Baru 20,76 Juta Pelaku UMKM yang Memanfaatkan Ekosistem Digital

Aramara Boutique yang telah sukses membangun bisnis tren fashion Indonesia dengan karakter unik sejak tahun 2015 silam.
Ini merupakan hasil dari eksplorasi passion saya di bidang arsitektur dan fashion. Berawal dari mengembangkan diri di ESMOD, Jakarta

LENSABANTEN.CO.ID – Sebagai negara berkembang, Indonesia memiliki modal besar untuk bisa menjadi negara maju. Salah satunya adalah jumlah pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang terbukti mampu menjadi tameng resesi dan keluar dari tekanan pandemi covid-19 lalu.

Menurut data Kementerian Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (Kemenkop UKM) pada tahun 2023 terdapat 64,2 juta pelaku UMKM. Sayangnya sampai akhir tahun lalu, baru 20,76 juta pelaku UMKM yang memanfaatkan ekosistem digital. Padahal pemanfaatan digital ini mampu memperbesar skala ekonomi UMKM agar bisa naik kelas.

Bacaan Lainnya

Sejak pemerintah meresmikan Gerakan kemitraan Inklusif untuk UMKM Naik kelas pada 3 Oktober 2022 lalu, berbagai percepatan dilakukan. Bahkan Kemenkop UKM sendiri menargetkan setiap tahun mencetak 6 juta pelaku UMKM untuk masuk ke ekosistem digital.

Board Member Sinar Mas, Franky Widjaja melalui gelaran Sinar Mas Digital Day menegaskan bahwa Sinar Mas selalu berupaya untuk mengedepankan inovasi dan kolaborasi. Terlebih saat ini perkembangan teknologi tengah bergerak sangat cepat sehingga melahirkan banyak digital opportunities.

Menurutnya penting untuk memanfaatkan peluang ini sebagai wadah untuk tumbuh dan berkembang, khususnya bagi sektor UMKM.

“Dengan digitalisasi kita bisa lebih inklusif kepada UMKM, sejalan dengan program UMKM naik kelas yang telah di-launching oleh Bapak Presiden Jokowi pada 3 Oktober 2022,” ungkapnya baru-baru ini di ICE BSD City, Tangerang Selatan.

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN), Arsjad Rasjid menambahkan kemungkinan besar, transformasi digital bagi masa depan Indonesia lebih dari sekadar tren yang berlalu.

Ia pun memaparkan, data dari Forum Ekonomi Dunia (WEF) pada tahun 2025 menyatakan bahwa transformasi digital dapat menghasilkan nilai hingga 100 triliun dolar AS secara global untuk bisnis dan masyarakat. Untuk Indonesia, tambahnya, manfaat transformasi digital sudah terlihat jelas.

Ekonomi digital Indonesia pun diperkirakan akan tumbuh menjadi 130 miliar dolar AS pada tahun 2025, seperti dilaporkan oleh Temasek, Google, dan Bain & Company.

“Program bantuan ini dirancang dengan tujuan mengembangkan ekosistem inklusif dengan mengintegrasikan UMKM ke dalam ekonomi digital, sehingga tidak hanya berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memupuk masyarakat yang seimbang yang diberdayakan oleh alat-alat digital,” ucapnya.

Melalui upaya yang signifikan ini, ia menegaskan bahwa langkah Sinar Mas menjadi contoh kepemimpinan aktif dan semangat kolaboratif yang mendorong Indonesia menuju masa depan digital yang makmur.

Menurut Kadin, transformasi digital merupakan kunci untuk membuka masa depan Indonesia, karena bisnis pada skala UMKM akan menjadi tulang punggung ekonomi dengan menyerap jutaan tenaga kerja, dan memberikan kontribusi yang signifikan pada PDB.

“Oleh karena itu, transformasi digital bagi UMKM sangatlah penting. Peran kami sebagai sektor swasta adalah menciptakan lingkungan yang mendorong eksplorasi dan inovasi, memungkinkan bisnis-bisnis untuk menjelajahi lanskap digital dengan efektif,” tegasnya.

Pos terkait

Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari lensabanten.co.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.