Salah Asuhan, Potret Generasi Culture Shock di Era Digital

LENSABANTEN.CO.ID — Sastra tentu tidak pernah lahir dari ruang yang hampa melainkan menjadi cermin pergulatan seorang pengarang dengan kondisi sosial-budaya pada zamannya.

Novel Salah Asuhan karya Abdoel Moeis, yang diterbitkan pertama kali oleh Balai Pustaka pada tahun 1928, merupakan potret nyata dari benturan kebudayaan, khususnya antara nilai-nilai tradisi Timur dan modernitas Barat.

Bacaan Lainnya

Jika pada awal abad ke-20 tokoh utama novel ini mengalami krisis identitas akibat pendidikan Barat di Betawi, maka di abad ke-21 ini melihat fenomena yang serupa tetapi berwujud dalam medium yang sama sekali baru.

Globalisasi, internet, dan media sosial seperti TikTok, Instagram, serta arus budaya pop telah merubah menjadi ruang digital yang mengubah mentalitas anak muda zaman sekarang.

Dalam novel tersebut, Hanafi digambarkan sebagai pemuda Bumiputra yang beruntung mendapatkan akses pendidikan ala Eropa.

Namun, alih memanfaatkan ilmunya untuk memajukan bangsanya, Hanafi justru mengalami culture shock atau kaget budaya yang akut.

Ia menjadi silau akan budaya Barat dan mulai memandang rendah adat istiadat, bahasa, bahkan agama ibunya sendiri yang ia anggap kuno serta lekat dengan takhayul.

Hanafi bahkan merasa tersinggung jika disebut sebagai orang Bumiputra dan memilih mengubah namanya menjadi Christiaan Han demi mendapatkan status persamaan hak dengan orang Eropa.

Pengingkaran ini membuatnya tampak seperti potret Malin Kundang di abad ke-20, di mana penolakan terhadap ibu kandung setali tiga uang dengan sikap mengingkari kebudayaan aslinya.

Konflik batin dan sosial dalam Salah Asuhan menemukan relevansi terbaru di era sekarang ketika kebudayaan asing semakin nyata menghegemoni masyarakat.

Hari ini, generasi muda tidak perlu dikirim secara fisik ke sekolah Belanda untuk menjadi seperti Hanafi, karena melalui handphone dalam genggaman, infiltrasi budaya masuk begitu masif.

Fenomena kemunculan bahasa campuran yang kurang tepat pada tempatnya sering kali bukan sekadar kebutuhan komunikasi, melainkan upaya mencari validasi agar terlihat lebih intelektual dan berkelas tinggi mirip dengan Hanafi yang sengaja mematah-matahkan lidahnya saat berbahasa Melayu.

Di sisi lain, terdapat kecenderungan di mana banyak anak muda merasa asing atau malu dengan tradisi lokalnya sendiri, namun sangat fasih meniru gaya hidup luar, bahkan kerap menerapkan standar ganda di media sosial dengan mengukur ketinggian derajat seseorang hanya berdasarkan estetika modernitas semu.

Abdoel Moeis sendiri pun menjelaskan bahwa novel ini ditulis untuk menjaga agar pemuda-pemuda yang mendapat pendidikan modern tetap memiliki sifat dan jiwa Timur.

Penulis (Abdoel Moeis) tidak berniat menghina bangsa mana pun, melainkan mengkritik tindakan kebarat-baratan yang kebablasan hingga melupakan akar budaya sendiri.

Aspek ini juga terlihat jelas melalui tragedi perkawinan campuran antara Hanafi dan Corrie du Bussee yang hancur akibat ego budaya, pengucilan sosial, serta hilangnya rasa saling menghormati ketika api berahi mulai mendingin.

Hubungan yang dibangun atas dasar rasa silau terhadap identitas modern pasangan, sebagaimana obsesi Hanafi kepada Corrie demi validasi sosial, terbukti rentan runtuh ketika dihadapkan pada realitas kehidupan yang sesungguhnya.

Pada akhirnya, novel ini memberikan kritik implisit bahwa pendidikan yang salah arah pendidikan yang hanya mencerdaskan otak tetapi mencabut individu dari akar budaya dan lingkungan asalnya adalah sebuah kegagalan pengasuhan.

Hanafi bukanlah korban dari ilmu pengetahuan modern itu sendiri, melainkan korban dari ketidakmampuannya menyaring dan memosisikan diri di tengah pusaran arus zaman. Bagi masyarakat yang hidup di era transformasi digital dan perubahan kurikulum pendidikan saat ini, Salah Asuhan menjadi sebuah alarm keras.

Menjadi modern, menguasai teknologi, dan berwawasan global adalah sebuah keharusan, namun melupakan identitas dan merendahkan tradisi sendiri adalah sebuah tragedi kemanusiaan yang berujung pada kehancuran batin.

 

Ditulis oleh : Ervina Damayanti Mahasiswa Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Pos terkait

Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari lensabanten.co.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.