BINTARO, LENSABANTEN.CO.ID —Universitas Pembangunan Jaya menyelenggarakan kuliah umum dan PRIMA Lanjutan dengan tema “Merajut Kebhinekaan di Era Globalisasi: Tantangan dan Peluang”. Kegiatan ini digelar oleh Unit Teaching Learning Center bersama Biro Kemahasiswaan dan Alumni.
Kuliah umum menghadirkan Komjen Pol (P) Drs Suhardi Alius M.H sebagai pembicara. Suhardi Alius memiliki pengalaman panjang di bidang keamanan dan ketahanan nasional. Ia pernah menjabat sebagai Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Republik Indonesia pada 2016 hingga 2020 serta Kepala Badan Reserse Kriminal Polri pada 2013 hingga 2015.
Dalam pemaparannya, Suhardi Alius menekankan bahwa tantangan ideologi bangsa saat ini semakin kompleks. Ancaman tidak hanya muncul dalam bentuk konflik fisik, tetapi juga menyebar melalui ruang digital.
“Ancaman terhadap ideologi bangsa saat ini tidak hanya datang dalam bentuk fisik, tetapi juga di ruang digital. Hoaks, ujaran kebencian, dan radikalisme bisa menyebar dengan cepat melalui media sosial,” ujarnya.
Ia menilai generasi muda perlu memiliki kemampuan berpikir kritis ketika menerima informasi. Literasi digital menjadi kemampuan penting agar mahasiswa dapat memilah informasi yang benar dan yang menyesatkan.
Menurutnya, mahasiswa juga memiliki peran penting dalam menjaga kebhinekaan Indonesia. Anak muda sering berada di ruang sosial yang beragam, baik di kampus, komunitas, maupun dunia digital.
“Berbeda adalah keniscayaan. Kebhinekaan adalah kekuatan bangsa Indonesia. Generasi muda perlu memahami hal ini dan menjadikannya sebagai dasar dalam berinteraksi di masyarakat,” kata Suhardi.
Ia juga menjelaskan beberapa langkah yang dapat dilakukan generasi muda untuk menjaga kebhinekaan di tengah arus globalisasi. Salah satunya dengan melestarikan budaya lokal.
Mahasiswa dapat mengenal kembali tradisi daerah, bahasa, maupun praktik budaya yang menjadi identitas masyarakat. Upaya ini membantu menjaga keberagaman budaya Indonesia di tengah pengaruh global.
Selain itu, pendidikan kebangsaan dan kegiatan lintas budaya juga penting untuk membangun toleransi. Mahasiswa dapat terlibat dalam diskusi, kegiatan budaya, atau proyek sosial yang mempertemukan kelompok dengan latar belakang berbeda.
Suhardi juga mengingatkan agar generasi muda selektif dalam menerima pengaruh budaya asing. Globalisasi membawa banyak peluang, tetapi mahasiswa perlu memahami nilai budaya lokal agar identitas nasional tetap terjaga.
Teknologi digital juga dapat dimanfaatkan untuk mempromosikan budaya Indonesia. Media sosial memberi ruang bagi anak muda untuk memperkenalkan tradisi, kuliner, atau seni lokal kepada publik yang lebih luas.
Dalam kuliah umum ini, Suhardi juga berbagi pengalaman ketika memimpin program rehabilitasi mantan pelaku terorisme. Program tersebut menggunakan pendekatan humanis dan pendekatan keagamaan agar para mantan pelaku dapat kembali berintegrasi dengan masyarakat.
“Pendekatan humanis dan pendekatan keagamaan membantu proses reintegrasi. Nilai Pancasila menjadi dasar agar mereka dapat kembali berkontribusi secara positif di masyarakat,” jelasnya.
Melalui kegiatan ini, Universitas Pembangunan Jaya ingin mendorong mahasiswa memahami peran mereka sebagai bagian dari masyarakat yang beragam.
“Bersatu adalah kesadaran. Toleransi dan semangat kebangsaan harus terus dijaga oleh generasi muda,” kata Suhardi menutup pemaparannya.









