Ketika Keputusasaan Mengubah Cara Pandang dan Keyakinan Seseorang: Sebuah Refleksi dari Cerpen Mbah Mar

(Sumber Foto: https://mojokstore.com/product/konvensi-gus-mus/)

Di media sosial, kita sering melihat orang-orang berpendidikan tinggi mengagungkan rasionalitas dan mengkritik hal-hal mistis.

LENSABANTEN.CO.ID — Namun, apa yang terjadi jika hidup menghantam mereka dengan cobaan yang tak masuk akal? Ironi dan kerapuhan psikologis seperti inilah yang digambarkan secara apik oleh A. Mustofa Bisri dalam cerpennya yang berjudul Mbah Mar melalui tokoh Martopo.

Ironi Martopo dalam Cerpen Mbah Mar Karya A. Mustofa Bisri

Bacaan Lainnya

Tokoh utama dalam cerpen ini adalah Martopo, seorang mantan guru bahasa Inggris sekaligus mantan anggota dewan yang dikenal kritis, rasional, dan berani menyuarakan pendapat.

Ia selalu mengkritik berbagai praktik yang dianggap tidak sesuai dengan ajaran agama maupun akal sehat, termasuk kebiasaan masyarakat yang lebih percaya kepada dukun atau orang pintar daripada tenaga medis. Bagi Martopo, kemajuan seharusnya membuat manusia semakin rasional.

Ia bahkan mempertanyakan mengapa masyarakat modern masih menggantungkan harapan pada praktik-praktik yang sulit dijelaskan secara ilmiah.

Ketika Keputusasaan Meruntuhkan Idealisme

Ketika keluarganya dihantam oleh cobaan yang bertubi-tubi, prinsip idealisme yang selama ini ia pegang mulai goyah.

Anak-anaknya terjerumus ke dalam jalan hidup yang membuatnya sangat terpukul. Istrinya mengalami gangguan kejiwaan yang tidak kunjung membaik meskipun sudah dibawa berobat ke berbagai dokter dan psikiater.

Pada titik inilah Martopo mengalami krisis. Bukan karena ia tiba-tiba berubah menjadi orang yang tidak rasional, melainkan karena ia sedang berhadapan dengan keputusasaan.

Ketika berbagai ikhtiar yang dianggap masuk akal tidak juga membuahkan hasil, seseorang sering kali mencari harapan di tempat lain. Dalam situasi seperti itu, harapan sekecil apapun selalu menjadi sesuatu yang sangat berharga untuk dipertahankan.

Martopo yang dahulu lantang mengkritik praktik-praktik mistis akhirnya mendatangi orang pintar. Bahkan, ia menjadi penjaga makam keramat yang dulu mungkin akan ia kritik habis-habisan.

Hal ini menunjukkan bahwa perubahan keyakinan seseorang tidak selalu berawal dari pergeseran cara berpikir, melainkan seringkali dipicu oleh tekanan hidup yang mendorongnya mencari solusi di luar prinsip-prinsip yang selama ini diyakini.

Menghargai Kerapuhan Manusia

Cerpen Mbah Mar Karya A. Mustofa Bisri ini menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk yang rapuh. Kita sering menilai orang lain dari luar tanpa benar-benar memahami beban yang mereka tanggung.

Mudah mengatakan “Tetaplah konsisten pada prinsip” ketika hidup sedang baik-baik saja.

Namun ketika keluarga, kesehatan, dan masa depan dipertaruhkan, konsisten pada prinsip menjadi sesuatu yang jauh lebih sulit untuk dijalani.

Fenomena yang dialami Martopo sesungguhnya tidak jauh berbeda dari realitas masyarakat saat ini. Di tengah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, masih banyak orang berpendidikan yang mencari pengobatan alternatif, ramalan, atau berbagai praktik spiritual ketika menghadapi persoalan hidup yang berat.

Hal ini tidak dapat dinilai sebagai bentuk penolakan terhadapan rasionalitas, melainkan mencerminkan kebutuhan manusia pada harapan ketika berbagai ikhtiar yang dianggap masuk akal tidak memeberikan jawaban.

Melalui tokoh Martopo, Gus Mus seolah mengingatkan bahwa manusia tidak dapat dipahami hanya melalui label “rasional” atau “irasional”.

Di balik setiap pilihan dan keputusan yang tampak ganjil atau bertentangan dengan prinsip sebelumnya, sering kali tersimpan ketakutan, kekecewaan, dan keputusasaan yang tidak terlihat oleh orang lain.

Pada akhirnya, Cerpen Mbah Mar bukan hanya sekedar menceritakan kisah tentang seorang mantan guru bahasa Inggris sekaligus mantan anggota dewan yang beralih menjadi penjaga makam keramat. Cerpen ini merupakan refleksi tentang kompleksitas manusia dalam menghadapi tekanan hidup.

Seseorang dapat memegang teguh idealismenya hari ini, tetapi belum tentu tetap sama ketika berhadapan dengan ujian yang mengguncang keyakinannya.

Karena itu, sebelum menghakimi perubahan sikap seseorang, mungkin ada baiknya kita perlu bertanya pada diri sendiri. Jika berada dalam situasi yang sama, apakah kita benar-benar akan mengambil tindakan yang berbeda?

Ditulis oleh : Septhiani Khansa, Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 

Septhiani Khansa
Septhiani Khansa

Pos terkait

Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari lensabanten.co.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.