PALESTINA, LENSABANTEN.CO.ID – Perang di Palestina antara Hamas dengan Israel saat ini tengah gencatan senjata, momen digunakna untuk pertukaran tawanan serta pasokan pangan dan obat-obatan bagi korban.
Jeda kemanusiaan ini pun dimanfaatkan oleh sejumlah organisasi kemanusiaan dari berbagai pihak, guna menolong korban yang banyak dari pihak warga di Palestina.
Terkait kondisi ini, Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa melalui mitra lokal di Gaza mendistribusikan paket sanitasi perempuan bagi korban terdampak agresi serangan Israel.
Di tengah kepungan serangan, kebutuhan sanitasi bagi kelompok rentan, khususnya perempuan menjadi aspek yang perlu diperhatikan.
“Berdasarkan informasi yang dikumpulkan oleh DMC Dompet Dhuafa, kebutuhan sanitasi perempuan seperti pembalut, tisu, hand sanitizer, dan lain sebagainya sangat sulit didapatkan,” ujar Arif Rahmadi Haryono selaku Ketua Delegasi Tim Kemanusiaan Dompet Dhuafa-IHA melalui pesan singkat pada Senin sore 27 November 2023.
DMC Dompet Dhuafa bersama mitra dengan dukungan dari masyarakat, menyalurkan 1.000 paket sanitasi perempuan yang telah didistribusikan di wilayah Gaza bagian utara
Relawan mitra lokal DMC Dompet Dhuafa perlahan-lahan mengelilingi tempat pengungsian yang berdekatan dengan reruntuhan bangunan untuk mendistribusikan langsung kepada 1.000 penerima manfaat.
Selain itu Dapur Umum Dompet Dhuafa (Dompet Dhuafa Kitchen) juga masih terus hadir hingga saat ini. Setiap harinya tim memasak untuk 1.000 jiwa yang sedang mengungsi di Jalur Gaza.
“Terima kasih telah membantu kami,” pungkas salah seorang penerima manfaat.

Jumlah Terbaru Korban di Gaza
Kabar terbaru yang dihimpun oleh Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs/ OCHA), per 23 November lalu, lebih dari 14.800 jiwa tewas akibat agresi militer Zionis. Termasuk 6.000 jiwa anak-anak dan 4.000 perempuan menurut Kantor Media Pemerintahan Gaza.
Jumlah pengungsi terus meningkat, lebih dari 1,7 juta orang di Gaza, atau hampir 80 persen populasi, diperkirakan menjadi pengungsi internal. Dari jumlah tersebut, hampir 927.000 pengungsi berlindung di 99 fasilitas di wilayah selatan.
Karena kepadatan yang berlebihan dan kondisi sanitasi yang buruk di tempat penampungan Agensi Pekerjaan dan Pemulihan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi Palestina di Timur Dekat (The United Nations Relief and Works Agency for Palestine Refugees in the Near East /UNRWA), terjadi peningkatan signifikan pada beberapa penyakit dan kondisi menular seperti diare, infeksi saluran pernafasan akut, infeksi kulit dan kondisi yang berhubungan dengan kebersihan seperti kutu.









