Kasus Penyakit Campak di Lebak Melonjak, Keterbatasan Lab Jadi Kendala Utama

TANGERANG, LENSABANTEN.CO.ID– Lonjakan kasus terduga campak di Kabupaten Lebak sepanjang setahun terakhir menjadi perhatian serius sektor kesehatan. Situasi ini semakin kompleks karena keterbatasan fasilitas pemeriksaan laboratorium yang dihadapi Dinas Kesehatan setempat.

Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Lebak mencatat sebanyak 317 kasus terduga campak sepanjang 2025. Angka tersebut meningkat 23,8 persen dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 256 kasus, dengan Kecamatan Rangkasbitung sebagai wilayah dengan kasus terbanyak.

Bacaan Lainnya

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Lebak, Nining Tilawah, menjelaskan bahwa seluruh kasus yang tercatat masih berstatus dugaan. Hal ini disebabkan belum tersedianya pemeriksaan laboratorium untuk memastikan diagnosis campak.

“Baru terduga ya, belum bisa dipastikan campak karena saat ini kita belum bisa memeriksa spesimen serum, karena kekosongan reagen program di laboratorium BBLKM Jakarta,” ujarnya pada Rabu, 18 Maret 2026.

Di sisi lain, peningkatan kasus ini juga dipengaruhi oleh persoalan lama yang belum terselesaikan, yakni rendahnya cakupan imunisasi. Penurunan angka imunisasi sejak pandemi Covid-19 masih memberikan dampak hingga saat ini.

Kondisi tersebut membuat kekebalan kelompok di masyarakat menurun, sehingga risiko penularan penyakit menjadi lebih tinggi. Tingginya mobilitas masyarakat turut mempercepat penyebaran penyakit di berbagai wilayah.

“Masih ada masyarakat yang menolak anaknya diimunisasi, ditambah mobilitas masyarakat yang tinggi membuat penularan semakin cepat,” katanya.

Sebagai upaya penanganan, Dinkes Lebak memperkuat langkah pencegahan melalui peningkatan surveilans dan penyelidikan epidemiologi. Program imunisasi juga terus digencarkan untuk menekan penyebaran kasus.

Selain itu, edukasi kepada masyarakat terus dilakukan, terutama dalam mengenali gejala awal campak agar penanganan bisa dilakukan lebih cepat. Masyarakat diimbau segera membawa anak ke fasilitas kesehatan jika menunjukkan tanda-tanda penyakit.

“Kalau ada anak dengan gejala demam, batuk, pilek, dan muncul ruam kemerahan, segera dibawa ke fasilitas kesehatan,” imbaunya.

Dinkes juga menekankan pentingnya menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat dalam kehidupan sehari-hari. Pembatasan aktivitas anak yang sedang sakit juga dinilai penting untuk mencegah penularan lebih luas.

“Untuk sementara anak sebaiknya istirahat di rumah agar tidak menularkan ke yang lain,” pungkasnya.

Sebagai penutup, Dinkes Lebak mengajak seluruh masyarakat untuk lebih peduli terhadap imunisasi dan kesehatan anak. Upaya bersama dinilai menjadi kunci dalam menekan lonjakan kasus campak di wilayah tersebut.

Pos terkait

Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari lensabanten.co.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.