Novel “Ronggeng Dukuh Paruk” adalah novel yang ditulis oleh sastrawan Indonesia bernama Ahmad Tohari. Ahmad Tohari merupakan kelahiran 13 juni 1948 di Tinggarja, Ia dikenal melalui karya-karyanya.
LENSABANTEN.CO.ID — Salah satu karyanya yang terkenal adalah novel “Ronggeng Dukuh Paruk.” Novel ini menggambarkan kehidupan masyarakat Dukuh Paruk yang hidup dengan keterisolasian dan kemiskinan.
Selain itu, apakah potret persoalan yang sangat menonjol dari novel ini? Persoalan yang sangat menonjol, bahkan sangat memprihatinkan dalam novel “Ronggeng Dukuh Paruk,” adalah keterbelakangan pendidikan para masyarakat Dukuh Paruk.
Dalam novel ini, penulis ingin menunjukkan bahwa karena keterbelakangan pendidikan masyarakat Dukuh Paruk membuat mereka sering dipandang rendah oleh masyarakat di luar desa tersebut.
Banyak yang menganggap masyarakat Dukuh Paruk bodoh dan selalu tertinggal dalam segala hal. Masyarakat Dukuh Paruk ini, lebih mementingkan memelihara adat istiadat yang dianutnya dari leluhur-leluhur mereka.
Mereka percaya bahwa adat istiadat harus terus diwariskan untuk menjaga desa Dukuh Paruk tetap aman.
Akibat terlalu mementingkan adat istiadat tersebut tanpa mementingkan hal lain demi kesejahteraan desa, masyarakat Dukuh Paruk memiliki pengetahuan yang terbatas dan sulit mengikuti perkembangan zaman.
Selain itu, keterbelakangan pendidikan ini juga berdampak pada pola pikir masyarakat Dukuh Paruk.
Dapat dilihat bahwa rendahnya pendidikan dapat membuat masyarakat mudah menerima sesuatu yang dikatakan orang lain tanpa berpikir panjang mengenai akibat dari hal tersebut pada masa depan.
Tradisi Ronggeng yang selalu dijalankan oleh masyarakat Dukuh Paruk dianggap sebagai hal yang wajar dan harus dipertahankan. Memang, kita perlu memelihara kebudayaan dengan sangat baik.
Namun, selain kebudayaan yang harus dipelihara, kita juga perlu menyeimbangkannya dengan pendidikan. Pendidikan sangat penting dalam membentuk cara berpikir yang lebih luas agar masyarakat mampu mengikuti perkembangan zaman yang terus berkembang.
Dalam novel “Ronggeng Dukuh Paruk,” penulis menghadirkan tokoh Rasus yang bertujuan menggambarkan simbol kesadaran dan perubahan yang terjadi pada salah satu masyarakat Dukuh Paruk.
Rasus berani mengambil langkah untuk mengubah pola pikir dan cara hidupnya dengan keluar dari desa untuk menambah wawasan yang lebih luas.
Tokoh Rasus menunjukkan bahwa pengetahuan dapat dijadikan jalan untuk keluar dari keterbelakangan.
Dari penjelasan diatas mengenai novel “Ronggeng Dukuh Paruk,” dapat disimpulkan bahwa penulis ingin memperlihatkan dampak nyata dari rendahnya pendidikan yang terjadi dalam novel tersebut.
Pendidikan bukan hanya berbicara tentang sekolah, tetapi juga tentang bagaimana seseorang mampu memahami dan menghadapi masalah kehidupan dengan pola pikir yang lebih luas serta bijak dalam mengambil keputusan.
Pesan yang terdapat dalam novel “Ronggeng Dukuh Paruk” sangat relevan karena pendidikan menjadi kunci kemajuan masyarakat yang masih berlaku hingga saat ini.
Menurut saya, Ahmad Tohari berhasil menggambarkan bahwa kemiskinan dan keterbelakangan pendidikan dapat menjadi penghambat kemajuan suatu masyarakat.
Melalui kehidupan masyarakat Dukuh Paruk, pembaca diajak untuk menyadari bahwa pendidikan memiliki peran penting dalam membuka wawasan dan mengubah cara pandang seseorang terhadap kehidupan.
Ditulis oleh : Indana Lu’luisy Syafa’ah, Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia










