Oleh: Nisyyah Aulia Zen
Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Di antara banyak karya sastra Indonesia lama, Salah Asuhan masih menjadi salah satu novel yang terasa relevan hingga sekarang. Novel karya Abdoel Moeis ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1928 oleh Balai Pustaka dan dikenal sebagai salah satu karya penting dalam sastra Indonesia klasik.
Meski sudah berusia puluhan tahun, isu yang diangkat dalam novel ini masih dekat dengan kehidupan modern, terutama tentang krisis identitas, pengaruh budaya asing, dan keinginan untuk diterima oleh lingkungan tertentu. Melalui tokoh Hanafi, pembaca diperlihatkan bagaimana seseorang bisa kehilangan dirinya sendiri karena terlalu terobsesi pada budaya yang dianggap lebih “maju”.
Hanafi digambarkan sebagai pemuda Minangkabau yang memperoleh pendidikan Barat sejak kecil. Pendidikan tersebut membuat cara berpikir Hanafi berbeda dari lingkungan keluarganya. Ia mulai memandang adat dan budaya sendiri sebagai sesuatu yang kuno. Dalam dirinya tumbuh keinginan untuk menjadi seperti orang Eropa, bahkan hingga merasa malu terhadap identitas pribuminya sendiri.
Konflik mulai berkembang ketika Hanafi jatuh cinta kepada Corrie du Bussee, perempuan keturunan Belanda yang sudah dikenalnya sejak kecil. Di sisi lain, keluarganya justru menjodohkannya dengan Rapiah, perempuan Minangkabau yang lembut dan taat adat. Hanafi menerima pernikahan itu karena tekanan keluarga, tetapi rumah tangganya tidak pernah benar-benar bahagia. Ia terus membandingkan Rapiah dengan perempuan Barat yang dianggap lebih modern.
Setelah berhasil menikahi Corrie pun, kehidupan Hanafi tidak otomatis menjadi lebih baik. Ia justru semakin kehilangan arah hidup dan terjebak dalam konflik batin yang membuat hidupnya berakhir tragis. Dari sini, Abdoel Moeis seolah ingin menunjukkan bahwa kehilangan jati diri hanya akan membawa penyesalan.
Kekuatan utama novel ini terletak pada kritik sosial yang disampaikan secara halus melalui cerita. Pembaca tidak hanya disuguhi kisah percintaan, tetapi juga diajak memahami benturan budaya Timur dan Barat pada masa penjajahan. Konflik yang dialami Hanafi menggambarkan bagaimana pendidikan dan lingkungan dapat memengaruhi cara seseorang memandang dirinya sendiri.
Selain itu, karakter dalam novel ini terasa kuat dan memiliki peran yang penting dalam membangun cerita. Hanafi digambarkan sebagai sosok ambisius dan egois, sementara Rapiah tampil sebagai perempuan yang sabar dan setia. Corrie sendiri menjadi gambaran dunia Barat yang selama ini diidolakan Hanafi.
Walaupun begitu, novel ini memiliki kekurangan pada penggunaan bahasanya yang cukup sulit dipahami oleh sebagian pembaca modern. Beberapa bagian juga terasa lambat karena menggunakan gaya penceritaan khas sastra lama. Namun justru di situlah letak nilai historis dari novel ini.
Secara keseluruhan, Salah Asuhan bukan sekadar novel tentang percintaan, melainkan juga tentang pencarian identitas dan dampak dari sikap yang terlalu mengagungkan budaya asing. Novel ini mengingatkan pembaca bahwa modernitas tidak harus membuat seseorang melupakan akar budayanya sendiri.
Karena isi dan pesan moralnya yang kuat, novel ini masih layak dibaca oleh generasi sekarang, terutama pelajar dan mahasiswa. Di tengah arus globalisasi yang semakin besar, konflik yang dialami Hanafi terasa seperti pengingat bahwa menjadi modern tidak berarti harus kehilangan jati diri.
Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.










