KOTA TANGERANG, LENSABANTEN.CO.ID – Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) Soekarno-Hatta meningkatkan langkah kewaspadaan terhadap potensi masuknya hantavirus melalui Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Pengawasan diperketat terutama bagi pelaku perjalanan internasional yang datang dari negara dengan laporan kasus hantavirus.
Kepala Kantor Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan Soekarno-Hatta, Naning Nugrahini, menyebut kesiapsiagaan dilakukan melalui sejumlah prosedur pemeriksaan sejak penumpang tiba di bandara.
“Untuk hantavirus yang saat ini sedang ramai dibicarakan, kami di Soekarno-Hatta sudah melakukan kesiapsiagaan melalui pengisian deklarasi kesehatan. Dari situ kami bisa mengetahui risiko dari penerbangan maupun pelaku perjalanan,” ujar Naning, pada Selasa, 12 Mei 2026.
Selain pengisian deklarasi kesehatan, petugas juga melakukan pemantauan menggunakan thermal scanner dan observasi visual terhadap kondisi penumpang. Pemeriksaan lanjutan akan dilakukan apabila ditemukan gejala yang mengarah pada dugaan paparan hantavirus.
“Kalau dari hasil pemeriksaan dinyatakan probable, maka akan kami rujuk ke rumah sakit pusat infeksi untuk penanganan lebih lanjut,” katanya.
BBKK Soekarno-Hatta juga menyiapkan mekanisme evakuasi khusus untuk penanganan penyakit menular. Fasilitas tersebut dilengkapi ambulans khusus yang memiliki sistem dekontaminasi untuk mencegah penyebaran virus selama proses penanganan pasien.
“Ambulans ini memiliki sistem dekontaminasi sehingga virus, bakteri, atau kuman dari pasien dapat dibersihkan dan tidak menyebar kepada orang lain,” jelasnya.
Naning mengatakan hantavirus bukan penyakit baru di Indonesia karena penelitian terkait virus tersebut telah dilakukan sejak beberapa tahun lalu. Berdasarkan data yang diterima pihaknya, terdapat puluhan kasus yang tercatat dalam periode 2024 hingga 2026.
“Dari 2024 sampai 2026 sudah tercatat 23 orang teridentifikasi virus hanta,” ungkapnya.
Pengawasan ketat juga diterapkan terhadap penerbangan langsung dari sejumlah negara yang telah melaporkan kasus hantavirus, seperti Amerika Serikat, Argentina, Paraguay, dan Panama. Daftar negara tersebut disebut dapat berubah mengikuti perkembangan situasi global.
“Kami melakukan pengetatan pengawasan terhadap penerbangan dari negara-negara tersebut. Namun daftar itu bisa berubah sesuai perkembangan situasi,” ujarnya.
Ia menegaskan hantavirus memiliki karakteristik penularan yang berbeda dengan COVID-19. Menurutnya, penularan hantavirus lebih banyak terjadi melalui kontaminasi dari tikus dibanding penularan antar manusia.
“Kalau COVID penularannya dari manusia ke manusia. Sedangkan hantavirus lebih banyak melalui kontaminasi dari tikus,” katanya.
Masyarakat juga diminta untuk menjaga kebersihan lingkungan dan menerapkan pola hidup sehat guna mencegah potensi penyebaran penyakit.
Keberadaan tikus di lingkungan sekitar perlu diwaspadai karena sebagian jenisnya dapat membawa virus dan penyakit tertentu.
“Dari 51 jenis tikus, ada 24 jenis yang bisa menyebabkan penyakit,” ucapnya.
Dalam penanganan kasus dugaan hantavirus, BBKK Soekarno-Hatta akan melakukan asesmen menyeluruh terhadap riwayat perjalanan dan kontak erat penumpang.
Jika masuk kategori probable case, pasien akan dirujuk ke Rumah Sakit Pusat Infeksi Sulianti Saroso menggunakan ambulans khusus penyakit menular.
Naning menambahkan masa observasi terhadap kontak erat maupun pasien yang diduga terpapar hantavirus dapat berlangsung hingga 42 hari. Hingga kini, pihaknya memastikan belum ditemukan kasus hantavirus di pintu masuk Bandara Soekarno-Hatta.
“Hingga saat ini kami belum menemukan kasus hantavirus di pintu masuk Bandara Soekarno-Hatta,” pungkasnya.









