masyarakat adat Baduy di Kabupaten Lebak, Banten, tetap mempertahankan tradisi leluhur dan hubungan selaras dengan alam. Mereka mendiami sekitar 5.100 hektare tanah ulayat di Pegunungan Kendeng dan masih mematuhi warisan nenek moyang yang berlandaskan kepercayaan Sunda Wiwitan.
Salah satu tradisi yang paling menonjol adalah Seba.
Menurut Jaro Oom, tetua adat sekaligus Kepala Desa Kanekes, Seba digelar setelah rangkaian Kawalu selesai untuk mempererat hubungan dengan pemimpin daerah. Ia menegaskan bahwa Seba merupakan kegiatan sakral yang wajib dijalankan masyarakat adat.
Pada 2026, ribuan warga Baduy Dalam dan Baduy Luar memadati Pendopo Pemkab Lebak pada Jumat (24/4) malam silam, sebagai wujud syukur atas hasil pertanian ladang. Jumlah peserta tercatat sekitar 1.500-an orang, dengan angka yang berbeda-beda antarlaporan.
BACA JUGA : Aturan Wisatawan di Baduy: Panduan Lengkap Sebelum Menjejakkan Kaki di Tanah Adat Kanekes
Hasil bumi yang diserahkan kepada Bupati Lebak dan Gubernur Banten antara lain pisang, beras huma, gula aren, kue tepung laksa, dan madu.
Sekretaris Desa Kanekes, Medi, menyebut warga Baduy Dalam tetap berjalan kaki ke mana pun dan dilarang menggunakan kendaraan. Tradisi ini juga mendapat dukungan pemerintah.
Seba Baduy kembali masuk Karisma Event Nusantara 2026, program nasional Kementerian Pariwisata.
Dalam acara itu, Gubernur Banten menyatakan komitmen melindungi keberlangsungan adat Baduy, sementara warga menitipkan pesan pelestarian alam. (tradisi seba 2026 warga badui siap turun gunung serahkan hasil bumi.
BACA JUGA : Panduan Lengkap Penginapan di Sekitar Ciboleger untuk Wisata Baduy Luar dan Baduy Dalam
Dalam keseharian, masyarakat Baduy terbagi menjadi dua kelompok. Baduy Dalam lebih ketat menjalankan adat, sedangkan Baduy Luar lebih terbuka terhadap pengaruh luar, meski tetap memegang tradisi.
Di puncak struktur sosial, Puun menjadi pemimpin spiritual dan penjaga utama adat. Warga Baduy Luar diperbolehkan memakai beberapa teknologi sederhana dan berperan sebagai penyangga.
Kearifan itu tampak pula dalam pengelolaan lingkungan.
Warga menjaga hutan, sungai, dan tanah, tidak memakai bahan kimia berlebihan, serta tidak mengeksploitasi alam secara besar-besaran.
BACA JUGA : Rute Lengkap Jakarta–Baduy: dari Tanah Abang, Rangkasbitung, hingga Ciboleger
Tradisi menenun diwariskan turun-temurun, dan pewarna alami lebih banyak dipakai warga Baduy Dalam yang menaati adat secara ketat.
Meski demikian, tantangan tetap ada. Globalisasi dan perkembangan teknologi menekan upaya mempertahankan tradisi, tetapi ritual yang dijalankan terbukti tetap tangguh.








