KOTA TANGERANG, LENSABANTEN.CO.ID – Harga sejumlah komoditas pangan seperti cabai dan bawang terus menunjukkan tren kenaikan di berbagai pasar tradisional di Kota Tangerang. Kondisi ini tidak hanya membebani masyarakat sebagai konsumen, tapi juga menyulitkan para pedagang kecil yang mengalami penurunan daya beli dari pelanggan.
Kenaikan harga mulai terasa sejak beberapa pekan terakhir. Hingga kini, belum ada tanda-tanda bahwa harga-harga tersebut akan turun dalam waktu dekat.
Berdasarkan data resmi dari Perumda Pasar Kota Tangerang per 4 Juli 2025, harga cabai rawit merah tercatat mencapai Rp 70.000 per kilogram. Sementara harga bawang merah dan bawang putih masing-masing berada di kisaran Rp 45.000 dan Rp 40.000 per kilogram. Beberapa jenis cabai lainnya seperti cabai keriting dan cabai rawit hijau juga ikut naik, dengan harga menyentuh angka Rp 40.000 per kilogram.
Keluhan Pedagang di Pasar Tradisional
Kondisi ini turut dirasakan langsung oleh para pedagang di lapangan. Di Pasar Irigasi Sipon, Cipondoh, pedagang mengaku kesulitan mempertahankan omzet karena banyak pembeli mengurangi jumlah belanja mereka.
“Sudah hampir tiga minggu harga cabai naik terus. Dulu sehari bisa habis 5-6 kilogram, sekarang paling cuma 2-3 kilogram karena pembeli mengurangi jumlah belinya. Banyak yang cuma beli setengah ons,” ujar Bu Siti, pedagang cabai yang telah berjualan selama belasan tahun di Pasar Irigasi Sipon, pada Minggu, 6 Juli 2025.
Hal senada juga disampaikan oleh pedagang bawang di Pasar Anyar, Kota Tangerang.
“Harga dari agen sudah mahal, jadi kami juga nggak bisa jual murah. Sekarang banyak pelanggan yang mengeluh, terutama ibu-ibu dan penjual makanan. Dulu mereka beli sekilo, sekarang jadi setengah atau seperempat,” kata Mul, yang sehari-hari menjual bawang dan bumbu dapur lainnya di pasar tersebut.
Faktor Penyebab dan Dampaknya
Kenaikan harga ini disinyalir dipicu oleh sejumlah faktor utama. Cuaca yang tidak menentu beberapa waktu terakhir telah mengganggu produktivitas pertanian di daerah sentra.
Selain itu, distribusi barang dari wilayah penghasil juga terganggu akibat peningkatan biaya logistik.
Permintaan yang tetap tinggi, khususnya dari sektor rumah tangga dan pelaku UMKM makanan, memperparah keterbatasan stok yang tersedia di pasar-pasar tradisional.
Akibatnya, tidak sedikit konsumen yang mulai mengurangi konsumsi atau bahkan menunda pembelian.
“Kami dari pedagang juga bingung. Kalau dijual terlalu mahal, takut nggak laku. Tapi kalau dijual murah, bisa rugi. Harapannya pemerintah bisa bantu dengan operasi pasar atau pasokan dari distributor besar,” tambah Bu Siti saat dikonfirmasi Lensa Banten usai berbelanja.
Desakan untuk Intervensi Pemerintah
Situasi ini menjadi sinyal kuat bagi pemerintah daerah dan stakeholder terkait untuk segera melakukan intervensi guna menjaga stabilitas harga pangan, terutama komoditas strategis seperti cabai dan bawang.
Perumda Pasar, distributor, hingga regulator perdagangan diharapkan dapat duduk bersama menyusun langkah konkret, seperti menggelar operasi pasar murah atau mempercepat distribusi dari sentra produksi ke pasar lokal.
Jika tidak segera ditangani, lonjakan harga ini dapat berdampak lebih luas terhadap inflasi daerah dan mengganggu kestabilan ekonomi masyarakat kecil.









