Membaca Bawuk Karya Umar Kayam Lewat Psikoanalisis Freud

Membaca Bawuk Karya Umar Kayam Lewat Psikoanalisis Freud
Membaca Bawuk Karya Umar Kayam Lewat Psikoanalisis Freud

LENSABANTEN.CO.ID — Novelet Bawuk karya Umar Kayam tetap menjadi salah satu potret kemanusiaan paling jujur dalam sastra Indonesia yang berlatar tragedi 1965. Fokus utamanya bukan pada pertarungan ideologi, melainkan pada pilihan hidup seorang perempuan bernama Bawuk.

Lahir sebagai anak bungsu dari keluarga priayi terpandang, Bawuk mengambil keputusan yang sulit dipahami oleh keluarganya: meninggalkan kenyamanan hidup kelas menengah dan memilih menemani suaminya, Hasan, seorang aktivis PKI yang menjadi buronan setelah peristiwa 1965.

Bacaan Lainnya

Bagi keluarga dan masyarakat di sekitarnya, pilihan Bawuk tampak tidak rasional. Namun, melalui pendekatan Psikoanalisis yang dikembangkan oleh Sigmund Freud, keputusan tersebut dapat dibaca sebagai hasil konflik batin yang kompleks antara dorongan personal, nilai sosial, dan kesadaran realitas yang membentuk kepribadiannya.

Dalam teori Freud, kepribadian manusia terdiri atas tiga struktur utama: Id, Ego, dan Superego. Superego merupakan pusat nilai moral, aturan sosial, serta tuntutan budaya yang ditanamkan sejak kecil.

Dalam kehidupan Bawuk, Superego hadir melalui lingkungan keluarga priayi yang menjunjung tinggi keteraturan, status sosial, kepatuhan, dan kehormatan keluarga. Kakak-kakaknya merepresentasikan suara Superego ini dengan memilih kehidupan yang aman, mapan, dan sesuai harapan masyarakat.

Di sisi lain, Bawuk sejak kecil menunjukkan ketertarikan pada dunia yang lebih egaliter dan dinamis. Ia merasa kurang nyaman dengan formalitas dan jarak sosial yang menjadi ciri kehidupan priayi.

Ketika bertemu Hasan, ia menemukan sosok yang berbeda dari lingkungan tempat ia dibesarkan. Hasan menawarkan kehidupan yang lebih terbuka, penuh semangat, dan memberi ruang bagi Bawuk untuk menjadi dirinya sendiri. Keterikatan emosional yang kuat inilah yang kemudian membentuk orientasi hidupnya.

Konflik tersebut semakin terlihat ketika tragedi politik 1965 terjadi. Pada saat itu, Ego Bawuk berada dalam posisi yang sulit. Di satu sisi, keluarganya mendesaknya untuk kembali ke rumah dan menyelamatkan diri. Pilihan tersebut sejalan dengan tuntutan Superego yang mengutamakan keamanan dan stabilitas.

Namun, di sisi lain, Bawuk memiliki keterikatan emosional yang mendalam terhadap Hasan. Ego akhirnya mengambil keputusan yang tidak sepenuhnya mengikuti tuntutan keluarga maupun dorongan ketakutan akan keselamatan diri. Ia memilih tetap bersama Hasan karena merasa bahwa di sanalah makna hidup dan identitas dirinya berada.

Pilihan ini menunjukkan bahwa keputusan Bawuk bukanlah kemenangan mutlak Id atas Superego, melainkan hasil negosiasi yang rumit antara berbagai dorongan psikis. Bawuk tetap mempertimbangkan realitas yang ada.

Hal ini tampak ketika ia menitipkan anak-anaknya kepada keluarganya sebelum kembali menemani Hasan. Tindakan tersebut memperlihatkan bahwa Ego masih bekerja secara aktif dalam mempertimbangkan konsekuensi dan tanggung jawab yang harus dihadapi.

Konflik batin Bawuk juga dapat dijelaskan melalui konsep Eros dalam teori Freud. Eros merupakan dorongan kehidupan yang mendorong manusia untuk mencintai, membangun hubungan, dan mempertahankan ikatan dengan orang lain.

Kesetiaan Bawuk kepada Hasan dapat dipahami sebagai manifestasi Eros yang sangat kuat. Cinta yang ia rasakan melampaui pertimbangan kelas sosial, keamanan, bahkan ancaman politik yang mengintai kehidupannya.

Ketika Bawuk kembali ke rumah keluarganya untuk menitipkan anak-anaknya, pembaca menyaksikan benturan dua dunia yang selama ini membentuk dirinya.

Di satu sisi terdapat keluarga priayi yang menawarkan perlindungan dan kenyamanan. Di sisi lain terdapat Hasan beserta seluruh risiko yang menyertainya.

Pertemuan tersebut memperlihatkan bahwa konflik utama dalam Bawuk bukan sekadar konflik politik, melainkan konflik psikologis antara identitas lama yang diwariskan keluarga dan identitas baru yang dipilih secara sadar oleh tokoh utama.

Untuk menghadapi kecemasan akibat situasi politik yang penuh teror, Bawuk juga menunjukkan mekanisme pertahanan diri berupa identifikasi. Ia mengidentifikasi dirinya secara kuat sebagai istri Hasan dan menjadikan identitas tersebut sebagai pijakan psikologis dalam menghadapi ketidakpastian.

Melalui identifikasi ini, Bawuk memperoleh rasa konsistensi dan makna di tengah situasi yang terus berubah. Posisinya sebagai istri bukan sekadar status sosial, melainkan sumber kekuatan mental yang membantunya bertahan.

Melalui kacamata Freud, Bawuk bukanlah perempuan yang bertindak secara impulsif atau sekadar mengikuti suaminya tanpa pertimbangan. Ia justru tampil sebagai individu yang mengalami pergulatan batin mendalam dan secara sadar memilih jalan hidup yang dianggap paling sesuai dengan dirinya.

Keputusan tersebut lahir dari konflik antara nilai-nilai keluarga, tuntutan sosial, cinta, serta kebutuhan untuk mempertahankan identitas yang diyakininya.

Lewat tokoh Bawuk, Umar Kayam menghadirkan sebuah kebenaran psikologis yang kuat: bahwa dalam situasi sejarah yang penuh kekerasan, manusia sering kali mengambil keputusan bukan semata-mata berdasarkan ideologi atau kepentingan praktis, melainkan berdasarkan keterikatan emosional dan identitas yang telah menjadi bagian terdalam dari dirinya.

Karena itu, Bawuk tidak hanya dapat dibaca sebagai cerita tentang tragedi politik 1965, tetapi juga sebagai kisah tentang pergulatan jiwa manusia dalam mempertahankan cinta, kesetiaan, dan makna hidup di tengah keadaan yang paling sulit sekalipun.

Ditulis oleh : Khoirillah, Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UIN Jakarta

Pos terkait

Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari lensabanten.co.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.